Pelarian

Pelarian
Kecewa


__ADS_3

Genap sebulan kematian pak Adi. Niah bingung bagaimana mengurusi perusahaan besar Papanya. Meskipun ia kuliah ilmu manajemen namun pengalaman langsung di lapangan sama sekali tak ada. Yang  membuatnya lebih terpuruk lagi, karena banyak perusahaan-perusahaan yang dulu bekerjasama dengan Papanya memutuskan kontrak secara sepihak dikarenakan reputasi Niah yang jatuh akibat video asusila itu.


Niah berusaha untuk bangkit kembali dengan dukungan dari Anita dan dokter Arya, ia harus berusaha tegar untuk kesembuhan Mamanya, apalagi pengobatan mamanya memakan banyak biaya, jika ia tidak berusaha memperbaiki kondisi perusahaan Papanya, maka di mana ia bisa memperoleh uang untuk itu. belum lagi biaya hidup, gaji karyawan serta para Art dan  tukang kebunnya.


“Apa yang kamu pikirkan Niah.” 


Tiba-tiba suara seorang lelaki dari belakang membuyarkan lamunan Niah. Lelaki itu duduk di bangku panjang halaman belakang rumah Niah.


“Eh,Dokter Arya, mmm, tidak ada apa-apa,Dok, cuma agak sedikit bingung dengan perusahaan Papaku yang sekarang berada di ujung tanduk, aku tidak tau harus bagaimana?” ucap Niah agak kikuk karena baru kali ini Arya tiba-tiba menemuinya sendiri tanpa Anita.


Dokter Arya menarik nafas pelan kemudian menghembusknnya berat, seperti ada yang hal penting yang ingin di sampaikan kepada Niah. 


“Ada apa yah dok?” tanya Niah berusaha mencairkan suasana canggung di antara mereka.


“Niah, sebenarnya berat aku mengatakan ini, apalagi di situasi seperti sekarang,” Arya menghentikan ucapannya , Niah mengerutkan dahi tak mengerti atas  apa yang dokter Arya katakan.


“Ada apa dok?” Tanya Niah tak mampu menahan rasa penasarannya melihat tingkah Arya yang agak aneh.


“Begini Niah, maaf jika aku harus mengatakan ini,  sebenarnya aku ingin pamit dari rumah ini, aku merasa tak enak jika harus selalu berada di sini, ini tidak benar Niah,” jawab dokter Arya berhati-hati memilih kata agar Niah tidak merasa tersinggung. 


Niah terdiam mendengar jawaban Arya, ia merasa bersalah telah menyeret Arya masuk dalam permasalahan keluarganya. 


Mungkin karena ia menganggap dokter Arya seperti Kakaknya sendiri, jadi ia merasa nyaman. Selama ini Arya selalu berada di sampingnya di setiap permasalahannya.


“Iya, Dok, aku mengerti, tidak apa-apa, Dok, Insyaa Allah aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mengatasi masalah ini. Memang tak seharusnya aku terus-terus menggunakan Arya untuk membohongi Mama, cepat atau lambat Mama pasti akan tau juga,” ada air bening yang menetes di sudut mata Niah mengucapkan kata itu membuat Arya merasa tidak tega melihatnya.


“ Maaf, aku tak bermaksud membuatmu sedih, ini salahku ,andaikan saya tidak berbohong dari awal mungkin situasinya tidak seperti ini.” 


Ada sesal dari nada bicara Arya, ia sebenarnya sangat menyayangi Niah seperti Adiknya sendiri, tapi tak mungkin ia terus berada di rumah itu. 

__ADS_1


Tatapan sinis dari tetangga sering kali mampir di matanya, bahkan gosip mereka pada saat belanja di tukang sayur tidak lain hanya tentang Niah dan videonya.


 Mereka selalu berbisik tentang keberadaan dokter Arya di rumah Niah, mereka tak percaya kalau dokter Arya adalah suami Niah, dan memang seperti itulah kenyataannya.


“Aku akan bicara pelan-pelan kepada Mama, jadi Dokter Arya tak perlu khawatir” ucap Niah memecah kesunyian, ia berusaha tegar di depan Arya, walaupun kenyataannya kecemasan yang sangat besar yang menelusup di relung hatinya yang terdalam. 


Bagaimana ia mampu mengatakan hal ini pada Mamanya, sedangkan kondisi Mamanya sekarang sangat kacau, Bagaimana jika mamanya tak mampu menerima kenyataan ini?


Arya memperhatikan wajah cemas Niah dengan seksama, Arya merasa ada yang tak beres dengan Niah.


Bulir-bulir keringat sebesar biji jagung memenuhi keningnya, wajahnya pucat ada garis hitam di bawah matanya. Arya jelas melihat tangan Niah mulai gemetar dan berkeringat . 


