
Setelah dari kos Nadine, Heru melajukan mobilnya menuju rumahnya sendiri, lalu bersih-bersih sebentar, mempersiapkan yang perlu dipersiapkan, guna menyambut kedatangan seseorang.
Selesai, ia kemudian pergi lagi. Namun kepergiannya kali ini menuju ke rumah Ria, istrinya. Ekspresi wajahnya menunjukkan kemarahan. Iya, Heru marah pada Ria yang telah berani-beraninya membuka semua kebohongan yang ia ciptakan demi membuat Nadine bertahan disisinya meskipun Nadine menganggapnya hanya sebagai teman.
Itu sudah cukup bagi Heru. Karena Heru memang membutuhkan itu. Tanpa kedekatannya dengan Nadine, ia tak akan tahan dengan pernikahannya bahkan sejak di hari pertama pernikahannya, Heru sudah kewalahan dengan sifat Ria yang bak sosialita.
Justru, Nadine adalah pelipur lara, PELARIAN yang indah dari rasa kecewanya pada istrinya. Iya, Heru menaruh rasa kecewa dengan pernikahannya. Belakangan, Ia menyesal karena memilih menikah dengan Ria daripada Nadine.
Tiba di rumah Ria, Heru lalu menuju kamar tidur. Ia mendapati Ria tengah tertidur lelap. Tanpa belas kasih, Heru membangunkan Ria dengan cara yang kasar. Ia goyang-goyang kan tubuh Ria dengan keras sembari bersuara keras. Tentu saja, hal ini membuat Ria terbangun.
"Heh bangun loe, cepet" seru Heru.
Ria mengerjapkan matanya.
"Ada apa, Mas?" Tanya Ria. Ia sedang berusaha bangun dan mengambil posisi duduk tidak sempurna. Ia masih berusaha mengumpulkan kesadarannya.
"Gue pernah bilang ke elo kalau jangan ikut campur urusan gue sama Nadine. Elo inget?" Tanya Heru. Ria mengangguk.
"Bagus, berarti elo juga inget kan konsekuensi yang bakal elo terima kalau elo ikut campur urusan gue sama Nadine?"
Ria mengangguk lagi.
"Jadi, gue mau pisah dari elo," Kata Heru dengan suara yang tak lantang lagi namun penuh penekanan. Sementara Ria, mulai merasakan air matanya berdesakan meminta keluar dari sarangnya. Ria menangis.
"A-aku...aku hamil, Mas" ungkap Ria disela tangisnya. Air matanya menderas.
__ADS_1
"Gue tahu, elo tenang aja, gue akan tetep tanggung jawab dengan anak yang elo kandung itu, meskipun kita sudah pisah nanti," kata Heru.
"Tapi kenapa, Mas?" Tanya Ria.
"Kamu bahkan belum mencoba untuk membalas perasaanku padamu." Lanjut Ria.
"Gue udah nyobak, sayangnya elo bikin gue ilfeel berkali-kali,"
"Elo asyik dengan bisnis Lo, dengan Genk sosialita Lo, dengan gaya hidup Lo,"
"Gue, mungkin cuma Lo anggap sebagai pemuas nafsu Lo, pajangan Lo," seru Heru.
Seketika, sekelebat momen Ria menolak permintaan Heru untuk menemaninya saat ia sakit, terpampang diingatannya. Ya, Ria memilih pergi arisan daripada merawat Heru yang sedang sakit. "Jangan manja kamu, Mas," itu kalimat yang Heru ingat betul.
"Lo,...." Heru menggantungkan kalimatnya.
Shit.
"Nadine jauh lebih baik dari Lo," jelas Heru menggebu. Ia tumpahkan semua kekecewaannya pada sifat Ria.
Heru tidak menyangka, kebersamaannya dengan Ria, tidak meninggalkan sedikitpun rasa suka bahkan rasa simpati pun tidak. Padahal, Heru sempat menduga perasaannya akan berubah pada Ria seiring berjalannya waktu seperti pepatah yang mengatakan witing tresno jalaran saka kulina hingga lama-lama ia pun bisa berhenti menjadikan Nadine sebagai PELARIANnya. Nyatanya? Sifat Ria membuat Heru memilih BERLARI ke Nadine lagi. Seringkali, berkali-kali, Heru jadi menginginkan Nadine lagi.
"Aku mau Mas, aku mau berusaha menjadi seperti Nadine, tapi tolong beri aku kesempatan, demi aku Mas, e tidak tidak tidak, maksudku demi anak dalam kandunganku"
Pinta Ria.
__ADS_1
"Sudahlah, sudah cukup 6 bulan ini, gue lelah, gue pergi," Heru meninggalkan Ria yang menangis tersedu.
***
Dari rumah Ria, Heru menuju angkringan langganannya. Ia ingin melepas penat dengan ngopi sejenak, menikmati suasana malam temaram, alunan musik tradisional.
Setelah memesan ngopi, Heru memilih duduk di samping Kian. Ya, ada Kian di sana yang nampak asyik dengan laptopnya.
"Gue pisah sama Ria, Gue mau balik sama Nadine," ucap Heru sesaat setelah mendudukkan pantatnya di tikar yang disediakan angkringan. Kian, mendengar nama Nadine disebut, sontak menoleh pada Heru.
"Elo gila ya," respon Kian. Alisnya mengkerut nyaris saling bertaut.
"Iya, gue gila, sejak ada Lo, Lo perusak zona nyaman gue,"
"Elo ambil perhatian orang-orang, elo ambil posisi gue, elo ambil proyek-proyek gue, dan sekarang elo mau ambil kekasih gue," lanjut Heru.
Tak ada respon dari Kian. Ia merasa tak perlu merespon karena ia sama sekali tidak melakukan apa yang dituduhkan Heru. Ia tak pernah berniat menjadikan dirinya sebagai dosen populer. Ia juga tak pernah berniat mengambil proyek-proyek penelitian dosen siapapun termasuk Heru. Karena ada seleksi ketat nan transparan dalam pemilihan proyek-proyek penelitian yang diajukan para dosen. Namun untuk yang terakhir, ia memang berniat untuk mendapatkan Nadine.
"Bisa nggak elo pergi dari persekitaran gue? Hah?"
"Bisa aja, tapi gue milih untuk tetap di sini, kalaupun gue pergi, gue pastikan bukan karena elo,"
"Oke, kalau gitu, gue bakal bikin elo pergi, baik pergi dari sekitar gue dan pergi dari Nadine" ancam Heru. Ia lalu menyeruput kopi pesanannya yang sudah tersaji rapi didepannya.
Kian hanya tersenyum menanggapi ancaman Heru. Lagi-lagi, ia yakin, Heru tidak akan bisa membuatnya pergi.
__ADS_1