Pelarian

Pelarian
Keluar Batas Teritorial


__ADS_3

Keluar Batas Teritorial


Malam tiba, Kian sudah di rumah orangtua Nadine. Kini ia tengah asyik gonjrang gonjreng main gitar dengan Dika, adik iparnya, di teras rumah. Lagu-lagu yang dinyanyikan Kian adalah lagu-lagu perjuangan, sedangkan Dika nyanyi lagu cinta-cinta. Apa kabar suara mereka? Fals dua-duanya.


Sementara itu, Nadine yang berada di ruang tengah bersama ibu, dibuat gregetan dengan tingkah suami dan adiknya itu. Bagaimana tidak, Nadine jadi susah berkonsentrasi membantu ibu mencatat nominal isi amplop tamu undangan yang datang ke acara pernikahan Nadine dan Kian di hari yang lalu-lalu.


"Bu Supri, seratus ribu, Nad" kata ibu.


"Trus Bu Ozan, lima puluh ribu" lanjutnya.


"Bu nda, sepuluh ribu"


"Ini tanpa nama, dua ribu"


"Tanpa nama, dua lembar daun, ya ampun amplopnya isi daun" seru ibunya.


"Masa' sih, Bu?"


"Nih, lihat" ibu menunjukkan sebuah amplop berisi dua lembar daun.


"Iya ih, koq gitu ya" tanya Nadine heran. Ibu menaikkan bahunya tanda tidak tahu.


"Bu, kenapa harus ibu catat kaya' gini" tanya Nadine.


"Ya, biar Ibu tahu ngisi amplop minimal berapa kalau Ibu diundang balik, kaya' ada yang ngasih seratus ribu, ya sudah ibu ngisi amplop juga seratus ribu"


"Kalau yang sepuluh ribu gimana, Bu? Ibu isi sepuluh ribu juga? Pelit donk"


"Ya nggaklah, Nad, insyaAllah minimal ibu ngisi amplop lima puluh ribu meskipun mereka ngisi amplop lima ribu atau sepuluh ribu di acara pernikahan kamu kemarin."


"Berarti ini uangnya nggak bisa dipakai ya, Bu, kan buat balikin ke mereka lagi?"


"Bisa donk, sayang, ibu bagulah separuh dipakai, separuh ditabung" jelas Ibu.


"Duitnya buat aku donk, Bu, pengin beli kamera DSLR nih, biar cakepan hasil fotoku, Bu, boleh ya?"


"Nggak boleh, minta sama Kian donk, suami kamu, kan kamu sudah jadi tanggung jawab dia, gimana sih?"


"Ya, tapi kan kemarin aku yang dipajang, aku yang nyengir seharian, capek tau, Bu, kakiku sampai sakit, badan juga, duh ibu"


"Nggak boleh titik" Ibu Kekeuh.


"Dipakai buat apa, sih, Bu?"


"Ke Bali dooonkk"


"Ciye, honeymoon ceritanya" goda Nadine.


"Iyalah"


"Aku yang nikah, ibu yang honeymoon"


"Kamu sama Kian boleh ikut, koq, nanti kamu bagian foto-foto Ibu sama Ayah." Kata Ibu Nadine girang


"Ogaaahh, Nadine nggak pakai bulan madu bulan maduan"


"Sama, Ibu dulu juga gitu, koq, nggak pakai bulan madu, di rumah, berdua-an aja, dikit-dikit ibadah, tapi waktu ibadahnya nggak dikit tapi lama trus berkali-kali lagi, ya ampuuunn" cerita ibu antusias mengenang masa-masa awal pernikahannya dengan Ayah. Nadine senang setiap kali ia mendengar cerita cinta antara ibu dan ayahnya. Kadang bikin Nadine gemas sendiri. Ibu yang karakternya gokil, berpasangan dengan ayah yang karakternya kaku kayak kanebo kering. Lucu-lucu gemes.

__ADS_1


"Oya, besok kalian jadi pindahan?"


"Iya, Bu, aku dan mas kian pindah besok."


"Ya sudah, gih, ini biarin aja, kamu istirahat, sekalian ajak suami kamu, biar nggak ngamen terus tu sama adikmu, lama-lama disamperin orang, disiram comberan" perintah ibu.


