Pelarian

Pelarian
Bimbang


__ADS_3

Hingga sore hari Anita dan Arya masih di rumah Niah, namun keduanya akhirnya bingung saat hendak pamit pulang, bagaimana harus ijin pada Ibu Ratih, haruskah Arya menginap ? tapi bagaimana caranya ?. Niah yang menyadari kegelisahan sahabatnya itu akhirnya mencoba berbicara pada mamanya “Mah…mas Arya pulang dulu yah, sebentar malam ada jadwal operasi di rumah sakit jadi tidak bisa menginap” ucap Niah sangat berhati-harti.


“lho kok…masa pertama kali ke rumah mertua tidak menginap?” jawab Ibu Ratih dengan wajah kecewa.


“Sudah terlanjur janji sama pasien mah…kalau di tunda bisa membahayakan nyawa pasien” ucap dokter Arya kemudian.


“Sudahlah kalau begitu , padahal mamah masih kangen sama anak mamah ini” bu Ratih membelai pipi Niah penuh kasih sayang.


“Niah nginap di sini saja mah” jawab Niah cepat takut kalau mamahnya menyuruhnya ikut lagi ke rumah dokter Arya.


“Lho…masa suami mau kerja kamu tidak mengurusnya, tidak boleh kayak begitu Niah” ucapannya membuat semuanya jadi  bingung. Mereka terperangkap dengan sandiwara yang mereka buat sendiri.


“tidak apa-apa mah…kan Niah masih kangen sama mamah, biar Niah nginap di sini dulu beberapa hari menemani mamah” Ibu Ratih menatap wajah dokter Arya, ada keraguan di matanya.


“Lagi pula, aku ada tugas di luar kota seminggu ini, jadi aku titip Niah di sini yah mah” akhirnya Bu Ratih setuju membiarkan Niah menginap di Rumah itu di iringi bunyi nafas kelegaan dari semua yang ada di ruangan itu.


Sepulang dari rumah Niah , Anita terus menatap kakaknya, ia sama sekali tak mengerti kenapa kakaknya bertindak seperti itu.


“Kak… kakak tau resiko yang kakak ambil dari kebohongan ini?” Tanya Niah denga suara sedikit meninggi.


“Aku tak punya pilihan lain Nit, kalau aku mengecewakan mamahnya Niah itu bisa berakibat fatal, apakah kamu tega melihat Niah menanggung kesedihan lagi?” jawab dokter Arya.

__ADS_1


“Tapi kak…seminggu ini kita mungkin bisa berbohong, tapi bagaimana selanjutnya?” Tanya Anita dengan wajah muram


“Itulah yang aku pikirkan Nit” terdengar tarikan nafas dokter Arya sangat berat menandakan kebimbangan hatinya.


“Sudahlah nanti aku pikirkan caranya” ucap dokter Arya sambil menghentikan laju mobilnya karena telah sampai di halaman rumahnya.


Sementara Anita terus memikirkan bagaimana jalan keluar yang harus di tempuh, Ia tau kakaknya tidak mencintai Niah, jika Anita menyuruhnya benar-benar menikahi Niah kakaknya tidak mungkin setuju, karena Ia tau kalau kakaknya itu telah mencintai gadis lain rekan seprofesinya, walau tidak menjalani yang namanya pacaran tapi mendengar kakaknya sering memuji  rekannya yang bernama dokter Pipit itu Anita yakin kakaknya telah jatuh cinta.


Di kamarnya Arya menghempaskan diri di kasur miliknya, perasaannya campur aduk, rasa kasihannya terhadap Niah telah membuatnya melakukan kebohongan besar yang mana pasti sulit untuk keluar dari kebohongan itu, benar kata pepatah “sekali engkau berbohong maka engkau akan terus berbohong untuk menutupi kebohongan sebelumnya” itulah yang terjadi padanya sekarang.


Awalnya ia berbohong telah menikah dengan Niah pada akhirnya ia berbohong lagi kalau malam ini ada jadwal operasi kemudian berbohong kalau ia akan keluar kota . dokter Arya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bayangan dokter Pipit berkelebat di depan matanya “Gadis itu sangat manis, lesun pipinya terlihat manis saat ia tersenyum, selain itu ia juga termasuk dokter yang sangat berdedikasi di bidangnya, ia dokter ahli penyakit dalam yang manis” dokter Arya membayangkan wajah dokter Pipit yang begitu sering mengganggunya akhir –akhir ini.


“Astaghfirullah, tak seharusnya aku sepert ini” ia segera bangun dari tempat tidurnya kemudian ke kamar  mandi membersihkan diri kemudian berwudhu, ia ingat belum melaksanakan sholat isya.


“Bug” tiba –tiba ia menabrak seseorang akibat berjalan sambil terus menghayal, “Eh…maaf dok” sosok gadis berhijab pink lengkap dengan jubah dokternya terlihat tergagap meminta maaf, padahal dokter Arya yang menabraknya.


