
Mungkin hasrat dalam hati tak akan pernah terwujud, entah apa yang terpikirkan Niah saat ini, bahkan untuk melangkah pergi pun teramat susah, tak tahan rasanya menghadapi dunia ini, terlalu kejam dunia memperlakukannya.
Niah berlindung dibalik bilik kecil ukuran 2x 3 ditemani temaram lampu 5 watt berwarna kuning menggantung di sudut kiri atas kamar, disekeliling nya ada banyak sarang laba-laba, jelas terlihat bahwa kamar ini tidak penah sama sekali dibersihkan. Setiap sudutnya ada banyak kotoran cicak dan permukaannya penuh debu yg menempel, Niah mengintip keluar ada sedikit lubang kecil ah bukan sedikit tapi ada banyak lubang di kamar ini, terlihat di luar sana sangat gelap, Niah ingin sekali segera meninggalkan tempat ini tapi ia tidak yakin diluar sana aman buatnya.
Niah mengedarkan pandangan di sekeliling ruangan, tampaknya tripleks dinding kamar banyak yang sobek dan tak pernah tersentuh cat, yah pemilik rumah ini pastilah bukan orang yang mampu, ruangan segi empat ini terasa semakin sempit, dadanya mulai sesak memikirkan jika semalaman harus ada di tempat ini
Niah mencoba menenangkan diri, terduduk diatas kursi yang mirip kursi usang sekolah yang disimpan di gudang, suara gemeretak kayu dari kursi ini menandakan benda ini sudah reot. Niah berusaha duduk dengan imbang karena takut kursi ini akan patah menopang berat badannya yang tak seberapa itu. Niah menyandarkan kepalanya di atas meja penuh debu dekat kursi tadi, meja yang layak disebut meja karna masih memiliki empat kaki, selebihnya adalah reot hampir tumbang, dengan hati-hati ia telungkupkan kepalanya di atas meja itu. Ingin rasanya menangis tapi ia merasa itu tidak berguna sekarang, apakah mungkin karena dua hari terakhir ini ia sudah memutuskan untuk tidak melakukannya, atau memang air matanya sudah kering bahkan rasa sakit dan perih dihati seakan hanyalah ilusi, hampa, kosong dan entahlah tak mampu ia ungkapkan.
Niah tersentak, entah mimpi apa? Ia melirik jam tangan yang bertengger di lengan kirinya, jam tangan pemberian Reza, jam itu sdah menunjukkan pukul dua limabelas dinihari artinya ia harus mulai berjalan ke rumah Anita jika situasi sudah aman.
Di luar sana masih samar terdengar suara beberapa orang laki-laki yang mungkin masih melakukan pengejaran padanya. Niah menunggu sampai keadaan benar-benar sepi .
Setelah memastikan tidak ada lagi suara-suara dari luar, perlahan ia meninggalkan kamar tadi, melangkah dengan perlahan keluar dari sana, gelap sekali di luar, pelan ia menginjakkan kaki pada lantai papan yang rapuh karena dimakan rayap, suara derit papan perlahan berbunyi , ia berandai punya ilmu meringankan tubuh agar langkahnya tak terdengar sama sekali, tapi apa boleh buat lantai papan itu sudah sangat rapuh dan paku yang merekatkan papan pada balok penyangga sudah banyak yang terlepas sehingga sulit sekali menghindari suara riuh papan saling bersinggungan, benar-benar memancing perhatian.
Matanya awas memperhatikan sekitar, satu persatu anak tangga ia lalui meskipun sangat gelap ia berusaha untuk melangkah pasti menuruni tangga . di anak tangga terakhir ia mempercepat langkahnya ,tujuanku pasti kesebuah rumah Anita sahabatnya yang tak jauh dari tempat ini , ia sudah menghubunginya sejak tadi dan kebetulan orang tuanya keluar kota untuk beberapa bulan , di rumahnya hanya dia dan kakak lelakinya yang sibuk bekerja sebagai dokter di sebuah rumah sakit ternama jadi ia tidak perlu kawatir akan ditolak di rumah itu.
Niah menyusuri lorong kecil hanya mengandalkan senter dari hp jadul no*ia tanpa kamera miliknya, itupun terlihat tanda batreinya mulai kedap kedip menandakan sebentar lagi akan padam, rasa takutnya sudah hilang karena ia yakin orang -orang yang mengejarnya sudah mencari ditempat lain , mereka tidak menyangka kalau Niah akan bersembunyi di sebuah rumah tua yang menurut masyarakat sekitar angker itu.
__ADS_1
Niah meraba-raba jalan yang ia sususri , hujan kecil semalam membuat jalan sedikit agak becek , sampai di tikungan terakhir ia sudah dapat melihat rumah megah sahabatnya , rumah bercat putih bersih berlantai dua terlihat sangat sepi , pekarangannya luas dan terlihat dua mobil terparkir di balik pagar besi warna ke emasan indah sekali. Peralahan ia mendekati pagar besi yang sangat tinggi itu, dengan cepat ia mengirimkan pesan singkat kepada sahabatnya pemilik rumah itu, pasti dia sudah gelisah menunggunya sejak tadi. Niah melarangnya untuk menelponnya lebih dulu takut jika suara hpnya terdengar orang yang mengejarnya.