"Iya, Bu" Nadine nurut mengingat kedua orang itu memang sedikit tak sadar dengan suara mereka yang dalamnya naudzubillah.


"Eh tapi, kalau pengantin baru gini, biasanya, nggak bakal bisa istirahat, pasti maunya nyari keringat" lanjut ibu sambil nyengir. Ia merasa sukses menggoda anaknya setelah melihat pipi Nadine bersemu merah.


Nadine lekas-lekas meninggalkan ibunya sebelum ibu kembali menggodanya.


"Mas, ayo" ajak Nadine.


"Eh..ayo kemana?" tanya Kian spontan.


"Ke kamar lah"


Kian sontak terkejut dengan ajakan Nadine. Karena ini kali pertama Nadine mengajaknya ke kamar. Kian sudah sumringah berbunga-bunga. Pikirannya tertuju pada 'ibadah yang menyenangkan' alias berhubungan suami istri.


"Ciye, ke kamar terooosss" goda Dika, adik Nadine.


"Elu ya, sama aja kaya' ibu, gue nggak ngapa-ngapain kali, gue ngajak mas Kian beres-beres barang di kamar karena besok mau pindahan" jelas Nadine berapi-api. Kian seketika lesu mendengar penjelasan Nadine.


"Yah, gagal maning gagal maning" gumam Kian samar yang ternyata didengar Dika dan Nadine.


"Apa an sih, Mas, jangan ngomong aneh-aneh ya, depan tu bocah," Nadine menunjuk adiknya, Dika. Dika melengos. Ia tak terima dianggap bocah oleh Nadine.


"Ya udah ayo" Kian meletakkan gitar milik Dika.


"Mas masuk dulu, ya" pamit Kian yang dijawab anggukan kepala oleh Dika.


Karena sudah selesai, Kian lalu menuju tempat tidur. Ia menyandarkan punggungnya di tumpukan bantal. Lalu fokus menatap Nadine yang tengah packing.


Tak lama, Nadine selesai packing. Ia pun beranjak ke kamar mandi untuk melakukan ritual sebelum tidur. Selesai, Nadine kembali ke kamarnya kemudian naik ke tempat tidur.


Kian sudah merebahkan tubuhnya. Ia nampak asyik membaca buku yang berjudul Hikayat Kadiroen karya Semaun. Meskipun begitu, Kian tetap bisa menangkap aktivitas Nadine yang sedang menata bantal di bagian tengah tempat tidur.


"Sedang apa?" Tanya Kian. Ia menutup bukunya.


"Bikin batas teritorial. Kamu nggak boleh ngelewatin ini, Mas, kalau sampai lewat, kamu aku tenggelamkan" ancam Nadine sudah seperti Bu Susi.


"Iya, aman".


Nadine lalu merebahkan tubuhnya dan tak lama ia pun terlelap. Namun sayangnya beberapa menit kemudian, Nadine terpaksa terbangun dari tidurnya.


BUG


"Aduuuhh..." Nadine jatuh. Kian menahan tawa sekuat tenaga.


Setelah mengusap-usap lengannya yang sakit karena terjatuh lebih dulu, Nadine pun kembali tidur. Namun, sayangnya, hal itu terjadi lagi.


BUG


"Duuhh..."


Kian menahan tawa sembari menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Nadine.

__ADS_1


Nadine pun kembali tidur. Sebelum Nadine bertingkah lagi, Kian berinisiatif untuk memindahkan bantal ke sisi-sisi tempat tidur dan menggeser tubuh Nadine tepat pada bagian tengah kasur.


Setelah memastikan Nadine tidak akan jatuh, Kian beranjak menghampar sajadah, meletakkan bantal lalu memakai sarung untuk melingkupi seluruh tubuhnya. Ya, Kian memilih tidur di lantai.


Sebelum tidur, Kian menunggui Nadine. Kian yakin Nadine tidak akan jatuh lagi. Lalu, giliran Kian yang berusaha untuk tidur. Lama-lama, akhirnya, Kian pun ikut terlelap.


