Pelarian

Pelarian
Resepsi 2


__ADS_3

Setelah itu, prosesi resepsi sampai pada para tamu memberikan selamat pada pengantin. Satu-satu tamu undangan memberikan selamat pada Nadine juga Kian. Kian senang karena Nadine tak menekuk wajahnya seperti saat di akad tadi. Ia tersenyum, senyum, lagi, lagi, lagi, lalu berhenti.


"Hai, Nad, selamat ya" ujar Heru.


Nadine sempat terkejut dengan kehadiran Heru. Ia tidak mengundangnya tapi pria itu nyatanya berada di resepsi pernikahannya. Lalu siapa yang mengundang Heru?


Meskipun Nadine sudah move on dari Heru, mantan kekasihnya, tapi Nadine sama sekali tidak menginginkan Heru hadir di pernikahannya bahkan jika Heru ingin menjadi temannya sekalipun, tidak. Terlebih Heru pernah menimbulkan masalah baginya hingga berujung pada pernikahan yang tidak diinginkannya ini.


Bagi Nadine, masa lalu ya masa lalu. Ia hanya perlu mengambil hikmah atau pelajaran dari masa lalunya namun tidak untuk berteman dengan masa lalu.


"Jangan bilang bang Heru kesini untuk baku hantam sama mas Kian lagi." Gumam Nadine dalam hati. Karena seingat Nadine, terakhir kali mereka bertemu, mereka terlibat baku hantam.


Nadine lalu mengamati Heru dengan seksama. Ia mencari-cari ada tidaknya sinyal baku hantam yang mungkin terpancar di wajah ataupun tingkah Heru.


"Kayaknya, sih, nggak ada sinyal-sinyal baku hantam" lanjut Nadine.


Lalu, pikiran itu hilang manakala Nadine melihat Kian dan Heru saling berangkulan.


"Gue titip Nadine, ya, awas aja loe nggak bisa bikin dia bahagia, gue slepet celana, lo" kata Heru sembari menjabat tangan Kian.


"Siap, bosku" sahut Kian. Heru mengangguk. Matanya lalu beralih pada Nadine.


"Nad, kalau dia nyakitin kamu, kasih tahu aku, ya, aku akan datang ambil kamu dari dia" pinta Heru. Kian melotot.


"Nggak ah, makasih banyak, trauma aku," tolak Nadine. Ia teringat dengan istri Heru yang bar-bar. Gara-gara perbuatan istri Heru, Nadine sekarang di titik ini, menikah dengan laki-laki yang ia benci.


"Nggak, aku sudah resmi pisah dengan Ria, aku.." jelas Heru.


"Udah, sana sana, banyak yang antri, noh, lain kali aja ngobrolnya" usir Kian. Ia melihat antrian di belakang Heru mulai mengular.


"Oke, oke, bahagia ya, kalian" do'a Heru. Ia lalu beranjak meninggalkan Nadine dan Kian.


"Kamu yang ngundang dia?" Tanya Nadine. Kian mengangguk.


"Heru yang minta diundang, jadi ya aku undang" jelas Kian. Obrolan singkat itu berakhir. Mereka berdua kembali sibuk menyalami tamu yang ingin bersalaman dengan mereka.


Satu jam berlalu, ekspresi Nadine mulai berubah. Tadinya sumringah, sekarang nampak cemas. Ia tengah menunggu kedatangan teman-teman komunitasnya.


"Duh, mereka kemana ya?" Ujar Nadine samar tapi terdengar jelas ditelinga Kian.


"Siapa, Nad? Ada yang kamu tunggu?" Tanya Kian.


"Temen-temen komunitas, mereka kayaknya nggak dateng karena marah sama aku" Nadine merengut.


"Datang, aku yakin mereka bakal datang" Kian meyakinkan Nadine.


"Aku nggak yakin mereka bakal datang setelah apa yang sudah aku lakukan ke mereka" Nadine tertunduk lesu.


"Ini semua gara-gara kamu" imbuh Nadine sembari menatap Kian sinis. Kian hanya bisa menghela nafas melihat tingkah wanita yang amat ia cintai itu.

__ADS_1


Lagi-lagi, Kian memaklumi sikap Nadine yang masih tidak hangat padanya. Toh, sikap Nadine yang dingin padanya ini juga disebabkan ulahnya. Mungkin jika Kian tidak khilaf kala itu, Nadine tidak akan sedingin ini padanya. Kian menerima konsekuensi dari perbuatannya. Tapi, Kian yakin, ia akan bisa membuat Nadine berubah hangat padanya. Ia akan berusaha sekuat tenaga, begitu janjinya pada diri sendiri.


Kruuuuyuuk...


Kian menghentikan pikirannya. Fokusnya teralih pada sebuah suara perut. Bukan, bukan suara perutnya. Karena Kian tidak merasakan apapun terjadi di perutnya. Kian yakin suara itu berasal dari perut gadis di sebelahnya. Kian makin yakin saat melihat Nadine salah tingkah.


Nadine nampak menggigit bibirnya. Kian sempat mendapati Nadine meliriknya lalu segera mengalihkan pandangannya. Melirik lagi, lalu melengos lagi. Begitu yang dilakukan Nadine berkali-kali. Kian pun merasa gemas melihat tingkah Nadine.


"Bentar ya, aku ambil kue dan minum" Kian berinisiatif. Kian yakin Nadine tidak akan mengatakan padanya bahwa ia terserang lapar. Mengingat gadis itu masih jaga image di depannya.


Nadine merasa lega karena Kian beranjak pergi meskipun hanya sementara. Paling tidak ia punya sedikit waktu untuk menekan rasa malunya dikarenakan suara 'krucuk krucuk' dari perutnya. Nadine yakin pasti Kian mendengarnya.