" Cepat masuk " hanya itu yang di ucapkannnya kemudian menarik tangan Niah menyusuri teras belakang. Mereka masuk lewat pintu belakang. Anita menarik tangan Niah dengan sangat kuat hingga terasa tubuhnya sempoyongan mengikuti langkah sahabatnya itu, ia heran mengapa rumah semewah ini begitu gelap. ia terus mengikuti langkah Nita sahabatnya itu menyusuri teras belakang rumahnya walaupun gelap namun remang cahaya lampu dari pekarangan rumah sedikit menolong pandangan untuk dapat melihat lorong teras belakang.
Rumah ini begitu cantik, ubinnya terbuat dari marmer bermotif bunga berwarna abu-abu , ada tembok setinggi dada orang dewasa ditepi ubin teras itu sehingga jika berjalan membungkuk orang luar tak mampu melihat isi dalam rumah. Namun Niah tidak mengerti kenapa Nita seakan menyembunyikan kedatangannya ,bukankah tidak ada orang di rumah itu? Bahkan sempat ia melirik jam tangannya yang sudah menunjukan jam tiga dini hari.
"Nia ,percepat langkahmu ! Aku tidak ingin kakakku melihat kita" ucap Anita membuyarkan fokus Niah pada jam tangannya itu.
" Oke ..oke " Niah memjawab singkat namun gugup
" Akhirnya sampai juga " Anita menghempaskan diri di atas kasur miliknya , kasur empuk berseprei merah muda polos dengan rumbai yang sangat cantik, dari dulu memang dia tidak pernah berubah dalam hal selera masih tetap selera anak ABG alay yang mengalami pubertas , Niah tersenyum menatap Nita yang menarik nafas lega seakan dia yang melakukan pelarian.
" Jangan lagi kamu mendekati tempat terkutuk itu Nia!" . Tatapan Anita seakan menusuk jantungnya, terlihat ada kobaran kemarahan di dalam matanya yang indah itu.
" Nit..akupun tak mau ada di tempat itu ,aku tidak ingin Nita ,kamu tau itu" ucap Niah menangis.
" Hm..tidak ingin katamu " senyum Nita seakan mengejek jawabannya.
__ADS_1
" Apa maksud kamu Nit? Kamu kira aku suka ada di sana? Hah " mendadak Niah emosi melihat ekspresi wajah Anita .
" Terus...kenapa kamu bisa ada di sana !?" Suara Nita meninggi seakan dia ingin menerkamnya.
"Nita, jaga ucapanmu ! Niah terduduk lesu di atas kasur merah muda itu , meremas tangannya yang basah oleh keringat bercampur air mata , sakit rasanya ia mendengar tuduhan Anita sahabatnya itu , Niah menangis menumpahkan segala kesedihan, kekesalan sekaligus kelegaannya terbebas dari neraka itu.
"Nit..apa kau jijik padaku?"
Nita terperanjat mendengar pertanyaan Niah.
"Apa maksudmu Nia? , Kenapa kamu berfikir seperti itu? , Aku ini sahabatmu " Nita menatapnya dengan perasaan bersalah , mungkin dia baru menyadari ketersinggungan Niah atas pernyataannya tadi.
" Sudahlah , bersihkan dirimu, kamu pasti lelah " Anita beranjak dari duduknya menuju lemari mengambilkan Niah handuk untuk mandi, lemari besar berwarna putih dengan 3 pintu geser itu dipenuhi pakaian yang tertata rapi
" Mandilah" seru Anita sambil menyerahkan handuk putih bersih , dia menggandeng tangan Niah menuju kamar mandinya
Aroma sabun dan shampo seketika menyeruak masuk ke rongga hidung dan dadanya saat pintu kamar mandi terbuka
" Mandilah dengan air hangat ,jika ingin berendam silahkan berendam , aku sudah mengisi air hangat dan aroma teraphy dalam bachtub itu" Nita menunjuk ke arah bachtub besar yg sdah penuh dengan air dan busa.
__ADS_1
Fikiran Niah sedikit fresh mencium aroma teraphy dari kamar mandi ini, kamar mandi ukuran 4x 3 itu sangat bersih , ubinnya warna merah muda seperti selera Anita . Didalamnya lengkap dengan peralatan mandi yang mewah , Niah sedikit bisa melupakan kepenatan jiwa dan ragaku setelah masuk berendam dalam air hangat. Niah memejamkan mata mencoba menikmati aroma melati yang merelaksasi tubuh dan pikirannya.
Setelah mandi Nita langsung menyiapkan tempat tidur untuknya tanpa mengucapkan sepatah katapun, dan akhirnya Niah tertidur, mungkin tidur terlelap sepanjang dua tahun terakhir ini.