Pelarian

Pelarian
Malam Pertama 1


__ADS_3

Acara resepsi sudah selesai. Meskipun begitu, Kian masih nampak asyik berbincang dengan teman-temannya. Entah siapa, Nadine tak peduli. Badannya terasa amat letih, kakinya melemas. Siapa yang tidak lelah, jika harus berdiri hampir 3 jam untuk melayani tamu undangan.


Setelah Windi dan teman-teman komunitasnya pulang, Nadine berinisiatif untuk segera pergi ke kamar. Namun, sebelum itu, ia beranjak mendekati Kian dan teman-temannya.


Meskipun Nadine tidak menyukai Kian, tapi ia masih paham yang namanya tata krama. Ia merasa tak pantas jika begitu saja meninggalkan tamu undangan terlebih tamu tersebut adalah teman-teman suaminya yang harus ia jaga nama baiknya. Ini juga sebagai usaha Nadine menutupi kondisi hubungannya dengan Kian. Cukup keluarganya saja yang tahu soal ia yang tidak menyukai suaminya.


Lalu dengan langkah perlahan, Nadine berjalan mendekati Kian.


"Eh, istrinya Kian, sini gabung" ajak salah satu teman Kian. Kian sontak menoleh. Ia mendapati Nadine tengah berdiri disampingnya.


"Terima kasih, silakan dilanjutkan, saya pamit undur diri, duluan ya, Mas" pamit Nadine sembari menepuk lembut bahu Kian. Terkejut dengan perlakuan Nadine padanya, Kian sontak mematung. Hanya bagian kepalanya yang sanggup ia gerakkan turun naik. Kian shock.


Nadine lalu berjalan menuju kamarnya sambil menjinjing heelsnya. Sengaja ia melepas alas kakinya agar cepat sampai di salah satu kamar di hotel tersebut yang disediakan oleh WO untuknya juga Kian.


Nadine membuka pintu kamar. Suasana romantis terpampang di depan matanya. Harum aroma wangi nan lembut menyerang Indra perabanya.


"Hemmm...wangiii" gumam Nadine.


Nadine lalu bergegas membersihkan dirinya. Ia benar-benar ingin segera menenggelamkan tubuhnya di tempat tidur yang nampaknya terlihat empuk-empuk menggoda.

__ADS_1


Nadine mengenakan hot pant juga kaos oblong. Ia tidak terbiasa mengenakan baju tidur. Setelah itu, ia lalu merebahkan tubuhnya dengan sempurna di atas kasur. Tak lama, nafasnya mulai teratur. Nadine terlelap.


Sementara itu, hampir tengah malam, Kian baru masuk ke dalam kamar. Ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Nadine. Dan ketemu, Nadine tengah tertidur lelap dengan posisi hampir memenuhi kasur.


Kian menghampiri Nadine. Ia amati betul gadis yang sudah menjadi istrinya itu. Bibir Nadine yang tipis sedikit terbuka. Nampak kilauan air di sudut bibirnya. Kian tersenyum melihat pemandangan itu.


Kian lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Badannya terasa lengket sehingga Kian memutuskan untuk mandi.


Suara air di kamar mandi sukses membuat Nadine terbangun. Ia menghimpun kesadarannya. Menerka-nerka siapakah gerangan yang ada di dalam kamar mandi.


"Ah iya, aku kan udah nikah sama Kian, lupa" Nadine menepuk dahinya sendiri. Bisa-bisanya ia lupa kalau ia sudah menikah.


Kian lalu mengambil sajadah di ranselnya. Ia hamparkan mengikuti petunjuk arah kiblat yang terpampang di tembok kamar hotel. Kian melaksanakan sholat isya'.


Nadine masih memperhatikan aktivitas suaminya. Lamat-lamat, Nadine mendengar suara sesenggukan.


"Dia nangis? Ngapain? Masa' gitu doank udah nangis?" Batin Nadine lalu ia teringat dengan perlakuannya pada Kian selama ini.


"Apa aku udah keterlaluan, ya?" Batinnya lagi. Ia lalu berganti posisi. Kali ini Nadine duduk tegak. Ia melongokkan kepalanya ke bagian depan kasur. Di sana, nampak Kian tengah dalam posisi sujud dengan bahu yang bergerak naik turun.

__ADS_1


Sedikit lama, akhirnya Kian kembali duduk layaknya duduk tasyahud. Ia memberi salam lalu menengadahkan kedua tangannya. Ia berdo'a. Sesekali Kian nampak mengarahkan tangannya di sudut matanya. Kian menghapus sisa cairan bening di matanya. Ini bukan tangis sedih, melainkan tangis bahagia nan bersyukur tiada tara kepada Sang Maha Pencipta karena sudah menjodohkannya dengan gadis yang ia cintai sejak lama. Kian juga bersyukur karena acara pernikahannya berjalan dengan lancar dan banyak yang datang untuk mendo'akannya dan Nadine.


Nadine yang melihat pemandangan itu merasa tersentuh. Ini adalah kali pertama baginya melihat seorang pria menangis. Ia pernah membaca kalau laki-laki yang menangis di depan wanita itu menggambarkan perasaan pria yang mendalam pada si wanita. Tapi lagi-lagi Nadine menepis pikiran-pikiran baiknya tentang Kian. Ia bertekad tak akan mudah luluh dengan Kian. Karena dimatanya Kian hanyalah laki-laki brengsek yang pernah melecehkannya.


"Kenapa bangun?" Pertanyaan Kian membuyarkan fokus pikiran Nadine.


"Sudah sholat?" Tanya Kian lagi. Nadine menggeleng.


"Sholat, gih, setelah itu aku akan meminta imbalan karena sudah membantu teman-teman komunitasmu." Ujar Kian. Seketika Nadine menelan salivanya.


"duh, jangan bilang imbalannya 'begituan' " gumam Nadine. Ia lalu beranjak ke kamar mandi dengan diterpa rasa khawatir.


***


Hai, Readers, juga Authors. Maaf ya, baru bisa update sekarang. Lagi asyik bulet-buletin bakso, nih. 😄


Happy reading.


Jangan lupa like, dan komen yak. Terima kasih banyak.

__ADS_1


Salam terlove.


__ADS_2