Pelarian

Pelarian
Coba Rasakan


__ADS_3

"Aku apa? Jadi orang nggak ada akhlak, gitu? Emang, aku emang nggak ada akhlak, maka dari itu, ceraikan saja aku, daripada kamu menjalin hubungan yang tidak bahagia dengan perempuan yang tidak ada akhlak sepertiku" seru Nadine.


Kian sempat terkejut dengan apa yang dikatakan Nadine. Belum juga usia rumah tangga seumur jagung bahkan bisa dibilang baru saja menanam benih, sudah terlontar kata cerai dari mulut istrinya itu.


Hhhhhhh...


Kian menghela nafas.


Kian nampak berusaha menghalau emosinya agar tak keluar meledak-ledak. Ia tak mau ikut emosi yang bisa berujung pada kehancuran rumah tangganya.


"Ceraikan saja aku, Mas, ceraikan" Nadine masih dikuasai emosi. Matanya memerah dan ada genangan air di sana. Nadine nampak akan menangis. Ia mengusap matanya kasar untuk menghapus linangan air di matanya.


Kian berjalan mendekati Nadine. Ia memegang tangan Nadine. Sayang, Nadine melepasnya kasar. Kemudian tangan Kian beralih ke pipi Nadine. Lagi, Nadine melepaskannya. Terakhir, Kian menarik pinggang Nadine dan memeluknya erat. Gagal, Nadine gagal melepaskan diri dari Kian karena Kian memeluknya dengan begitu erat.


Kian menunggu Nadine berhenti berontak. Dan benar saja, tak lama, Nadine berhenti berusaha melepaskan tubuhnya dari Kian.


"Kamu mau apa, Mas? Lepaskan aku. Kamu memaksa sama saja kamu melecehkan aku" ucap Nadine. Suaranya mulai bergetar. Ia sedang menahan tangis.


"Tenanglah, tunggu sebentar" pinta Kian. Nadine menurut. Ia mulai diam. Nafasnya yang memburu, kini berangsur-angsur tenang. Kian mulai memeluk Nadine.


"Tenanglah, Mas tidak akan melecehkanmu, Mas tahu hak-hakmu sebagai istri, juga hakmu sebagai wanita, percayalah" imbuh Kian.


Nadine mencerna apa yang dikatakan Kian. Kemudian Nadine teringat dengan dunia yang digeluti suaminya, dunia Hukum, dunia HAM.


"Tenang, ya" pinta Kian lagi.


Nadine mengangguk samar.


Lalu Kian semakin memeluk Nadine erat. Kian mengarahkan kepala Nadine mendekat di bahunya. Ia mulai memejamkan matanya.


Karena jarak yang begitu dekat, dan Nadine pun sudah menjadi lebih tenang, Nadine mulai bisa merasakan detakan di dada Kian. Detakan itu menderu, cepat sekali.


"Kamu bisa merasakannya, Sayang?" Tanya Kian.

__ADS_1


"Apa?"


"Perasaan Mas ke Kamu" ungkap Kian. Kini, tangan Kian mulai mengelus lembut rambut Nadine. Nadine diam saja. Ia tengah fokus pada detakan di dada Kian. Ia merasa, sejak Kian mengelus rambutnya, Nadine tak lagi merasakan detakan yang menderu dari dada Kian. Detakannya lebih tenang, tenang, lalu stabil. Nadine menikmati harmoni itu. Perlahan ia mulai memejamkan matanya juga. Ia juga mulai menikmati perlakukan Kian yang kali ini tengah memainkan rambutnya.


"Sayang, jangan pernah pergi dari Mas, ya, Mas janji akan berusaha membahagiakan kamu, percaya sama Mas." Kata Kian. Nadine mengangguk samar.


"Ya sudah, kamu istirahat dulu, mas mau keluar sebentar, nggak enak sama Ayah juga Dika" Kian lalu melepas pelukannya. Ia hendak melihat ekspresi Nadine namun gagal. Nadine memilih menundukkan wajahnya lalu segera beranjak meninggalkan Kian pergi keluar kamarnya.