“oh…saya yang minta maaf dok, terlalu terburu-buru tadi jadi tidak sadar ada dokter di depanku” jantung dokter Arya berdegup menatap mata hitam gadis berlesung pipi itu, dia memang selalu membuat dokter Arya terpesona. Ia segera mengalihkan pandangannya dari gadis manis yang telah beberapa bulan ini selalu bertahta dipikirannya.


Dokter Pipit hanya tersenyum menimpali penjelasan dokter Arya, kemudian berlalu, sikapnya yang selalu tenang dan berwibawa itu yang membuat dokter Arya tertarik. Ia tak seperti gadis lain yang selalu mencari – cari perhatian pada dokter Arya. Ia gadis kalem dan sholeha persis seperti yang selama ini dokter Arya impikan, “Ah…pikiran ini” dokter Arya menepuk jidatnya saat menyadari gadis itu telah hilang dari pandangannya.


Suara pesan masuk dari android mengalihkan perhatiannya “Nak…mamah kangen, pulang jam berapa?” pesan itu menyadarkan dokter Arya akan janjinya pada Ibu Ratih untuk pulang selepas magrib, sengaja ia menjanjikan selepas magrib supaya ia bisa menjemput Anita di rumahnya dan menemaninya ke rumah Niah, tak elok rasanya jika ia datang sendiri ke sana tanpa ditemani adiknya.

__ADS_1


“Apa yang akan kakak katakan sampai di sana ?, apakah kakak akan kembali berbohong lagi?” pertanyaan Anita semakin membuat dokter Arya bingung, entah apa yang harus dikatakannya pada ibu Ratih nantinya, tidak mungkin juga ia terus berbohong, ia merasa berdosa pada wanita itu dan juga pada Niah, pasti Niah sangat tertekan tapi Arya merasa tak punya jalan lain selain berbohong saat itu.


Sesampainya di rumah Niah, dokter Arya disambut oleh ibu Ratih dengan hangat , bak seorang kekasih yang sudah lama merindukan pujaan hatinya, semua tersenyum menyaksikan tingkah ibu Ratih yang bermanja pada dokter Arya seakan ia menemukan anaknya yang telah lama hilang, padahal anaknya adalah Niah. Perasaann tidak enak hati memenuhi hati Niah melihat mamanya bertingkah seperti itu, Niah takut dokter Arya akan tersinggung dan marah akan hal itu.


Karena tak punya alasan untuk pulang terpaksa dokter Arya menginap di rumah Niah, dengan perjuangan yang cukup berat dokter Arya menunggui ibu Ratih tertidur kemudian dokter Arya ke kamar tamu untuk tidur, sementara Anita bersama Niah.


Pagi sekali mereka dikejutkan oleh seorang wanita yang menggebrak pagar depan rumah sambil teriak-teriak, seorang wanita paruh baya dengan penampilan glamour berteriak-teriak tidak jelas di depan pagar rumah Niah. Wanita itu Cuma memakai dres selutut berwarna putih, bibirnya begitu mencolok oleh gincu merah membara. Entah apa yang dikatkannya sehingga semua keluar rumah untuk melihatnya kecuali ibu ratih yang masih tertidur.


Niah mendekati wanita itu “ Ada apa bu ?, kenapa ibu teriak-teriak di depan rumah saya?” Tanya Niah dengan sopan untuk meredam sedikit amarahnya. Terlihat matanya berkilat-kilat menahan amarah yang memuncak seakan ingin menerkam Niah.


“Hei, jala**!...dasar perempuan tak tau malu , masih juga kau berani tampakkan batang hidungmu di sini” ucap wanita itu sambil terus mendorong pagar rumah Niah. Ia segera membuka pagar agar tak mengundang perhatian tetangga, namun karena wanita itu tak henti-hentinya berteriak –teriak dan terus mengumpat Niah dengan kata-kata yang tak pantas akhirnya para tetangga ikut menyaksikan kehebohan itu.


“Tenang bu…tenang, sebenarnya ini ada apa?” Tanya Arya yang ikut keluar mendengar kekacauan itu.


“Heh,kamu jangan ikut campur yah…ini bukan urusan kamu, saya berurusan dengan pala**r itu” ucapnya sambil menunjuk wajah Niah membuat Niah mundur bebrapa langkah ke belakang karena terkejut.


“ Ya…Allah ibu Amanda?!, ada apa bu, kenapa bisa ibu ada di sini?” ucapan Pak di membuat wanita yang disebut Ibu Amanda itu berhenti sejenak berteriak, ia menatap Pak Adi dengan dada yang naik turun menahan amarah.


“Seharusnya Pak Adi mendidik anak perempuan Pak Adi baik-baik, jangan sampai jadi pela**r” teriaknya pada pak Adi kemudian. Seketika wajah Niah berubah merah , rasa malu dan sedih kembali mengguncang perasaanya.


“Tenang bu, semua bisa dibicarakan baik-baik” ucap pak Adi berusaha untuk tenang.

__ADS_1


“Pokoknya aku tidak akan melepaskan anak bapak , aku akan menghancurkan hidupnya seperti ia menghancurkan hidupku” ucap wanita itu lagi sambil menatap tajam ke arah Niah.


 


__ADS_2