
Kian sedang berada di kantor organisasi. Ia tengah menjelaskan perhitungan soal pesangon kepada pengurus organisasi.
"Coba dipahami lagi pasal 156 ayat 1 Undang-undang ketenagakerjaan. Di situ ada informasi perhitungan pesangon yang bisa didapatkan oleh kawan kawan buruh. Nanti kalau sudah selesai bilang ke saya ya, mbak!" Jelas Kian.
"Baik pak," ucap salah satu pengurus. Lalu mereka pun meninggalkan ruang rapat dan Kian jadi sendirian.
Kian membuka gawainya untuk mengecek pesan. Ia berharap ada balasan pesan permintaan maafnya yang khilaf mencium Nadine waktu di penginapan.
Sayangnya, seminggu setelah kejadian itu dan sampai saat ini Nadine tidak pernah membalas pesan Kian dan menjawab telfon Kian. Kian ingin sekali meminta maaf secara langsung. Namun ia terikat dengan kesepakatannya dengan Nadine bahwa ia tidak akan menghubungi, dan bertemu dengan Nadine lagi setelah ia menemui orangtua Nadine.
Kian menatap lagi gawainya, ada sebuah pesan masuk.
From: Windi
To: Bang Kian
Lapor, transferannya sudah masuk Bang. Tapi ini banyak banget kalau buat beli camilan Nadine doank, Bang.
Kian tersenyum membaca pesan Windi.
From: Kian
To: Windi
Kamu juga beli Win.
Kian mengirimkan pesan balasan pada Windi.
From: Windi
To: Kian
Ya amplooppp, makasih banyak ya, Bang Kian. Semoga bang kian makin murah rejekinya karena sudah ngasih makan anak rantauan yg sering kelaparan. 😁
__ADS_1
Nanti, aku kabari lagi Bang kalau sudah beli camilan buat Nadine.
From: Kian
To: Windi
Ok. Ingat, Win. Jangan bilang dari aku.
Setelah mengirimkan pesan balasan ke Windi, Kian kemudian memasukkan laptop dan beberapa dokumen ke dalam ranselnya. Ia bersiap untuk pulang. Namun tiba-tiba,
"******* Lo ya, berani-beraninya elo nyium Nadine," seru Heru. Lalu,
BUG
Heru menghantam Kian. Kian memegang sudut bibirnya yang basah. Darah segar keluar dari sana.
BUG
Kian menghantam Heru.
"Loe yang ******* sudah mainin perasaan 2 perempuan," jawab Kian.
Heru akan menghantam Kian lagi. Namun berhasil ditangkis Kian.
"Jangan di sini, bukan tempatnya baku hantam," kata Kian sembari menghindari pukulan Heru.
"Gue nggak peduli, denger Lo ya, jangan deketin Nadine lagi, atau nggak..."
"Nggak takut gue," tantang Kian. Ia teringat dengan fitnah beberapa bulan lalu yang dibuat Heru. Nyatanya, fitnah tersebut bisa Kian atasi tanpa perlu bersusah payah. Maka ancaman Heru kali ini, tidak akan membuatnya keder. Ia yakin bisa mengatasinya, semudah membalikkan telapak tangannya.
"Oke, gue yakin rencana gue bakal berhasil 1000%, gue bakal dapetin hati Nadine lagi." jelas Heru.
"Gue tunggu," kata Kian. Heru mengangguk, mengacungkan jempolnya lalu tersenyum sinis. Ia membalikkan badannya, lalu pergi.
__ADS_1
Kian melanjutkan membereskan pekerjaannya. Ia menghela nafas berkali-kali. Ada rasa menyesal teramat sangat atas kekhilafan yang ia lakukan pada Nadine.
Kian berpikir, ini pasti dijadikan senjata ampuh bagi Heru untuk kembali dekat dengan Nadine. Ia akan menghasut Nadine sehingga Nadine menilai Kian adalah seorang pria yang brengsek.
Sementara itu, ia makin susah mendapatkan hati Nadine. Kian yakin, pasti Nadine menilai dirinya bukan pria yang baik-baik.
"Aaarrgggg..."
"Nggak, aku nggak akan nyerah semudah itu, aku tetap akan menjalankan rencanaku" batin Kian optimis.
***
Tiba di rumahnya, Heru lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Sambil menyalakan tv, ia mengelus luka baku hantam dengan Kian. Heru tak rela jika Kian mendekati Nadine terlebih sampai berani-beraninya mencium Nadine.
"Lo mas, kenapa bibirmu?" Kata Ria, ia meringis melihat bibir Heru yang mengeluarkan darah. Heru tidak merespon.
"Katanya tadi mau ketemu Kian, koq malah jadinya gini?" Tanya Ria. Ia mengambil kapas, alkohol, dan obat merah. Tak ada jawaban dari Heru. Ria pun mengulang kembali pertanyaannya sembari mulai merawat luka Heru, suaminya.
"Bukannya tadi kamu bilang mau ketemu Kian, koq jadinya gini, jangan-jangan kalian....."
"Aku tadi menghantam Kian, dan Kian menghantam ku"
"Ya ampuuuunnn, ngapain sih baku hantam? Karena apa?" Selidik Ria.
"Karena Nadine" jawab Heru.
Deg
Ria kaget dengan apa yang diucapkan suaminya. Ya, sejak Heru tahu Ria pernah membicarakan hal yang tidak-tidak pada Nadine, sejak itulah Heru bersikap dingin pada Ria.
"Jangan ikut campur lagi, kalau nggak..."
"Kalau nggak apa?"
__ADS_1
"Aku bakal pergi dan kita cerai," Ancam Heru.