“Niah, kamu tak apa-apa?” tanya Arya , namun Niah tak menjawab. 


Niah memicingkan matanya kemudian berusaha membukanya namun pengheliatannya buram wajah Arya terlihat kembar di matanya, kepalanya pusing dan kemudian perlahan gelap. Dokter Arya segera menangkap tubuh Niah yang kemudian ambruk ke tanah. Ia panik dan segera menggendong tubuh Niah masuk ke dalam rumah.


Mba Asri yang melihat dokter Arya menggendong Niah terlihat sangat cemas “Mbak, tolong panggil Anita di kamar ibu,” sahut dokter Arya kemudian membawa Niah masuk dalam kamarnya. Wanita paruh baya itu segera berlari menuju kamar bu Ratih tempat Anita berada.


“Aku juga tak tau Nit, tadi aku cuma bercakap-cakap di halaman dengannya, tiba-tiba Niah pingsan,” jawab Arya sambil memeriksa Niah. 


“Kakak bicara dengan Niah berdua?” Tanya Anita mengerutkan dahinya tidak mengerti, untuk apa kakaknya dengan Niah, apalagi berdua. 


“Iya, kami membicarakan sesuatu, tiba-tiba ia ambruk,” Arya kemudian duduk setelah memeriksa kondisi Niah.


“Bagaimana keadaannya,Kak?Tanya Anita masih khawatir


“sepertinya Niah cuma kelelahan dan stress, tekanan darahnya juga sangat rendah sebaiknya biarkan ia istirahat” ucap dokter Arya sambil melangkah keluar menerima panggilan dari ponselnya.


“Nit, aku ke rumah sakit dulu yah, ada operasi darurat,” sahut dokter Arya sambil melangkah pergi dengan terburu-buru.

__ADS_1


Anita melangkah mendekati Niah yang masih terbaring tidak sadarkan diri, ia memperhatikan wajah sahabatnya itu.


Wajah yang dulu selalu riang, sekarang di penuhi mendung hitam kesedihan. 


Anita sangat kasihan padanya, begitu banyak cobaan yang harus ia hadapi sendiri sekarang. Air menetes dari sudut mata Anita, hatinya perih dan sedih namun tak banyak yang bisa ia perbuat untuknya.


Setelah operasi selesai dokter Arya melangkah cepat untuk pulang umtuk melihat kedaan Niah, hampir 4 jam ia melakukan operasi pengangkatan kanker usus yang telah menyebar di hampir semua usus pasien.


Dokter Arya sangat lelah namun ia juga khawatir akan kondisi Niah di rumah, ia merasa bersalah telah mengatakan  akan jujur pada Niah tentang status mereka, di saat situasi Niah dalam keadaan serba terjepit, seharusnya ia bertahan sebentar lagi sampai keadaan Niah agak membaik.


Tiba-tiba ia bertemu Pipit di pintu masuk ruangannya saat akan mengambil tasnya untuk pulang. Sepertinya wanita cantik itu memang sedang menunggunya.


“Maaf, Dok! aku mau menyerahkan ini,” Pipit menyerahkan sepucuk surat undangan berwarna merah muda kepada Arya 


“Datang yah, Dok, ke acara pernikahanku hari minggu nanti,” ucap dokter muda itu dengan senyum mengembang yang sukses membuat Arya seoalah kehilangan keseimbangan. Ia kemudian berlalu meninggalkan Arya yang berdiri mematung dengan kekecewaan yang amat dalam.


Arya tak jadi pulang ke rumah Niah, ia hanya menelpon dan menanyakan kabar Niah yang menurut adiknya sudah membaik.


Arya langsung pulang ke rumahnya dan berusaha meredam kecamuk batinnya yang bergejolak. Ia mencoba menenangkan hatinya degan membaca al quran setelah sholat isya, ia terus melantunkan ayat suci itu hingga tertidur di atas sajadahnya.


Keesokan harinya dokter Arya tetap ke rumah sakit dan melakukan aktifitas seperti biasa, ia sengaja menyibukkan diri untuk melupakan kesedihannya.


Hingga ponselnya berdering beberapa kali ia tak menyadarinya. Barulah setelah jam makan siang ia melihat ada panggilan tidak terjawab dari Anita sebanyak lima kali, buru-buru ia menghubungi Anita kembali.


“Assalamu alaikum, Nit, ada apa?” Arya mendengar suara serak dari ujung sana.


“Wa alaikum salam, Kak, ibu Ratih mengamuk lagi, bahkan tadi hampir bunuh diri,” jawab Anita dengan suara bergetar.


"Astaghfirullahul adzim," ucap Arya terkejut.

__ADS_1


“Baiklah, saya segera ke sana,” Arya langsung berlari mengambil kunci mobil yang terletak di atas meja kerjanya dan meluncur ke rumah Niah.


__ADS_2