Pelarian

Pelarian
Dilema


__ADS_3

Dokter Arya mencoba menenangkan Niah yang begitu terguncang, ia takut jika Niah berbuat nekat lagi “istighfar Niah…istighfar” ucap dokter Arya sembari memegang pundak niah . Niah masih terus menangis “ kenapa??!!, kenapa semua ini terjadi padaku??!!” teriak Niah pilu “Baru saja aku bertemu dia dok…baru saja aku merasakan sedikit kebahagiaan, lalu kenapa Tuhan mengambilnya lagi , apakah tak pantas orang kotor sepertiku untuk bahagia??, apakah tak ada kesempatan bagiku lagi??, katakan dok!!” Niah memukul-mukul dada dokter Arya yang berdiri di depannya, dokter Arya bingung harus bagaimana? Apalagi saat Niah tiba-tiba memeluknya sambil menangis terisak “Apa lagi yang harus kulakukan dok?? Apa lagi!!” dokter Arya tak tega untuk menghindar walau ia tau betul ini tak boleh.


“katakan dok…apa yang harus kulakukan, apa yang harus aku katakan pada mama?!!”. Dokter Arya terdiam ia masih membiarkan Niah bersandar di dada bidangnya sambil terus menumpahkan semua kesedihannya, stelannya telah basah oleh air mata Niah.


Di ujung lorong sepasang mata menatapnya degan mata berkaca-kaca, kecemburuan tersirat pada tatapannya, ia yakin jika itu pasti istri dokter Arya karena tak mungkin dokter Arya menyentuh wanita yang bukan mahramnya itu adalah hal yang tak pernah dokter Arya lakukan kecuali terhadap pasien jika terpaksa. Namun ada hal lain yang membuatnya bingung adalah wajah wanita yang menangis dipelukannya itu mirip dengan wanita di video syur yang baru-baru ini beredar, bukan lagi mirip tapi itu memang dia, “ah…ada apa dengan dokter Arya, apakah ia tak tau kenyataan itu” pertanyaan itu yang berada di benak dokter Pipit.


Dokter Arya mengedarkan pandangannya kesekitar lorong rumah sakit berharap ada seseorang yang menggantikannya jadi sandaran Niah, matanya kemudian tertumpu pada sosok wanita yang berdiri menatapnya di ujung lorong rumah sakit, sontak ia terkejut dan grogi, bukankah itu dokter Pipit yang selama ini dikaguminya? “Ah pastilah ia salah paham terhadapku” batinnya.


Perlahan dokter Arya melepaskan sandaran Niah dari dadanya , “sebentar lagi dok, tolong sebentar lagi….” Ucapan Niah lirih masih terus terisak. Terpaksa dokter Arya membiarkannya dengan perasaan yang tak menentu, ia sangat takut dokter Pipit akan salah paham terhadapnya. Bagaimanapun ia memiliki harapan besar pada dokter berlesung pipi itu.


Sementara dokter Pipit memilih meninggalkan pemandangan penuh drama itu dengan hati yang terkoyak dan luka, tak dapat ia menahan cairan bening dari sudut matanya, harapannya bersama dokter Arya telah pupus, harapan yang selama ini ia simpan rapat-rapat di hatinya yang terdalam. Air bening terus mengalir membasahi pipinya, selama ini ia begitu yakin kalau dokter Arya punya perasaan yang sama degannya tapi ternyata tidak, dan lebih menyakitkan lagi apakah posisinya digantikan oleh wanita itu? wanita yang viral karena kasus video asusila? Haruskah dia yang menggantikan posisinya itu, apakah tak ada orang lain yang lebih baik dari itu? pikirnya.


Setelah Niah agak tenang barulah dokter Arya menghubungi Anita adiknya mengabarkan kematian Pak Adi, ia juga berpesan pada Anita untuk mengabarkan berita ini pada Ibu Ratih dengan pelan-pelan dan berhati-hati, agar ia tidak shock saat jenazah sudah sampai di rumah. walaupun dokter Arya tau itu juga bisa berakibat fatal bagi ibu Ratih tapi ia tak punya pilihan lain, “semoga saja bu Ratih kuat untuk menerima kenyataan ini” bisik hati dokter Arya.


Jarum jam menunjukkan pukul empat sore saat jenazah pak Adi tiba di rumah duka, keadaan mulai ramai , bendera putih sudah terpasang, tetangga dan keluarga dekat sudah berdatangan . Niah melangkah gontai mengiringi jenazah papanya ditandu masuk dalam rumah, wajahnya kuyu, matanya sembab, wajahnya bengkak karena terlalu banyak menangis dan tatapannya kosong seakan tak ada lagi semangat hidup di sana.

__ADS_1


Dokter Arya menyusul Niah masuk menemui mamanya, ia khawatir terjadi sesuatu dengan wanita itu. Dokter Arya menyaksikan pemandangan yang mengaharukan setelah sampai di kamar, ia mendapati Niah terus mencoba mengajak mamanya berbicara namun ibu Ratih bungkam seribu bahasa, Niah hanya bisa menangisi kenyataan demi kenyataan pahit yang terus mengikutinya, kebahagiaan sepertinya masih enggan menyapanya.


Hati dokter Arya terenyuh dan iba menyaksikan semua kenyataan pahit yang terus mengikuti sahabat adiknya itu. entah perasaan apa yang perlahan menelusup masuk dalam hatinya, ingin rasanya ia menghapus semua derita yang di tanggung wanita malang itu, tapi entah apa yang harus di lakukannya. Dokter Arya hanya berdiri depan pintu kamar menyaksikan semua kesedihan yang di alami Niah, sementara Anita berusaha untuk terus menguatkan Niah, ia memeluk sahabatnya itu dan terus membimbingnya mengucapkan istighfar dan kalimat penguat laahawlaa walaa kuwwata illah billah, dengan bibir bergetar Niah mencoba mengikuti kalimat itu, namun air matanya tak berhenti mengalir.