Kian menghela nafas. Tidak berat, hanya ringan saja. Ia lega sudah berhasil mengungkapkan betapa dalam perasaannya pada Nadine, bahwa ia tidak ingin berpisah dari Nadine, bahwa Nadine adalah bagian penting dalam hidupnya, Nadine detak jiwa dan raganya. Ia berjanji akan berusaha membuat Nadine bahagia bersamanya.


***


Keesokan harinya, setelah Nadine selesai membantu ibu, Kian mengajak Nadine ke rumahnya. Sebelum tiba di sana, Kian sempat singgah di toko interior rumah untuk mengambil beberapa perabot rumah tangga yang sudah ia pesan sebelum menikah.


Nadine cukup familiar dengan perabot rumah tangga yang dibeli Kian. Ia sering menemukannya di timeline akun instagramnya. Nadine suka dengan pilihan perabot rumah tangga yang Kian beli. Namun lagi-lagi, tak ada pujian bagi Kian.


Tiba di rumah, Kian mempersilakan Nadine untuk duduk di tempat yang menurut Kian paling bersih. Sedangkan Kian pergi menyapa arsitek dan para tukang bangunan yang sedang melakukan finishing.


Nadine memanfaatkan waktu menunggu Kian dengan melihat-lihat rumah Kian. Nampak berantakan dan juga banyak perubahan. Terakhir kali, waktu Nadine ke rumah Kian, rumah itu sebagaimana rumah seorang bujang. Minim perabotan, dan abai akan posisi penempatan perabotan rumah tangga.


"Gimana? Ada yang kurang, nggak?" Tanya Kian yang tanpa Nadine sadari sudah ada disampingnya.


"Sejauh ini, belum ada" jawab Nadine. Lalu matanya menatap area kamar tidur.


"Kamar tidurnya cuma satu, Mas?"


"Iya, Sayang, tapi kalau kamu keberatan tidur sekamar dengan mas, mas bisa tidur di ruang kerja kita, ruang tengah, atau ruang tamu, Kamu tenang saja" Kata Kian sembari mengumbar senyumnya.


"Ruang kerja kita? Maksud kamu?"


"Jadi kamar bagian depan, Mas ubah jadi ruang kerja yang bisa Mas atau kamu pakai. Kamu bisa kerja di sana, menulis, mengambil foto hingga mengedit foto." Jelas Kian.


Nadine lalu berjalan menuju ke ruangan yang dimaksud Kian. Memang masih berantakan, namun Nadine merasa ruangan itu memang cocok untuk jadi ruang kerjanya. Tampilan dindingnya saja dibuat seperti desain dinding-dinding yang tersebar di pinterest.

__ADS_1


"Maaf ya, Mas belum bisa menyediakan kamu tempat kerja yang luas, yang nyaman, yang ada studio fotomu, fitting room dan sebagainya"


Nadine terdiam setelah mendengarkan ucapan Kian. Ia tak menyangka Kian tahu passionnya, Kian tahu kesukaannya, dan Kian mau mendukung passionnya.


"Makasih, Mas" ucap Nadine. Senyum tipis merekah di wajahnya. Manis sekali.


"Iya, kembali kasih istriku tersayang" Kian tersenyum. Jika saja perasaannya sudah terbalas, mungkin jika dalam momen ini, Kian akan memeluk Nadine dan menghujani bibirnya dengan ciuman.


"Ya sudah, kita pulang yuk, tapi ke rumah Mama dulu, gimana?" Kian mengajak Nadine ke rumah mamanya.


"Kamu mau, Kan? Dari kemarin Mama menanyakan kapan kita berkunjung kesana" imbuh Kian.


"Maaf, aku nggak bisa" tolak Nadine.


"Baiklah, nggak apa-apa, Mas pergi sendiri, kamu mas antar pulang dulu, ayo"


***


Hai, Readers.


Makasih banyak sudah berkunjung ke sini. Mohon bantuan like, komen, dan rate-nya yak. Kalau berkenan, nge-vote juga boleh, senang sekali.


Buat Authors,


makasih juga kunjungannya yak.


please, tinggalkan jejak agar aku bisa mengunjungimu kembali.


salam terlove,


dari aku.


😊

__ADS_1


Nb: besok aku nggak update dulu ya. karena besok jadwal berkunjung ke karya teman-teman author yang keren-keren di noveltoon ini.


__ADS_2