Pelarian

Pelarian
Honeymoon


__ADS_3

Honeymoon


Malam tiba.


Kian dan Nadine sudah berada di pesawat. Tadi, sebelum berangkat, mereka singgah ke tempat Heru. Heru meminta Nadine membawa beberapa data untuk melengkapi syarat mendaftar gugat cerai. Heru mengatakan, besok ia akan memasukan gugat cerai Nadine pada Kian ke pengadilan agama. Heru juga mengatakan ia akan berusaha untuk mempercepat proses perceraian sesuai dengan permintaan Nadine.


Di pesawat, Kian meletakkan kepalanya di bahu Nadine. Nadine menegakkan tubuhnya agar Kian nyaman. Kian juga menggenggam tangan Nadine erat. Sekali-kali ia mencium, mengusap telapak atau punggung tangan Nadine.


2 jam kemudian mereka berdua tiba di kamar hotel yang sudah di pesan Kian. Kamar itu berukuran besar, memiliki pemandangan laut, juga punya private pool. Nadine terkesima dengan desain interior kamarnya. Jiwa fotografinya seketika muncul lalu ia pun mulai beraksi dengan kameranya. Kian yang melihat aksi istrinya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia memilih untuk merapikan barang bawaan mereka.


"Bagus bangeeettt, Mas" kata Nadine sembari memeluk Kian dari belakang.


"Kamu suka?"


"Hu um"


"Sama, Mas juga suka kamu"


"Yeeee, bukan itu kali" Nadine melepaskan pelukannya.


"Perlu bantuan, nggak?"

__ADS_1


"Telat, udah selesai" Kali ini Kian menghadap Nadine. Gantian, ia yang memeluk Nadine.


"Sekarang, yuk?" Kian tersenyum menggoda.


"Ngapain?" Tanya Nadine pura-pura bodoh.


"Ya gitu itu"


"Apa an?"


"Ngelanjutin yang kemarin, yuk" Kian mulai menggerayangi Nadine.


"Nanti Mas pijitin, janji"


"Nggak, aku mau mandi"


"Jangan, ini sudah tengah malam, langsung tidur aja, yuk" ajak Kian.


"Badanku gerah, Mas, aku ke kamar mandi dulu, ya. Kamu tidur duluan nggak apa-apa" Nadine pergi ke kamar mandi. Harap Nadine Kian tidur duluan. Dia belum siap jika Kian meminta haknya sekarang.


Entah, Nadine merasa ada yang sakit di hatinya. Bukan, bukan sakit karena melihat Kian tidur sama Riani. Melainkan sakit karena setelah ini, mereka tidak akan bersama lagi. Sakit karena momen-momen bahagia yang mereka buat kali ini akan membawa mereka pada perpisahan.

__ADS_1


Selesai membersihkan diri, Nadine membuka pintu kamar mandi perlahan. Ia melihat Kian sudah merebahkan dirinya di ranjang. Nadine juga melihat tidak ada pergerakan di sana. Jadi Kian benar benar sudah tidur.


Nadine lega, kebetulan ia juga lupa membawa baju ganti. Jadi karena Kian sudah tidur, Nadine pun keluar kamar dengan hanya menggunakan handuk yang menyelimuti sebagian tubuhnya serta handuk kecil yang menyelimuti rambutnya.


Ia lalu menuju lemari yang terletak di sudut kamar untuk mengambil pakaian ganti. Nadine tersenyum melihat hasil pekerjaan Kian yang berhasil dengan baik menata pakaian mereka di sana. Rapi sekali. Suaminya itu memang bisa diandalkan termasuk dalam hal pekerjaan rumah tangga sekalipun. Nadine merasa beruntung.


Saking asyiknya Nadine mengagumi pekerjaan suaminya, ia tak tahu bahwa Kian sudah tepat berada di belakangnya. Maka saat Kian meletakkan dagunya di bahu Nadine lalu melingkarkan tangannya di pinggang Nadine, ia cukup tersentak.


"Mas..." Ucap Nadine.


"Hem.." hanya itulah respon Kian. Karena kemudian ia disibukkan dengan aksi menciumi dan menghisap lembut leher Nadine. Tangan Kian juga turut beraksi. Bukan hanya satu, melainkan dua-duanya. Satu tangan membelai tubuh Nadine bagian bawah, mulai dari paha, hingga membelai area inti Nadine. Satu tangan lainnya. Tangan itu membelai tubuh Nadine bagian depan. Mulai dari perut, lalu ke dada Nadine. Tak lama bermain di sana, tangan Kian berada di simpul handuk, hendak melepasnya. Namun, susah, karena ditahan oleh tangan Nadine.


"Mas, ja..ngan..." ucap Nadine di sisa-sisa kesadarannya.


Kian yang sudah bergairah, tak peduli lagi dengan permintaan Nadine. Ia memang memindahkan tangannya yang berusaha melepaskan handuk Nadine ke area pinggang, namun satu tangan lainnya yang sebelumnya hanya membelai dari luar handuk, kini malah sudah menyusup ke dalam dan tengah bermain di bagian inti Nadine.


Mendapatkan perlukan itu, membuat Nadine meremang. Satu desahan pun lolos dari bibirnya. Meskipun begitu, Nadine masih cukup sadar. Tangannya yang semula memegangi simpul handuknya, beralih memegangi tangan Kian yang nampak asyik bermain di inti Nadine. Ya, Nadine hendak menarik tangan Kian yang bermain di intinya. Ia tahu betul, Jika membiarkan Kian bermain lebih lama di sana, ia akan benar-benar kehilangan kesadarannya. Dan benar saja, tak lama, Nadine mencapai pelepasan. Pelepasan pertama baginya.


Seketika, tubuh Nadine melemas. Dengan cepat Kian menopang tubuh istrinya itu. Ia mengangkat tubuh Nadine lalu membawanya ke ranjang. Ia rebahkan tubuh Nadine di sana, dan tanpa basa-basi Kian kembali menyerang Nadine. Dan akhirnya, setelah menunggu nyaris 3 bulan, Kian berhasil menyatukan tubuhnya dengan Nadine.


***

__ADS_1


__ADS_2