Pelarian

Pelarian
Redam Rasa


__ADS_3

Redam Rasa


Sejak momen saling memaafkan dan saling menguatkan antara Ayah dan Nadine, hubungan mereka mulai membaik. Yang dulunya jarang komunikasi, kini mulai bertukar opini. Yang dulunya kaku bak kanebo kering, kini mulai menebar canda.


Memang benar, setiap cobaan, duka, lara, atau apapun yang membuat perih di rasa, selalu ada hikmah dibaliknya. Seperti Nadine, siapa sangka jika perpisahannya dengan Kian menjadi pembuka pintu kedekatan antara ayah dan anak.


Nadine bersyukur begitu banyak yang mendukungnya di saat ia tengah terjatuh. Ada ibu yang selalu memperhatikan kondisi Nadine juga kehamilan Nadine. Ada Dika, yang selalu mau dimintai tolong untuk membeli atau berburu makanan yang diidamkannya meskipun itu semua nggak gratis karena Dika minta jatah kuota. Dan sekarang ada ayahnya, yang selalu memaksa untuk mengantarkan Nadine pergi kemana-mana.


Ya, sejak kejadian Nadine pingsan dan harus menjalani rawat inap di sebuah klinik, Nadine tak pernah pergi kemana-mana sendirian. Ia selalu ditemani oleh ibu. Namun sekarang lebih sering ditemani ayahnya.


Sebenarnya, Nadine merasa tak enak, karena seakan-akan kehamilannya ini merepotkan keluarganya. Namun, ibu, ayah juga Dika meskipun demi kuota, sama sekali tidak keberatan dengan hal itu. Katanya, mereka malah senang dan antusias.

__ADS_1


"Ah, mungkin karena cucu pertama atau ponakan pertama, makanya mereka begitu antusias." Pikir Nadine.


Akan tetapi, meskipun Nadine sudah bertemankan sejuta kasih sayang, namun tetap saja ia merasa ada yang kurang. Ia mendamba kasih sayang Kian, ayah dari anaknya.


Nadine sudah berusaha untuk menghilangkan rasa itu, sayangnya sebanyak kali itu juga, rasa rindu pada Kian makin membuncah. Efek hormon kehamilan? Bisa jadi. Atau memang merindu? Juga bisa jadi.


Tidak, menurut Nadine tidak seharusnya Nadine merindui laki-laki yang sudah jadi mantan suami. Toh, ia merasa tak mungkin akan kembali lagi pada Kian jika mengingat apa yang dikatakan Riani bahwa keselamatan mereka akan terancam jika mereka bersatu kembali. Jadi, seharusnya, Nadine mengubur rasa rindunya pada Kian. Karena memupuk rasa rindu pada seseorang yang tidak mungkin dimiliki hanya akan menyakiti diri sendiri, bagi Nadine.


Nadine mengutarakan keinginannya pada ayah juga ibu untuk pindah. Ayah dan ibu menolak ide itu, awalnya. Namun, setelah Nadine meminta izin berkali-kali dan mengatakan alasannya ingin beralih yakni ingin menghadirkan rasa tenang. Karena dari beberapa artikel tentang kehamilan yang Nadine baca, penting menghadirkan rasa tenang saat sedang hamil, sebab emosi ibu saat hamil dapat mempengaruhi kondisi kandungan. Nadine ingin janinnya tumbuh dan berkembang dengan baik. Dengan alasan itulah, akhirnya ayah dan ibu mengizinkan Nadine pindah pergi.


Nadine sudah berbenah. Bahkan ia sudah membereskan barang-barangnya yang ada di kosnya. Ia memutuskan hanya membawa sedikit barang saja.

__ADS_1


Sebelum berangkat, Nadine ingin berpamitan terlebih dahulu pada komunitas untuk menyerahkan tanggung jawabnya juga berpamitan ibu dan anak anak panti asuhan. Untuk melakukan hal ini, Nadine ditemani ayah.


Memerlukan waktu setengah hari bagi Nadine untuk melakukan hal tersebut. Momen pamitannya mengharu biru. Ada beberapa yang sampai menangis tersedu sedu sebab melepas kepergian Nadine. Pun demikian dengan Nadine, mata Nadine basah dan mulai terlihat cembung di bagian bawah matanya.


"Gimana? Sudah selesai? Kalau sudah ayo kita pulang, ayah lapar" kata ayahnya. Sontak Nadine terkekeh mendengar pengakuan ayahnya.


"Kita makan dulu aja, Yah, nggak tega lihat ayah kelaparan, gitu" goda Nadine.


"Nggak apa-apa, ayah masih bisa nahan, trus rencananya mau kemana lagi, nih? Biar sekalian ayah antar"


"Ke rumah mas Kian, Yah." Ucap Nadine. Ayah tersentak mendengar keinginan anaknya itu.

__ADS_1


__ADS_2