Pelarian

Pelarian
Mempersiapkan Pernikahan (2)


__ADS_3

"Nah, ke pojok sana yuk, ada baju pengantin yang menurutku cocok banget dengan kamu"


Ira lalu beranjak ketempat yang ia maksud. Ia mengeluarkan 3 pilihan baju dari lemari bajunya.


"Kamu coba ini dulu deh, trus kamu tanya ke Kian, ya, aku tunggu di ruang sebelah" kata Ira. Lalu ia beranjak pergi meninggalkan Nadine.


Nadine mengiyakan. Ia lalu mencoba salah satu baju pengantin yang paling ia suka. Ia mencobanya. Setelah itu ia pun keluar dari ruangan tersebut. Saat keluar, Nadine mendapati Kian sedang berbincang dengan seorang wanita. Bagi Nadine, wanita tersebut cantik bak model.


Ekspresi sumringah nampak jelas di wajah wanita itu saat berbincang dengan Kian. Mata wanita itu pun nampak menatap Kian dalam. Dari sini, Nadine paham, wanita itu menyukai Kian. Lalu bagaimana dengan Kian? Ia nampak biasa saja. Tak ada ekspresi bahagia nan sumringah di wajah Kian. Tapi Nadine memilih tak peduli dengan situasi tersebut.


"Ehem.." Nadine berdehem. Sontak Kian menoleh ke asal suara. Ia tak bergeming, sebentar. Terpesona dengan Nadine? Tentu saja, Kian terpana dengan calon istrinya itu.


"Aku suka ini" kata Nadine. Perkataan Nadine menyadarkan Kian dari kekagumannya pada Nadine.


"Eh..oh..iya, aku juga suka, cocok buat kamu, cantik" ucap Kian, terbata. Senyum masih menempel diwajahnya. Ini adalah kali pertama Kian melihat Nadine berpenampilan feminim. Karena di hari hari biasa, Nadine berpenampilan casual, pakai kaos, celana jeans, sandal gunung, dan topi di kepalanya. Ya, sesantai itu, secuek itu, penampilan Nadine.


"Ya udah, aku bilang ke Ira dulu" kata Nadine. Ia kembali masuk ke ruangan sebelumnya untuk menemui Ira.


"Dia calon istriku, Rianti" Kian mengenalkan Nadine pada wanita itu, yang adalah Rianti, mantan kekasih Kian.


"Seharusnya kamu dapat yang lebih baik dari aku, bukan malah yang seperti itu, standard banget" kata Rianti.


"Bagiku, dia yang terbaik untukku, tentu saja" puji Kian.


"Hadeh, bucin detected" cibir Rianti. Kian tertawa.


"Iya, aku cinta banget sama dia," Ungkap Kian.


"Tapi dia nggak cinta sama kamu, ya kan?" Tebak Rianti.


"Belum, mungkin sekarang belum, tapi aku yakin dia akan memiliki perasaan yang sama denganku, dan aku siap bersabar sampai hal itu terjadi" kata Kian.


"Din, bucin beneran" Rianti merengut. Kian tertawa lagi.


"Kian, kalau kamu mau kembali ke aku, kamu nggak perlu merasakan pahitnya cinta bertepuk sebelah tangan. Aku siap memberikan cinta yang lebih besar buat kamu."


"Kita sudah jadi masa lalu, Ri"


"Aku masih cinta sama kamu, Yan" Rianti menggamit tangan Kian. Namun Kian menarik tangannya.


"Maaf, Ri, jangan bertindak berlebihan" Kian mengingatkan. Rianti menghela nafas, berkali-kali. Mereka hening, tak ada pembicaraan lagi. Kian benar benar malas jika harus membuka memori masalalunya dulu. Ia ingin segera pergi menjauh dari Rianti.


"Udah?" Tanya Kian pada Nadine yang tiba-tiba muncul di dekat mereka. Nadine mengangguk.


"Ayo, kita harus pergi ke tempat lain" ajak Kian. Saat hendak beranjak, Rianti menarik tangan Kian.

__ADS_1


"Yan, kalau cintamu tak kunjung berbalas, datanglah padaku, dengan senang hati aku menerimamu" ujar Rianti. Tak ada jawaban dari Kian. Ia mengikuti langkah Nadine yang berjalan lebih dulu.


Setelah seatbell terpasang semua, Kian lalu melajukan mobilnya. Ia akan mengajak Nadine memesan undangan pernikahan.


"Tadi itu Rianti, dia man...."


"Aku nggak peduli" pungkas Nadine. Sontak kian menoleh ke arah Nadine. Terang saja, ekspresi Nadine menunjukkan keseriusan. Kian sadar, Nadine bahkan tak peduli dengan segala hal yang terkait dengannya.


"Oya, aku nanti turun di perempatan depan aja,"


"Loh kamu nggak ikut ke...."


"Nggak, aku mau ke panti. Sudah lama aku tidak kesana,"


"Ya sudah aku antar ke sana" kata Kian. Tak ada jawaban dari Nadine. Ia menekuni gawainya.


"Ini lokasi pantinya," Nadine meletakkan gawainya di dekat Kian. Nadine sudah mensetting google Map untuk menuju ke panti tersebut.


