
Bagian 11
Anita menatap wajah sahabatnya yang belum sadarkan diri dengan perasaan tak menentu, bagaimana kemudian Niah akan menjalani hidupnya setelah semua ini tersebar kemana-mana, bagaimana ia menghadapi dunia luar ,bagaimana ia pulang ke rumah orang tuanya. Berbagai pertanyaan memenuhi kepala Anita . hatinya begitu pedih mengingat semua penderitaan yang di alami sahabatnya , entah apa yang harus ia lakukan untuknya.
“ jika satu jam lagi ia belum siuman, kita bawa ke klinik saja” tiba-tiba suara dari arah pintu membuyarkan lamunan Anita, di tatapnya wajah kakaknya itu dengan ekspresi cemas.
“ iya kak, tapi…aku khawatir jika Niah tidak akan mau dibawa ke tempat umum saat ini” ucap Anita memperlihatkan wajah lesu. Arya melangkah mendekati adiknya , adik satu-satunya yang sangat ia sayangi , wanita mungil berhijab yang mempunyai jiwa sosial yang tinggi , ia tak akan mampu melihat siapapun menderita di depannya apalagi sahabatnya sendiri. Arya membelai kepala adiknya “ kamu jangan khawatir, Niah hanya shock saja Nit” ucap Arya sambil menatap mata sipit adik kesayangannya itu. mereka berdua memang mirip , wajah oriental yang tegas berasal dari turunan neneknya yang memang berasal dari negeri tirai bambu, namun sudah menetap lama di Indonesia.
Ayah ibunya adalah muallaf namun ketaatannya dalam beragama membuat anak-anak mereka jadi anak yang taat pula, walaupun mereka jarang berada di rumah, bisnis kuliner seafood mereka yang menggurita hingga hampir seluruh pelosok negeri hingga luar negeri mengharuskan mereka selalu melakukan perjalanan keluar, namun pondasi agama yang mereka tanamkan kepada kedua anaknya sangat kuat sehingga mereka tumbuh jadi anak yang agamis.
Mata Niah perlahan terbuka , ia memicingkan matanya saat tersadar dua orang sedang duduk berdua menungguinya siuman. Arya segera menyodorkan air minum padanya karena takut Niah mengalami dehidrasi setelah pingsan agak lama, sementara Anita membantu Niah bangun, ia menyangga punggung Niah dengan guling agar dapat duduk meskipun dengan posisi bersandar.
__ADS_1
Air mata Niah kembali berderai menyaksikan dua orang kakak beradik itu begitu perhatian padanya. Di saat ia berada di titik terendah hidupnya Allah mengirimkan orang-orang berhati malaikat padanya.
Selama beberapa hari Niah mengurung diri saja di kamar Anita, ia tak berani keluar menghadapi dunia luar, ia malu jika ada yang mengenalinya, apa yang harus ia katakan pada orang- orang . Anita merawatnya dengan telaten , wanita muda nan lembut itu memperlakukan Niah layaknya saudara sendiri, Niah banyak belajar dari Anita , terutama tentang hidup, Anita selalu menguatkan Niah agar senantiasa berpegang pada keyakinan bahwa Allah ada di setiap langkah kita. Anita mengajarinya untuk optimis menjalani kembali hidupnya “ Tuhan akan memberikan hadiah bagi hambaNya yang bersabar” kata-kata itu yang selalu Anita dengungkan di telinga Niah.
Niah mulai belajar mengaji, mengerjakan sholat lima waktu tentu saja dengan bimbingan Anita. Niah seperti menemukan sosok sahabat sekaligus guru spiritual untuk mentalnya yang sedang goyah.
“kamu harus bangkit Niah! Aku yakin kamu bisa menghadapi semua ini!”. ucap Niah tegas , “Tapi aku merasa sudah sangat hina Nit… , aku kotor dan menjijikkan” ucap Niah dengan perasaan hancur dan putus asa. Anita mengusap air mata di wajah sahabatnya itu, “Kamu tau sahabat Rasulullah Umar bin Khattab?” Anita menatap mata Niah dalam, “Sebelum memeluk islam beliau adalah orang yang sangat dzalim, berulang kali beliau berencana membunuh Rasulullah SAW, bahkan beliau adalah orang yang sangat ditakuti penduduk Mekkah karena kebengisannya, tapi kenyataannya beliau menjadi sahabat setia Rasulullah setelah masuk islam dan beliau bahkan menjadi salah satu sahabat yang di jamin masuk syurga… sesungguhnya Allah tidak menilai masa lalu kita , tapi Allah menilai apa yang kita lakukan saat ini dan yang akan datang hingga ajal menjemput” Anita menggenggam tangan Niah untuk meyakinkan Niah bahwa ia bisa bangkit kembali menata puing- puing hatinya yang terserak karena begitu banyaknya cobaan yang menghampiri hidupnya.