"Pyuuhhh..." Gumam Nadine.


"Haloooooooooooooo" teriak sebuah suara menyapa Nadine yang masih berdiri di singgasana pelaminan.


"Ya ampun, Windiiiii" seru Nadine kegirangan.


"Aku bawa pasukan, lho" kata Winda yang kemudian diikuti oleh suara-suara sapa di belakang Winda.


"Kami dataaaaangggggg" kata teman-teman komunitas Nadine, kompak.


Melihat kedatangan orang-orang yang ditunggu-tunggu, Nadine tentu girang bukan kepalang. Beberapa kali ia melompat kecil saat berpelukan dengan teman komunitasnya, salah satunya Winda.


Tak ingin menyia-nyiakan momen, Nadine pun mengajak mereka untuk berfoto bareng. Nadine pun meminta tolong ke salah satu WO untuk membantu mewujudkan keinginannya


"KUKIIIIISSSSSSSS" kompak teman-teman Nadine.


"Makasih ya, sudah datang ke sini" kata Nadine.


"Sama-sama, kami makan dulu ya, Nad, laper" ujar salah satu dari mereka. Nadine pun mengangguk. Kemudian dengan lincah, Nadine menarik Windi.


"Aku pikir kalian nggak dateng, karena marah sama aku" kata Nadine.


"Marah?" Windi mengernyitkan alisnya.


"Gara-gara itu, lhoo, yang aku nggak bisa datang pas Hari H pertunjukan seni, sementara aku ketua panitianya" jelas Nadine.


"Ooooo... Yang itu, iya, tadinya kami sempat marah sama kamu, tapi nggak jadi" kata Windi. Nadine menunjukkan ekspresi penuh tanda tanya.


"Nggak jadi?"


"Iya, nggak jadi, kamu harus berterima kasih tuh sama suamimu, berkat bantuan acara kita sukses besar, Nad" ungkap Windi.


Nadine mematung mendengar penjelasan Windi.


"Eh, Bang Kian, bawa apa an, tu?" Sapa Windi pada Kian yang sudah berdiri di dekat Nadine sambil membawa sepiring kecil kue juga segelas air kemasan.


"Kue, kamu mau? Ambil sendiri, ya, di sana, ambil sesuka dan sebanyak yang kamu mau, ini buat Nadine" kata Kian sembari menyodorkannya pada Nadine. Nadine dengan sigap dan cepat, segera mengambil sepiring kue dari tangan Kian. Nadine segera melahap kue tersebut. Ya, dia benar-benar kelaparan.

__ADS_1


"Ciyeeeee....manis bener sih, Bang, baper akutuuuu" goda Windi. Kian tersenyum lebar. Nadine menginjak kaki Windi.


"Aduh, apa an sih, Nad, nggak usah salah tingkah, gitu deh, ciyeee" Windi menggoda membabi buta. Nadine melotot memberi kode.


"Nggak ngerti gue kode elo, ya udah gue gabung ke temen-temen dulu" pamit Windi. Ia lalu melangkahkan kakinya mendekati Kian.


"Selamat ya, Bang Kian, dan terima kasih banyak karena sudah membantu acara pertunjukan seni komunitas kami sehingga jadi sukses besar, dapet banyak dana, juga donatur, kami nggak bingung lagi soal dana kegiatan untuk anak-anak jalanan, dan lainnya" kata Windi.


"Iya sama-sama, kalau perlu bantuan lagi, bilang aku ya, insyaAllah aku bantu" jawab Kian. Windi mengangguk. Setelah berpamitan pada Kian, Windi pun beranjak pergi.


Karena tak ada tamu undangan yang ingin berjabat tangan sekaligus mendo'akan, Kian pun mengikuti jejak Nadine, untuk duduk di kursi singgasana. Ia mengamati Nadine yang sedang asyik menikmati kuenya.


"Kamu mau?" Tawar Nadine.


"Aku sudah, tadi" tolak Kian. Nadine mengangguk, lalu kembali hanyut ke dalam kenikmatan kue-kue yang ia makan. Memang benar, makan di kala lapar, rasanya nikmat bukan kepalang.


"By the way, makasih ya, sudah membantu acara komunitasku" ucap Nadine. Ia lalu meletakkan piring kue yang sudah kosong di samping tempat duduknya.


"Dan maaf karena aku malah menyalahkanmu" kata Nadine lalu menatap Kian, sekilas.


Kian mengangguk sembari menyunggingkan senyum. Seketika terbersit sebuah ide dari pikirannya.


"Terima kasih doank, nih, kan acaranya sukses besar, aku mau lebih donk" kata Kian. Sontak Nadine menoleh ke arah Kian. Ia mendapati Kian tengah tersenyum padanya.


Terkejut, tentu saja. Nadine terkejut bahwa Kian tidak ingin hanya mendapatkan ucapan terima kasih, melainkan lebih dari itu. Nadine menggigit bibirnya. Perasaannya jadi tak enak. Ia menebak-nebak kira-kira imbalan apa yang diinginkan Kian.


"Udah, Nad. Nggak usah dipikir sekarang, fokus ke acara ini dulu, setelah ini, aku akan mengatakan imbalan yang aku mau" kata Kian seraya tersenyum lebar.


***


Hai, Readers.


Makasih banyak sudah berkunjung ke sini. Mohon bantuan like, komen, dan rate-nya yak. Kalau berkenan, nge-vote juga boleh, senang sekali.


Buat Authors,


makasih juga kunjungannya yak.


please, tinggalkan jejak agar aku bisa mengunjungimu kembali.


salam terlove,


dari aku,


yang hari ini sibuk nyate.


Alhamdulillah...


😊

__ADS_1


__ADS_2