Pelarian

Pelarian
Rumah Nek Imah


__ADS_3

Niah terus berlari menembus pekatnya malam, kakinya yang telanjang berdarah-darah tertusuk kerikil dan ranting jalanan,ia tak peduli lagi dengan kondisi tubuhnya yang kelelahan terus berlari. Perutnya yang keroncongan tak terasa dikalahkan oleh rasa takut tertangkap kembali, ia yakin tak akan selamat jika kali ini ia tertangkap.


Malam semakin larut tampaknya pemuda yang mengejarnya tak mampu menemukannya. Ia berinisiatip untuk masuk ke sebuah rumah peduduk setelah hampir setengah jam bersembunyi di semak-semak taman kota. Tubuhnya yang lemah mengetuk pintu rumah kayu sederhana bercat oranye itu. lama tak ada respon karena memang malam sudah sangat larut. Niah terus mengetuk pintu hingga terdengar suara kaki menginjak papan semakin mendekat.


Seorang wanita tua terlihat heran melihat penampilan Niah, baju dengan noda darah tentu mengundang kecurigaan si empunya rumah , dengan tubuh gemetar ia memohon kepada wanita tua itu untuk menampungnya malam ini. “ tolong aku nek…seseorang hendak membunuhku” ucap Niah dengan suara bergetar dan parau, angin malam yang semakin dingin menusuk kulitnya yang hanya memakai baju yang dipakainya sejak di hotel , rasanya ia akan pingsan andaikan wanita tua itu tidak segera memapahnya masuk ke dalam rumah.


Rupanya wanita itu hanya tinggal dengan kedua cucunya, seorang cucu laki-laki sekitar duabelas tahunan dan cucu perempuan yang mulai beranjak dewasa namun ia menderita tuna rungu.


Wanita tua itu segera membimbing Niah ke kamarnya meskipun masih kelihatan bingung melihat kondisi Niah yang tiba-tiba datang di tengah malam dengan noda darah di bajunya.


Tanpa banyak bertanya wanita tua itu menyelimuti tubuh Niah yang menggigil kedinginan dan juga kelaparan. Ia menyuruh cucu perempuannya untuk membuatkan penganan kecil buat Niah setelah menyuapi Niah dengan sedikit Nasi dan telur dadar sisa makan malam mereka.


 Tak lama berselang , cucu perempuannya datang membawakan beberapa potong pisang rebus dan teh hangat. Niah menikmati semua itu tanpa rasa sungkan karena perutnya yag kerocongan sedari tadi menuntut haknya. Rasa lelahnya sedikit terobati setelah menikmati teh dan pisang rebus itu .

__ADS_1


“ Terimakasih nek…karena mau menampungku di sini dan memberikanku makanan” ucap Niah sambil mencium punggung tangan wanita tua itu.


“Alhamdulillah nak, masih ada sedikit makanan yang tersisa, mungkin memang ini rejeki untukmu, karena biasanya cucuku menghabiskan semua  makan malam” ucap wanita itu sambil tersenyum ke arah Niah.


“Ini ada baju ganti , mudah-mudahan cocok…ini adalah baju peninggalan anakku yang telah tiada lima tahun lalu” ucap wanita itu dengan bibir bergetar terlihat embun di sudut matanya sambil mengusap-ngusap baju yang diberikannya kepada Niah.


“Terimakasih nek” Niah memeluk wanita itu dengan perasaan haru yang membuncah di dadanya, dia bersyukur mendapatkan tempat malam ini, ia tidak tau kemana lagi ia akan pergi esok harinya. Niah yakin suruhan Ninis tidak akan berhenti mengikutinya, pasti Ninis akan berusaha mencegahnya untuk melapor polisi.


Setelah membersihkan dirinya yang sangat gerah Niah mengganti bajunya, rasa lelahnya membimbingnya untuk segera berbaring di dipan wanita tua yang biasa dipangil nek Imah.


Niah beranjak dari tempat tidurnya, namun langkahnya terhenti melihat wanita tua itu tengah melaksanakan sholat, Niah tidak tau sholat apa yan ditunaikannya karena jarum jam menunjukkan pukul Sembilan pagi. Niah baru tau kalau ada sholat di waktu itu, yang Niah tau sholat itu lima kali sehari-semalam walaupun Niah tak pernah mengerjakannya.