“ Aku akan ke kantor Polisi besok” ucap Niah tiba-tiba , Anita tersenyum lega mendengarnya, ia segera menghubungi kakaknya untuk memberitahukan tentang keinginan Niah, agar masalahnya segera selesai.
Keesokan harinya dengan mengendarai mobil Arya mereka berangkat ke kantor polisi. Niah menceritakan semua secara mendetail sejak pertama masuk ke dalam jebakan Ninis hingga akhirnya ia lari bersama Reza dan terjadi kecelakaan yang merenggut nyawa Reza. Niah kembali menangis tersedu mengingat kejadian tragis malam itu , Niah menceritakan tentang pengejaran yang di lakukan padanya oleh anak buah Ninis hingga sampai di rumah Anita, agar dokter Arya terbebas dari tuduhan.
__ADS_1
Polisi mencatat semua laporan Niah, tak lupa Niah memperlihatkan semua sms –sms ancaman Ninis padanya, itu bisa jadi bukti yang kuat untuk menjebloskan Ninis dan komplotannya ke penjara. Tak lupa menceritakan tentang kehilangan sahabatnya Rini di tempat itu, Niah takut terjadi sesuatu pada Rini.
Niah pulang dengan perasaan lega walaupun tidak sepenuhnya lega karena rekaman video syurnya masih beredar hingga saat ini, namun pihak kepolisian berjanji untuk memberikan klarifikasi di media tentang kenyataan dibalik video syur itu.
Setelah polisi melakukan pengejaran selama tiga hari mereka berhasil meringkus Ninis dan para komplotannya walau menemui banyak kesulitan karena kejahatan mereka sangat terorganisir ada banyak pejabat-pejabat teras yang melindungi mereka sehingga butuh kehati-hatian untuk menemukan bukti kejahatan terstruktur mereka.
Niah kembali berangkat ke kantor polisi dengan ditemani Anita dan Arya untuk mendengar kabar Rini sahabatnya , polisi mengatakan mereka sudah menemukan titik terang tentang keberadaan Rini.
“ Begini mba…keberadaan teman mba itu sudah kami telusuri” polisi itu terdiam sejenak untuk melihat ekspresi wajah Niah. Setelah cukup yakin polisi itupun kembali menjelaskan penemuan informasi tentang Rini. “Sebenarnya teman mba itu …bunuh diri sehari setelah penculikan kalian!” keterangan polisi itu membuat Niah , Anita dan juga Arya terperangah mendengar semua itu, kenyataan itu ibarat sembilu yang mengiris hati Niah, sahabat yang telah menolongnya saat dirinya dalam kesulitan saat itu kini telah tiada, tanpa sadar Niah memukul-mukul dadanya , tangisnya pecah berderai , ada sesak yang tak mampu ia kuasai memenuhi rongga dadanya. Polisi yang memberi keterus pada Niah untuk sementara menghentikkan pembicaraan , ia menunggu hingga Niah sedikit tenang.
“Ninis dengan komplotannya telah mengubur Rini dengan berpura-pura sebagai keluarga Rini jadi tidak ada yang mencurigai mereka, mengingat memang Rini tak punya keluarga yang melaporkan kehilangan dirinya” lanjut polisi muda berwajah tanpan itu dengan tatapan iba.
__ADS_1
Niah kembali meratapi kepergian sahabatanya itu “mengapa orang-orang terdekatku semua meninggalkan aku? Pertama Bintang anakku, kemudian Reza dan hari ini ia mendapati kenyataan Rini sahabatku juga telah pergi untuk selamanya” jerit Niah sambil menangis sekeras-kerasnya. Anita dan Arya panik berusaha menenangkan Niah.