
Dika bergegas pulang ke rumah setelah berbincang dengan Kian. Ia ingin segera bertemu dengan mbak satu-satunya itu. Ia tidak jadi ikut futsal. Ia ingin menanyakan langsung kepada Nadine perihal perceraian mbaknya itu dengan Kian.
Sepanjang perjalanan pulang Dika memikirkan ucapan-ucapan Kian. Ia tidak menyangka bahwa kecurigaannya itu benar-benar terjadi.
Ya, Dika memang sempat menaruh curiga pasti ada yang tidak beres. Karena ia merasa Kian tak mungkin melewati momen atau kondisi penting istrinya hanya demi pekerjaan sebagaimana alasan yang dikatakan mbaknya itu.
Dika merasa Kian bukan tipe orang seperti itu. Namun, ia mencoba menepis rasa curiganya itu. Ia meyakini diri bahwa pernikahan kakaknya itu baik-baik saja.
Lalu, kini, kecurigaannya, pertanyaan-pertanyaan mengenai kealpaan Kian pada hari wisuda Nadine, hingga Nadine dirawat, terjawab sudah. Kian tidak datang karena mereka sudah berpisah dan mbaknya itu benar-benar ingin menjauh dari Kian.
Tak habis pikir, Dika mengusap wajahnya gusar. Ia pikir sifat mbaknya yang suka memendam masalah sendiri itu bakal berubah setelah menikah. Nyatanya, sifat itu masih mengakar di Nadine.
Nadine memang pintar menyembunyikan masalah yang tengah ia hadapi. Karakternya yang cuek membuatnya terlihat hidup tanpa beban. Ia sama saja dengan yang lainnya, juga dihinggapi problematika kehidupan. Ia memilih untuk menghadapi dan menyelesaikan masalahnya sendiri ketimbang meminta pendapat atau solusi dari orang lain.
Menurutnya, orang lain tidak pernah berada dalam posisinya sehingga tidak tahu solusi yang tepat atas masalah yang tengah ia hadapi. Padahal belum tentu solusi yang ia buat itu adalah yang terbaik.
Salah satunya saat ia memiliki masalah susah fokus menyelesaikan tugas akhir. Solusi yang ia pilih adalah dengan meminta Kian menjauh namun tetap mau menjalin pertemanan dengan Heru. Seharusnya, saat itu, Nadine berhenti berhubungan dengan Kian maupun Heru. Solusi itu malah berakhir pada ia dilabrak hingga difitnah oleh Ria, mantan istri Heru.
Sayangnya, Nadine belum juga melek dengan kebiasaan buruknya yang suka memendam, dan menyelesaikan masalah sendiri tanpa mau bercerita hingga mendengarkan pendapat orang lain. Kalaupun ia mau mendengarkan pendapat orang lain, ini adalah hal yang amat langka.
Tak ada salahnya bercerita atau meminta pendapat orang lain, selama orang itu minimal memang dapat dipercaya dan tidak provokatif. Toh, juga tidak ada keharusan memakai solusi yang disarankan. Pendapat orang lain itu memberi pertimbangan dan meminimalisir terjadinya kesalahan dalam merumuskan solusi.
Sembari mencari solusi, biasanya Nadine mencari pelarian dari masalahnya dulu. Misal dengan menyibukkan diri, dengan travelling, atau makan, nonton, baca novel dan sebagainya. Pokoknya apapun yang membuatnya bisa mengalihkan otaknya dari memikirkan masalah yang tengah ia hadapi. Syukur-syukur jika otaknya lupa dengan masalah tersebut. Namun, meskipun sudah melakukan pelarian, ia tak pernah lupa dengan masalah yang dihadapi. Tapi memang seharusnya seperti itu, bukan? Masalah untuk dihadapi dan dicari solusi. Bukan mencari pelarian untuk menghindari masalah bahkan sampai lupa punya masalah. Ya begitulah Nadine. Ada baik, ada buruknya juga.
Dika sudah tiba di rumah. Ia bergegas menemui mbaknya yang sedang nonton drama korea its okay to not be okay secara maraton di kamarnya.
"Mbak, aku masuk, ya" kata Dika setelah mengetuk pintu kamar Nadine.
"Masuk aja, Ka" Sahut Nadine.
Dika membuka pintu kamar Nadine lalu duduk di kursi meja belajar Nadine.
"Mana?" Tanya Nadine. Dika menyerahkan semua makanan pesanan Nadine beserta titipan Kian. Nadine meletakkan setoples kacang atom yang ia pegang ke bawah tempat tidurnya. Lalu ia mengambil apa yang diserahkan Dika.
__ADS_1
"Koq banyak? Mbak kan cuma pesan makan?" Nadine heran.
"Itu dari Mas Kian, mbak" jelas Dika.
"Ooo..."
