
Hasrat
Hasrat
Kian dan Nadine sudah berada di dalam mobil. Hening tercipta di sana. Tak ada yang hendak memulai bicara baik Kian maupun Nadine. Mereka berdua nampak asyik dengan pikiran masing-masing. Kian memikirkan perbuatannya tadi malam yang ternyata sulit ia lupakan. Sedangkan Nadine memikirkan apa yang dikatakan ibunya.
Nadine tergelitik ingin menanyakan langsung kepada Kian. Ia tak ingin mempercayai penuh apa yang diucapkan ibu sebelum ia tahu sendiri kebenarannya. Benarkah Kian tengah menekan gairahnya?
Makin penasaran, Nadine memutuskan untuk menanyakan apa yang ia pikirkan pada Kian. Ia tak ingin membuat kesimpulan sendiri. Karena belum tentu kesimpulan yang ia buat bernilai benar adanya.
"Mas, tadi malam, ibu nggak sengaja lihat kamu masuk ke kamar mandi bawa panci, ngapain?" Tanya Nadine. Namun setelah tanya itu terucap, Nadine mengutuki dirinya sendiri, karena bukan itu yang ingin Nadine tanyakan.
"Yang mau ditanyain A, eee yang keluar malah yang B" gumam Nadine dalam hati.
Kian sempat terkejut dengan apa yang ditanyakan Nadine. Padahal ia merasa sudah berhati-hati, melangkah pelan, dan menyalakan kompor gas untuk membuat air panas dengan penuh perasaan, pokoknya ia berusaha seperti mobil panther gitu yang katanya nyaris tak terdengar. Demi agar tidak berisik sehingga membangunkan penghuni rumah. Nyatanya, ada juga penghuni rumah yang tahu apa yang dilakukannya.
"Iya, tadi malam mas bawa panci ke kamar mandi. Isi pancinya air panas" jawab Kian singkat. Kalau boleh, Kian malah ingin pembahasan soal ke kamar mandi bawa panci usai di sini.
"Air panas? Mas mandi air hangat?" Tanya Nadine lagi.
"Iya" Kali ini jawaban Kian amat sangat singkat.
"Kenapa mandi air hangat malam-malam, Mas?" Selidik Nadine.
"Engggggg...buat itu..." Kian menggantungkan kalimatnya. Ia ragu, apakah harus berkata jujur atau bohong. Kalau jujur, konsekuensinya, ia akan diterpa malu, namun buruknya Nadine bakal ngamuk lagi. Kalau Nadine sampai jadi banteng lagi, duh, Kian merasa akan makin susah mendapatkan hati Nadine. Sedangkan jika ia bohong, tentu dosa ia dapat, namun posisinya aman, ia tak malu juga Nadine tak marah.
"Pilih mana, donk, Manusia?" Ucap Kian dalam hati.
Kian mengerutkan alisnya. Ia nampak berpikir peras untuk mencari jawaban yang tepat. Jawaban yang tidak menambah dosanya yang sudah segambreng dan jawaban yang tidak membuat Nadine melaknatnya.
"Buat apa, Mas?" Tanya Nadine nampak tak sabar.
"Mas susah tidur tadi malam, jadi mas mandi buat rileksasi biar bisa tidur nyenyak" jelas Kian. Ini penjelasan paling aman menurut Kian. Tak ada unsur bohong di sana. Memang benar, Kian tidak bisa tidur karena tergoda dengan kemolekan istrinya hingga berhasil membuat salah satu bagian tubuhnya menegang parah. Oleh sebab itu, Kian memutuskan untuk mandi air hangat untuk merelaksasi kan bagian tubuhnya yang menegang lantang. Jika sudah rileks, Kian dapat tidur nyenyak.
__ADS_1
"Ooohhh..gitu, aku pikir karena apa, Mas" respon Nadine santai.
"Kamu pikir karena apa emangnya?"
"Kata ibu, mandi air hangat tujuannya untuk menghentikan hasrat" jawaban Nadine mengikuti apa yang dikatakan ibunya.
"Waduh" Kian mulai grogi.
"Kata ibu juga, mandi air hangat nggak baik untuk pria" imbuh Nadine. Ia benar-benar mengingat apa yang dikatakan ibunya.
Nadine cukup terusik dengan apa yang dikatakan ibunya. Di satu sisi, ada rasa kasihan pada Kian yang menyelinap dihatinya. Karena ia tak mau melakukan hubungan suami istri tanpa cinta, membuat Kian memendam hasratnya dengan mandi air hangat. Sedangkan mandi air hangat sendiri bisa berdampak negatif terhadap Kian.
