
Kian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sengaja demi bisa sampai di rumah. Pikirannya sudah mengarah pada hal yang tidak-tidak. Ia takut Nadine pergi meninggalkannya.
Entah, masih terselip rasa ragu di hati Kian akan perasaan Nadine padanya. Nadine sama sekali belum pernah mengungkapkan rasanya pada Kian. Nadine juga masih bersikap acuh padanya meskipun kadarnya sudah jauh berkurang.
Dan adanya kejadian seperti ini, bisa menjadi dorongan bagi Nadine untuk pergi meninggalkannya.
"Aarrgh..."
Kian memukul-mukul kemudi. Ia meraup wajahnya yang gusar. Kian pun makin melajukan mobilnya.
Tiba di rumah, Kian segera memarkir mobilnya tepat di depan pintu pagar. Rasanya tak sempat untuk sekedar memarkir mobilnya di garasi rumah. Ia bergegas memasuki halaman rumahnya.
Sepi, nampak tidak ada penghuni.
Apakah Nadine sudah pergi? Semudah itu ia pergi tanpa memberi kesempatan pada Kian untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi? Kalimat-kalimat ini menyeruak di pikiran Kian.
Ia merogoh kunci rumahnya yang sebelumnya ia letakkan di kantong kecil ranselnya. Ia mulai membuka pintu rumahnya. Namun gagal. Kepala kunci tak bisa diputar dilubangnya.
"Dikunci dari dalam" Gumam Kian. Ia menyunggingkan senyum. Merasa senang, karena berarti Nadine ada di dalam. Istrinya itu tidak pergi kemana-mana.
Kian memasukkan kembali kunci ke dalam kantongnya. Ia lalu memegang gagang pintu, menggerakkannya sekali, dua kali dan lalu pintu pun terbuka.
Seketika itu, pikirannya soal Nadine yang masih di rumah, buyar sudah, saat mendapati kondisi pintu rumah yang tidak terkunci.
"Sampai tak sempat mengunci pintu rumah" gumam Kian. Ia berpikir Nadine buru-buru pergi.
Sedih sontak menghampiri Kian. Ia letakkan ranselnya di kursi ruang tamu. Ia duduk di situ sembari menatap menekan-nekan matanya. Ya, Kian mencoba menekan air matanya yang akan jatuh dan bisa jadi berhamburan.
Membutuhkan waktu sebentar bagi Kian, untuk mengkondisikan perasaannya dan mengeringkan genangan air mata di matanya. Ia berusaha untuk tegar, kuat, dan tidak terbawa perasaan. Karena dengan begitu, ia bisa berpikir jernih mencari solusi.
__ADS_1
Perlahan, Kian menapaki kakinya di dalam rumah. Ia segera menuju kamarnya dan Nadine. Ia berpikir mungkin Nadine meninggalkan sedikit jejak di sana.
Lalu ia membuka pintu kamarnya secara perlahan. Ia layangkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar hingga matanya menangkap seseorang yang tengah duduk dengan kepala tertunduk di depan sebuah lemari. Bahunya nampak bergetar, dan sebelah tangan yang tak menopang badan, sibuk bergerak di area sekitar mata juga pipi. Itulah yang Kian tangkap. Sosok itu nampak sedang menangis tergugu.
Kian bergegas masuk ke dalam kamar. Ia memeluk sosok itu erat, seerat-eratnya.
"Jangan pergi..." Kata Kian.
"Jangan tinggalkan Mas..." Pinta Kian.
Air mata yang sebelumnya hanya menggenang, kini mulai mengalir di pipinya. Ya, Kian serapuh itu. Bagaimana tidak rapuh, ia amat sangat mencintai istrinya.
Sosok itu, yang tak lain adalah Nadine, malah semakin sesenggukan. Tak ada kata yang terucap lagi. Yang ada hanya suara tangis Nadine, samar-samar.
Kian membalikkan tubuh Nadine. Nadine menurut. Mereka pun saling berhadapan.
Nadine tertunduk. Ia masih menangis tergugu. Kian memegang dagu Nadine agar bisa menatap mata Nadine. Lalu Kian membawa Nadine ke dalam pelukannya. Ia peluk erat istrinya itu, erat, erat sekali.
Lama-lama, tangis Nadine mereda. Kian menghentikan ciumannya. Ia menatap Nadine, lekat-lekat.
"Jangan pergi, ya, di sini saja" pinta Kian.
"Mas tidak melakukan apa-apa dengan wanita itu" Jelas Kian.
"Tidur bersama itu sudah apa-apa, Mas" jawab Nadine.
"Apalagi sampai kamu dan dia nggak pakai baju" Nadine mendorong tubuh suaminya. Pelukan mereka pun terlepas.
"Honey, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Mas dijebak, Sayang..." Ungkap Kian. Ia menarik tangan Nadine agar kembali ke dalam pelukannya. Namun, Nadine menepisnya.
__ADS_1
"Benarkah? Jangan-jangan kalian mau sama mau, apalagi wanita itu mantan kekasih kamu" Nadine amat ketus.
"Bisa saja kalian masih sama-sama punya rasa" imbuhnya.
"Bagaimana bisa Mas melakukan itu, sedangkan hati Mas sudah dipenuhi kamu" kata Kian.
"Aku nggak percaya, aku nggak yakin hati kamu cuma untuk aku, Mas, karena toh buktinya kamu tidur berdua dengan mantan kekasihmu itu"
"Mas dijebak Sayang, Mas tidak melakukan apa-apa"
"Kalau begitu buktikan, buktikan saja kamu tidak melakukan apa-apa dengan wanita itu, Mas" Nadine menatap Kian lekat-lekat.
"Buktikan kalau kamu benar-benar dijebak" lanjutnya.
"Aku beri kamu waktu 3 hari untuk mencari bukti" Nadine mengambil tangan Kian lalu menggenggamnya erat, sebentar, hanya sekelebat. Setelah itu, ia lepaskan tangan Kian.
"Selama kamu mencari bukti, aku akan pergi dari sini" pamit Nadine.
"Jangan, tetaplah di sini" pinta Kian.
"Aku nggak bisa, bahkan saat ini pun aku masih teringat adegan tidurmu dengan wanita itu"
"Tapi, Mas butuh kamu" Gantian, kali ini, Kian yang menarik tangan Nadine dan menggenggamnya..
"Please, Mas, aku mohon, izinkan aku pergi"
***
Hai Authors, mohon maaf aku belum bisa berkunjung ke karya kalian sampai beberapa hari ke depan. Karena mau fokus dulu ke acara bazar UMKM yang aku ikuti plus juga mau fokus menyelesaikan cerita ini yang kurang beberapa episode lagi. Tapi kalau ada waktu luang, aku usahakan berkunjung ke beberapa karya kalian.
__ADS_1
see yaaaa, di tombol like juga kolom-kolom komentar karya kalian. 😊