Nadine membuka matanya setelah mendengar suara dengkuran halus Kian. Perlahan, ia duduk lalu mengambil selimutnya. Ia turun dari tempat tidurnya. Dengan langkah pelan, Nadine menghampiri Kian. Ia balutkan selimut di tubuh Kian. Setelah itu, Nadine mengambil selimut lain di lemarinya kemudian ia kembali ke tempat tidurnya, dan tidur.


***


Pagi hari, Kian dan Nadine sudah selesai meletakkan barang-barang mereka di mobil. Mereka bersiap untuk pindah rumah.


Sementara Kian memanaskan mesin mobil, Nadine kembali ke dalam untuk mengecek barang yang tertinggal. Namun nihil, semua barang yang ia butuhkan sudah terbawa. Kemudian ia bergegas menemui ayah dan ibu, Dika sedang sekolah, untuk berpamitan.


"Ingat ya, Nad, berusaha jadi istri yang baik untuk Kian, jangan lupa juga memohon bimbingan sama Allah, agar setiap langkah yang kamu dan suami lakukan selalu dalam perlindungan Allah, berbahagialah kalian berdua, Ibu do'a dari sini." Pesan Ibu. Nadine lalu mencium tangan juga kedua pipi ibu. Giliran selanjutny yakni berpamitan dengan ayah.


"Nadine pamit, Yah, mohon do'anya, Yah" Nadine mencium tangan ayahnya.


"Iya, pesan ayah, kamu segeralah magang bekerja di kantor Ayah, Kamu bisa segera belajar bagaimana bekerja di kantor di sana.


"Yah, Nadine nggak mau bekerja di kantor, Yah, Nadine ingin menekuni hobi Nadine, Yah"


"Kerja apa? Nggak ada masa depan yang pasti dan cerah kalau kamu bekerja sebagai seorang fotografer"


"Ada koq, Yah, sekarang peluang jadi fotografer terbuka lebar, banyak yang membutuhkan jasa fotografer. Nadine yakin bisa sukses dengan pilihan Nadine, Yah"


"Nggak, kamu tetap harus bekerja di kantor"


"Yah, tolong yah, biarkan Nadine memilih jalan Nadine sendiri, dari dulu Nadine sudah mengikuti semua kehendak Ayah, meskipun Nadine tidak suka, tidak bahagia melakukan apa yang ayah inginkan, Nadine tetap menjalani dan menyelesaikannya. Jadi, tolong, jangan siksa Nadine lagi, Yah. Nadine ingin bahagia dengan melakukan apa yang Nadine suka. Ayah tahu, sebagian besar yang ayah pilihkan untuk Nadine, menyiksa Nadine"


"Kamu memang anak yang nggak tahu diuntung, Nadine, ayah melakukan itu demi masa depan kamu, agar kamu nggak hidup susah. Tapi kamu malah..."Ayah menghentikan kalimatnya. Beliau menghela nafas berkali-kali. Nampak tengah berusaha mengendalikan emosinya.


"Baiklah, lakukan apa yang kamu mau, lakukan apa yang kamu suka, dan jangan datang ke rumah ini lagi" Tegas Ayah. Ia lalu beranjak meninggalkan Nadine yang menutup mulutnya. Ia terkejut dengan apa yang dikatakan ayahnya.


Nadine lalu bergegas keluar. Ia masuk ke dalam mobil. Kian yang mengetahui apa yang terjadi, memilih tak menanggapi. Minimal untuk hari ini. Kian memilih untuk berpamitan pada Ibu.


"Bu, kami pulang dulu, terima kasih banyak dan mohon maaf kami merepotkan ibu dan ayah juga Dika selama kami tinggal di sini"


"Nggak apa-apa, nggak usah sungkan" kata Ibu dengan mata yang masih menyisakan linangan air di sana.


"Titip Nadine ya, Nak" pinta Ibu. Kian mengangguk. Lalu menuju mobilnya.


"Sudah pakai sabuk pengaman, sayang?" Tanya Kian pada gadis sebelahnya yang menatap keluar.


"Sudah" jawab Nadine singkat.


"Baiklah, kita pulang"


***


Terima kasih sudah berkunjung ke karya sederhanaku ini.


Mohon dukungannya dengan cara like, komen, dan subscribe eh salah dink, dan vote maksudnya.


Salam terlove


Dari

__ADS_1


Aku.


😁


__ADS_2