Namun di sisi lain, ia tidak bisa menyerahkan semua miliknya pada laki-laki yang tidak ia cintai. Lagipula, penilaian Nadine tentang Kian yang merupakan seorang laki-laki ********, belum hilang sepenuhnya. Ia masih memerlukan bukti-bukti untuk membuktikan bahwa Kian bukan pria ********.
Memang, sejak menikah, Kian sudah menunjukkan bahwa ia adalah pria baik-baik. Ia amat mahir melayani Nadine. Kian juga tidak pernah memaksa Nadine. Momen tempel menempel ketempelan kemarin juga karena sepengetahuan Nadine, dan lagi-lagi Kian tidak memaksanya. Nadine sendiri yang membiarkan Kian menempel padanya. Menurut Nadine, kalau cuma sekedar Kian minta nempel padanya, rasanya tidak jadi masalah.
"Kalau beneran memang mas mandi air hangat untuk menekan hasrat mas, gimana? Menurutmu gimana? Kamu nggak kasihan sama mas, kan kata ibu mandi air hangat tidak baik untuk mas. Kamu tega sesuatu terjadi pada suami kamu" Kian mencari celah. Ia mau memanfaatkan peluang sebaik mungkin.
"Aku nggak mau melakukan hubungan suami istri tanpa rasa cinta" jawab Nadine. Kian kecewa, usahanya gagal.
"Aku pengin melakukan itu dengan orang yang aku cinta dan juga cinta sama aku." Imbuh Nadine.
Kian belum menyerah. Ia masih mencari celah.
"Tapi beberapa kasus yang sama dengan kita, dimana hanya satu pihak yang mencinta yakni suami saja, setelah berhubungan intim dengan suami, seketika benih cinta itu tumbuh subur di hati istri. Kamu bisa mencoba ini. Kalau kamu mau, Mas pastikan, setelah kita bercinta, kamu pasti akan jatuh cinta pada Mas" Kian antusias. Namun Nadine menggeleng cepat.
"Aku tidak bisa melakukan yang seperti itu" Ungkap Nadine. Ia arahkan pandangan matanya fokus pada Kian. Nadine mendapati perubahan ekspresi di wajah Kian. Tadinya antusias, berubah pias.
"Maafkan aku, ya, Mas" pinta Nadine. Kian mengangguk.
"Nggak apa-apa, Mas paham" kata Kian, mengulas senyum lalu menatap Nadine sekilas.
"Bersabarlah sebentar, aku yakin nggak lama lagi aku bisa memenuhi kewajibanku sebagai istri kamu, Mas" kata Nadine. Kian mengangguk kuat.
__ADS_1
Kalau boleh Kian mengartikan kalimat Nadine. Saat ini, Nadine tengah berusaha mencintainya. Ini berarti anggapan Nadine bahwa ia laki-laki ******** sudah sirna.
Kian senang memikirkan hal itu. Usahanya untuk mendapatkan hati Nadine selangkah lebih maju.
Tapi, meskipun begitu, Kian tak ingin bersantai-santai saja. Kian tetap akan berusaha sekuat tenaga mendapatkan hati istrinya. Syukur-syukur, jika ia bisa cepat-cepat mendapatkan hati istrinya. Pasti rasanya membahagiakan sekali, pikir Kian.
"Ah membayangkannya saja, sudah bikin aku bahagia" gumam Kian dalam hati.
"Makasih, ya, I love you, Honey" ucap Kian sembari menggamit tangan Nadine, lalu menggenggam erat tangan itu.
Jadinya, sepanjang jalan yang bukan jalan kenangan, mereka saling bergandengan tangan.
***
Hai, Readers.
Makasih banyak sudah berkunjung ke sini. Mohon bantuan like, komen, dan rate-nya yak. Kalau berkenan, nge-vote juga boleh, senang sekali.
Buat Authors,
makasih juga kunjungannya yak.
please, tinggalkan jejak agar aku bisa mengunjungimu kembali.
salam terlove,
dari aku.
😊
Nb:
Penelitian menunjukkan bahwa meningkatkan suhu testis dengan kegiatan yang menghasilkan panas di sekitar skrotum — seperti berendam air panas, memakai celana dalam/pakaian ketat, sauna, atau bersepeda — dapat menyebabkan penurunan kualitas dan jumlah produksi ******, bahkan mortilitas. Hal ini dapat mengurangi kesuburan pria. Sumber hallosehat(dot)com.
__ADS_1