Sebelum tiba di panti asuhan, Kian menepikan mobilnya di sebuah minimarket. Ia membeli sembako. Tak lupa ia membeli camilan juga air minum kemasan untuk Nadine. Kian ingat, Nadine belum minum sama sekali sejak di butik tadi.


Selesai membayar, Kian memenuhi bagasi mobilnya dengan sembako. Kemudian ia memberikan air minum serta camilan pada Nadine.


"Ini buat kamu" kata Kian.


"Oh makasih" ujar Nadine. Nadine segera meneguk air minum yang diberikan Kian. Seketika rasa segar menjalar di tenggorokannya.


Di panti asuhan kasih ibu, Nadine bertemu dengan Farida, pemilik sekaligus pengasuh panti. Kian mengekori Nadine.


"Assalamu'alaikum, Bu" sapa Nadine.


"Wa'alaikumsalam, sama siapa, Nad?" Tanya Farida tanpa basa basi. Maklum, ini kali pertama Nadine datang bersama seorang pria ke panti. Biasanya, Nadine datang sendiri atau bersama teman-teman wanitanya.


"Oh, ini, Bang Kian" Nadine mengenalkan.


"Saya Kian, Bu, calon suami Nadine" Kian menegaskan. Mendengar itu, sontak membuat Nadine melirik ke arah Kian tajam. Sedangkan Kian tersenyum penuh kemenangan.


"Oalaaaahh, mbak Nadine mau nikah, tho, selamat ya, mbak" ucap Farida. Nadine tak bergeming.


"InsyaAllah, makasih ya, Bu" Kian mengambil alih menjawab pertanyaan Farida. Ia sadar Nadine tak mungkin menjawab. Gadis itu nampak tengah menahan emosinya pada Kian.


"Kapan, nih? Undang saya ya" pinta Farida.


"InsyaAllah Minggu Minggu ini, siap Bu, kami pasti mengundang Ibu dan anak-anak panti" terang Kian. Ia melirik Nadine dan mendapati Nadine tengah menatapnya juga. Kian mengarahkan senyumnya pada Nadine. Namun Nadine melengos. Kian nyengir.


"Nad, gimana? Sudah selesai urusannya?" tanya Kian.

__ADS_1


"Eh oh iya, belum" Nadine bergegas merogoh tas kecilnya. Ia mengeluarkan sebuah amplop kemudian menyerahkannya pada Farida.


"Makasih banyak ya, mbak Nadine, juga Mas Kian, semoga dipermudah acara pernikahannya"


"Aamiin" Kian mengaminkan.


"Ya sudah kami pamit ya, Bu, assalamu'alaikum" pamit Kian. Ia lalu berjalan menuju tempat parkir mobilnya.


Sembari menunggu Nadine yang tengah menyapa para anak panti, Kian merogoh kantongnya dan mengambil sebatang rokok juga korek elektriknya yang berada di pintu mobil. Kian menyulut ujung rokoknya, ia sandarkan tubuhnya di badan mobil. Kian merokok sembari memandangi Nadine. Nadine begitu ceria. Tawanya lebar, saking lebarnya, menara Eiffel bisa masuk kesana, eh nggak lah. Hihihi. Ini adalah salah satu latar belakang Kian menaruh hati pada Nadine.


Setelah puas bertegur sapa, Nadine berpamitan pada Farida lalu berjalan menghampiri Kian.


"Aku nggak suka bau rokok" kata Nadine.


"Eh...apa?"


"Jangan ngerokok kalau sama aku" larang Nadine. Kian akhirnya paham. Ia lalu menjatuhkan rokoknya kemudian menginjaknya.


"Sudah, ayo berangkat" ajak Kian. Mereka berdua masuk ke dalam mobil.


"Eh kita makan aja dulu ya, kamu mau makan di mana?" Tanya Kian pada Nadine.


"Terserah" jawab Nadine ketus. Kian menghela nafasnya.


'Sampai kapan kamu seperti ini, Nad?' gumam Kian.


Kian melajukan mobilnya ke tempat makan langganannya. Kian sering makan di tempat ini. Konsep penataan warung makan ala ala garden, menjadi tempat yang tepat untuk relaksasi sejenak, bagi Kian. Tempat ini juga sering Kian jadikan sebagai tempat pertemuan dengan teman-teman organisasinya atau teman-teman kampusnya.


Kian segera memesan makanan dan minuman untuk Nadine. Kemudian ia mengajak Nadine duduk di gazebo.


"Aku ke kamar mandi dulu" Nadine pamit ke kamar mandi. Jadilah Kian menunggu makanan sendirian.


Kian mengedarkan pandangannya. Matanya menangkap sesosok pria yang dikenalnya. Sosok itu adalah Heru.


Heru berjalan cepat menuju Kian. Kedua tangan Heru mengepal sempurna. Kian berdiri bersiap siaga. Perasaannya tak enak. Dan benar saja, begitu sudah dekat, Heru melancarkan aksinya.


BUG.


***


Hai Authors, juga Readers.


Mohon dukungannya yak, dengan cara beri like, komen, juga rate, beri vote juga boleh, boleh banget malah.


Terima kasih banyak sebelumnya.

__ADS_1


😊


__ADS_2