"Eh apa!? Kian? Maksudmu ini dari Mas Kian?" Ulang Nadine sembari mengangkat 2 kantong belanjaan yang penuh camilan dan buah-buahan. Dika mengangguk. Nadine seketika tertunduk. Ia meletakkan kantong belanja tersebut di bawah tempat tidurnya. Lalu ia kembali memfokuskan matanya pada laptop. Nadine sedang berusaha menutup rasa sedih yang menyeruak hadir di hatinya dengan mencoba bersikap biasa.
Sementara itu, Dika menggelengkan kepalanya berkali-kali melihat tingkah mbaknya itu. Heran sekaligus takjub dengan kemampuan dan usaha Nadine demi menutupi fakta bahwa ia dan Kian sudah berpisah.
"Kamu ngapain masih di sini? Mau ikut nonton drama korea juga? Sini kalau gitu, deketan mbak" Nadine menepuk-nepuk sisi sebelahnya.
"Nggak, mbak" jawab Dika.
"Trus mau apa? Minta ini? Siomay? Bakso? Atau soto?"
"Nggak mau itu, mbak"
"Apa donk?"
"Jujur kacang ijo? Atau jujur jajanan pasar?" Nadine ngeles.
"Dih, serius nih"
"Apa apa? Bilang langsung. Jangan main tebak-tebakan. Mbak nggak bisa" ucap Nadine panjang.
"Tapi mbak harus jawab jujur"
"Tergantung pertanyaannya apa?"
"Dih, mbak, awas aja" Dika hendak bangkit dari duduknya. Namun, batal.
"Yaelah ngambek, iya iya, mbak usahakan jawab jujur"
__ADS_1
"Mbak cerai sama Mas Kian?" Tanya Dika langsung tanpa kalimat pembuka.
"Iya, tapi kamu jangan cerita ke Ibu atau Ayah" jawab Nadine jujur.
"Kenapa, sih, mbak? Nggak apa-apa kan orangtua tahu"
"Nggak apa-apa gimana? Mbak takut ayah ibu kecewa, sedih karena mbak bercerai padahal baru saja menikah" ungkap Nadine.
"Mbak memang berencana untuk bilang ke ayah juga ibu, tapi bukan sekarang" imbuhnya.
"Kan sama aja, mbak, ujungnya juga ayah ibu kecewa dengan perceraian mbak"
"Ya bedalah, Ka. Udah ya, nggak usah ngobrolin ini lagi. Mbak nggak mau membahas itu lagi" Nadine mulai membuka bungkus siomay dan mencoba tidak peduli akan kehadiran adiknya itu.
"Kenapa, sih, Mbak? Kenapa solusinya cerai? Kenapa nggak cari solusi lain? Misalnya dengan melaporkan Riani itu ke pihak berwajib?" Selidik Dika.
"Lalu setelah itu foto-foto intim mas Kian tersebar? Gitu, maksud kamu?" Nada bicara Nadine meninggi. Ia mulai kesal.
"Mbak nggak mau masa depan Mas Kian berantakan. Citra Mas Kian bisa tercoreng dan habis seketika gara-gara sesuatu hal yang tidak ia lakukan. Terlebih mas Kian adalah seorang pendidik yang bertanggung jawab memberi teladan yang baik pada mahasiswa didikannya. Belum lagi citranya yang terkenal sebagai seorang aktivis idealis. Hancur semuanya, Ka" Jelas Nadine.
"Coba kamu bayangkan jika foto-foto intim itu tersebar. Bayangkan dampaknya akan sebesar apa. Mas Kian nggak hanya akan hilang pekerjaan melainkan diblacklist. Sementara Mas Kian masih punya banyak tanggung jawab, salah satunya tanggung jawab dengan keluarganya. Siapa yang akan membiayai keluarganya kalau bukan Mas Kian? Kamu?" Nadine menghela nafas, berkali-kali. Mencoba meredam emosi.
"Siapa yang mau berpisah dengan Mas Kian? Mbak nggak mau, sebenarnya, mbak nggak mau. Berat, Ka, berpisah dengan laki-laki sebaik dia. Nggak mau, mbak nggak mau. Tapi mau bagaimana lagi? Itu satu-satunya cara mbak menyelamatkan laki-laki yang amat mbak cintai" Nadine bergegas mengusap air matanya yang hendak mengaliri pipinya.
"Ya pasti ada solusi lain selain pisah" Dika ngotot.
"Itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan Mas Kian, nggak ada pilihan lain"
"Ada, pasti ada, mbak kebiasaan memutuskan sendiri, padahal..."
"Dika, cukup, keluar dari kamar mbak, dan jangan bahas soal perceraian mbak sama Mas Kian lagi, di depan siapapun"
"Termasuk depan ibumu sendiri, Nad?"
__ADS_1
***