“Aku menyerah Nit” ucap Niah berbisik pada Anita yang duduk di sebelahnya sambil mengelus- elus punggungnya.


“Astaghfirullah …kamu tak boleh berkata seperti itu Niah, kamun harus kuat untuk mamamu”  suara Anita tercekat di kerongkongan mengucapkan kata-kata itu , ia sendiri tak bisa membayangkan sakit yang dirasakan sahabatnya itu. ia hanya berusaha menguatkan Niah agar tidak putus asa. Tak ada lagi yang dapat Anita lakukan untuk sahabtnya itunselain menghiburnya, sementara di pintu kamar masih berdiri doktee Arya denagn mendung di matanya.


“aku rasanya tak sanggup lagi melanjutkan hidupku Nit” tangisnya kembali pecah di pelukan sahabatnya itu.


“Niah …Allah itun sesuai dengan perasangkaan hambanya, jika kamu yakin kamu bisa menghadapi ini maka Insyaa Allah kamu bisa” ucap Anita pelan


“Tapi ini sudah di luar batas kemampuanku Nit” ucap Niah dengan tangis tertahan.


“Aku yakin kamu mampu Niah, Allah maha tau kemampuan hambanya…kamu orang yang kuat, makanya Allah memberimu cobaan seperti ini” Anita terus berusaha membuat Niah untuk bangkit.

__ADS_1


“Tapi…bagaimana caranya aku menghdapi semua ini sendiri Nit, aku tak punya siapa-siapa sekarang kecuali kamu” ucap Niah kembali memeluk Anita, mereka menangis bersama.


“Niah…jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolong,Insyaa Allah kita akan mampu melaui semua ini, aku akan selalu ada di sampingmu Niah, percayalah” ucap Anita penuh keyakinan.


Perasaan Niah agak lega setelah sholat berjamaah bersama Anita, sahabatnya itu mebimbingnya membaca Al quran, bacaan yang selama ini ia tinggalkan sama sekali, karena memang orang tua Niah tidak begitu paham agama, Niah di didik dengan penuh kecukupan materi namun tak cukup pendidikan agama.


Usai pemakaman keadaan ibu Ratih tidak jua membaik , malah bertambah parah, ia tak lagi mau makan dan sering berbicara sendiri tapi pada saat di ajak mengobrol ia tak mau berkata-kata, Niah hanya bisa menangisi keadaan Ibunya. Anita terpaksa menginap beberapa hari di rumah Niah, ia khawatir akan kondisi Niah yang kadang di luar kendali saat kesedihannya tiba-tiba memuncak, dengan telaten Anita merawat ibu Ratih saat Niah sama sekali tak bisa untuk bangkit menyaksikan keadaan Ibunya, entah terbuat dari apa hatinya sehingga dengan begitu tulus ia membantu Niah berusaha keluar dari kesedihannya.


Dokter arya setelah kembali dari pemakaman langsung ke rumah sakit karena ada jadwal operasi malam itu. walau perasaan lelah menyerangnya ia tetap melaksanakan tugasnya, ia benar-benar dokter yang berdedikasi tinggi, baginya keselamatan pasien yang utama.


“dok..dokter Arya” seseorang menggoncang tubuh dokter Arya yang tertidur di musholla rumah sakit, rupanya ia tertidur sehabis solat isya tadi karena kelelahan . Dokter Arya memicingkan matanya karena silau oleh lampu moshollah yamg berada pas di atasnya. Ia terkejut setelah tersadar seorang wanita cantik berdiri di depannya sambil tersenyum.


“Maaf dok, saya mengganggu tidurnya, ini sudah jam dua malam, apakah dokter mau pulang atau ke ruang istirahat saja?” Tanya wanita manis itu.


“Eh..oh ya, aku ketiduran di sini, iya saya mau pulang saja, sejak kemarin belum sempat pulang ke rumah” dokter Arya gelagapan bangkit menuju tempat wudhu untuk membasuh wajahnya, jantungnya berdegup tidak karuan tiba-tiba dibangunkan oleh wanita punjaanya itu. namun ia berusaha bersikap biasa saja, ia begitu malu untuk mengakui perasaannya yang sebenarnya terhadap dokter Pipit, sementara dokter Pipit menyimpan kekecewaan atas sikap cuek dokter Arya, ia semakin kehilangan harapan untuk mendapatkan hati dokter ganteng itu, apalagi ia menyangka dokter Arya sudah menikah. Ia akhirnya berlalu meninggalkan tempat itu sebelum dokter Arya kembali dari membasuh wajahnya.

__ADS_1


Seminggu berlalu sejak pak Adi meninggal dokter Arya masih bolak balik rumah sakit , rumahnya dan rumah Niah, karena kadang ibu Ratih mencarinya, ia tak tega harus jujur pada wanita itu, apalagi keadaanya semakin kurus dan kuyu, ia berencana membawa ibu Ratih ke rumah sakit jiwa karena keadaan jiwanya semakin terganggu, kadang wanita itu merancau tak jelas kadang pula ia tersadar dan mengenali semua orang. Tapi dokter arya bingung harus memulai pembiacaraan dengan Niah tentang rencananya itu, ia takut Niah terpukul dengan kenyataan itu. apalagi sebelum meninggal pak Adi mengamanatkan Niah padanya, ia merasa bertanggung jawab atas keadaan Niah.


 


__ADS_2