Pelarian

Pelarian
Kesempatan Kedua


__ADS_3

Setelah kemarin melakoni aktivitas yang melelahkan badan juga perasaannya. Maka hari ini Nadine memutuskan untuk rebahan sambil menonton drama korea bersama Windi. Namun bagi Windi, ini adalah momen mengupas kejadian semalam. Dari kemarin malam, Windi menahan rasa ingin tahunya yang menggelora.


"Nad, banyak bener camilan Lo, bagi gue donk, ya ya ya?" Tanya Windi sembari mencomot satu bungkus Snack kentang.


"Bagi? Bayar"


"Ah bodooo aahhhh" Windi tetap mengambil Snack Nadine. Ia lalu mencari posisi nyaman untuk menonton drama Korea bareng Nadine.


"Btw Nad, gue boleh tanya soal yang kemarin nggak, dari kemarin gue mendam kekepoan gue"


"Nggak usah bahas yang kemarin ah, gue males" kata Nadine.


"Yaaahhhh..." Windi kecewa. Tapi mau bagaimana, ia tak mungkin memaksa. Kalaupun dipaksa pun percuma, Nadine tidak akan cerita kalau memang ia tidak mau.


"Trus kita enaknya mau bahas apa nih?"


"Udah, fokus nonton aja, gue lagi malas ghibah," kata Nadine. Windi pun manggut-manggut.


"Oya, Nad, gue baru inget, ada temen gue mau minta tolong elo untuk foto produk usahanya. Gimana, elo bisanya kapan?" Tanya Windi.


Ya, selain kuliah, Nadine juga melakukan pekerjaan sampingan yakni sebagai fotografer dan desain grafis freelance. Nadine amat menyukai dua hal itu. Bahkan ia sempat menjadikan dua hal itu sebagai pilihan dalam memilih jurusan kuliah namun sayangnya apa yang disukai Nadine tidak direstui orangtuanya. Nadine pun akhirnya patuh, karena baginya, Ridho orangtua Ridho Allah. Nah loh, berat kan. Walhasil ia pun masuk ke jurusan pilihan ayahnya yakni berkuliah di jurusan matematika murni. Nah demi mengesampingkan rasa tidak sukanya pada jurusan yang dipilih orangtuanya, Nadine pun mencari pelarian yakni memilih terjun ke dua hal yang ia sukai itu.


"Boleh, nanti sore gue bisa"

__ADS_1


"Kata teman gue, berapa biaya menggunakan jasa lo?"


"Usaha temen Lo masih UMKM nggak, sih?" Tanya Nadine.


"Iya, masih. Emangnya kenapa? Fee-nya beda yak.


"Beda, kalau UMKM nggak pakek fee mah gue, alias gratis, nggak usah bayar"


"Lah koq gitu"


"Dah, anggap aja sebagai bentuk dukungan gue sama umkm, gue juga masih sama kan seperti temen Lo, sama sama masih merintis" Ujar Nadine. Windi berbinar-binar.


"Makasih ya, baek bener temen gue" Windi menowel Nadine yang langsung ditangkis Nadine.


"Kemana aje, Maemunah" kata Nadine. Windi nyengir.


"Mas Heru???" Ucap Nadine. Wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut dengan kehadiran Heru didepannya. Lama, sudah lama Heru tidak ke sini, kira-kira sebulan sebelum ia menikah.


"Aku mau membicarakan soal chatku kemarin malam?" Kata Heru. Nadine pun mengarahkan bola matanya ke atas. Ia mencoba mengingat-ingat. Dan ya, ia pun mengingat pesan yang Heru kirimkan padanya. Bahwa Heru memintanya untuk memutuskan Kian dan bersabar menunggu ia kembali ke Nadine.


"Aku boleh duduk?"


"Duduk aja, Mas" kata Nadine ketus. Heru pun duduk di kursi yang tersedia. Ia sempat menelan ludah namun terasa berat setelah mendengar jawaban ketus Nadine. Dari sini, ia sadar, apa yang ingin ia lakukan kali ini ke Nadine akan berjalan sulit.

__ADS_1


"Nad, aku mau kamu putus dari Kian, dia nggak baik untuk kamu" kata Heru buru buru.


"Lalu siapa yang baik untuk aku? Kamu? Tukang bohong gitu" telak Nadine.


"Bohong? Aku? Maksud kamu? Aku nggak pernah bohong sama kamu, Nad. Kamu tahu sendiri kan, waktu kita pacaran, aku nggak pernah bohong sama kamu"


"Kamu bohong, Mas. Istrimu sendiri yang membongkar kebohongan mu padaku" jelas Nadine. Seketika ekspresi kaget Heru terpancar jelas.


"Kamu bilang ke istrimu, kalau aku yang meminta untuk tetap menjalin hubungan dengan kamu meskipun kamu sudah menikah. Karena aku masih susah move on dari kamu yang mendadak menikah dengan istrimu itu. Bohong kamu, Mas, aku nggak pernah kayak gitu." Nadine menarik nafas dalam sebagai bekal untuk melanjutkan ucapan berikutnya.


"Kamu tahu sendiri kan, aku nggak suka dibohongi, jadi lebih baik hubungan pertemanan kita sampai di sini aja," lanjut Nadine.


"Nad, cuma satu kesalahan yang kulakukan, sanggup menutup mata kamh dari semua hal yang baik, manis, dan penuh cinta yang aku berikan ke kamu selama kita masih pacaran? Apakah kau tidak mengingatnya?"


"Tidak, aku malah mau membuangnya jauh-jauh" tegas Nadine.


"Nad, beri aku 1 kesempatan lagi, aku mohon Nad. Aku janji tidak akan bohong lagi ke kamu" Kata Heru. Nadine memegang sela dua matanya.


"Aku nggak bisa"


"Kalau kamu nggak ngasih aku kesempatan, berarti kamu adalah orang yang harus bertanggung jawab kalau akhirnya aku berpisah dengan istriku"


"Lah, koq gitu?"

__ADS_1


"Ah sepertinya kamu mulai melupakanku. Gara-gara Kian kan?" Tebak Heru. Nadine menepuk jidatnya.


"Tidak masalah, aku akan mengingatkannya lagi ke kamu. Ini, kamu ingat baik-baik, aku adalah tipe orang yang tidak mudah menyerah. Jadi mungkin aku akan melakukan apapun agar kamu mau memberikan kesempatan kedua ke aku. Termasuk jika usaha itu adalah harus berpisah dari istriku."


__ADS_2