Niah mengurungkan niatnya melangkah keluar dari kamar, ia memperhatikan wanita itu sholat degan sangat khusyu. Ada rasa sejuk di hatinya menyaksikan pemandangan itu , bukankah selama ini ia begitu jauh dari Tuhan?  Bukankah selama ini ia hidup tanpa pernah peduli dengan ibadah?. Ada rasa sesal yang bergelayut di hatinya, apakah Tuhan menghukumnya saat ini karena tidak pernah peduli denganNya? . seketika pertanyaan-pertanyaan itu muncul  berputar-putar di kepalanya.

__ADS_1


Seusai sholat nek Imah mendekati Niah, sambil tersenyum mengelus kepala Niah yang menunduk tertegun memainkan kakinya seperti yang biasa ia lakukan saat sedih. Diluar hujan gerimis menambah dingin suasana yang sudah beranjak siang. “Nek…ajari aku sholat yah” ucap Niah tiba-tiba .


Nek Imah tersenyum mendengar keinginan wanita muda di sampingnyan itu, ada rasa syukur yang menyelinap masuk ke dalam kalbunya , meskipun ia bukan siapa-siapa dan bahkan nek Imah tak tau menahu tentang wanita muda itu tetap saja ia merasa bersyukur. Setidaknya keinginannya untuk belajar sholat menandakan bahwa ia bukan orang yang jahat.


Nek Imah mengajari Niah sholat degan telaten, walaupun dengan bacaan yang terbata-bata bekal dari guru agamanya waktu masih sekolah Niah berusaha untuk tetap melakukannya, ia memulai dengan melakukan sholat duhur, ada rasa yang tak pernah ia rasakan usai melaksanakan sholat saat itu, seolah tetesan embun sejuk membasahi hatinya yang gersang , ketenangan ia rasakan menyelimuti perasaannnya rasa yang selama ini ia rindukan hadir di hatinya. Ia tiba-tiba mengingat semua dosa yang telah ia lakukan, ia juga  rindu dengan mama dan papanya, entah bagaimana keadaan mereka sekarang. Bulir-bulir bening berjatuhan membasahi mukena putih yang dipakainya .


Karena tubuhnya masih terasa sangat lelah Niah kembali menginap di rumah nek Imah, tentu dengan seijin wanita tua itu, ia diperlakukan dengan sangat baik dan penuh kasih sayang bahkan nek Imah menganggap Niah seperti anak sendiri.


 Esok harinya menjelang sore ia pamit pada nek Imah, ia sangat berterimakasih padanya karena telah menyelamatkan hidupnya, nek Imah bahkan memberinya sedikit uang untuk ongkos, satu tujuannya saat ini adalah rumah Anita sahabatnya. Ia telah menghubunginya dan Anita sangat senang mendengar Niah baik-baik saja, padahal Anita sempat berfikiran buruk terhadap sahabatnya itu.


Anak buah Ninis masih terus mencari keberadaan Niah, mereka menyusuri semua tempat-tempat yang memungkinkan untuk sembunyi. Mereka mencari Niah ke taman kota karena di situlah tempat terakhir mereka kehilangan jejak Niah. Dari jauh mereka melihat sosok Niah berjalan keluar sebuah rumah panggung oranye dengan memakai baju gamis terusan berwarna abu-abu, awalnya mereka tidak mengenalinya tapi setelah diteliti lebih dekat mereka yakin itu adalah Niah, namun mereka tidak berani langsung mencegat Niah karena Niah berada di keramain sepertinya Niah akan naik kendaraan umum.


Mereka terus mengikuti  mobil yang di tumpangi Niah dan mencari kesempatan untuk segera menangkapnya dan menyerahkannya pada Ninis bos wanitanya itu. Niah turun diperempatan jalan menuju rumah Anita , hari sudah semakin gelap jalanan mulai sepi, ketiga pemuda yang mengikuti Niah bersiap-siap untuk mencegatnya .

__ADS_1


Niah berjalan di lorong menuju perumahan dengan perasaan was-was, ia menyadari bahwa ada yang mengikuti langkahnya, karena sejak SMA ia sering ke rumah Anita makanya ia tau betul kalau disekitar perumahan itu ada rumah kosong tak berpenghuni, ia mempercepat langkahnya dan menghilang dibelokan menuju rumah kosong itu.


__ADS_2