
Maaf
Kian tiba di rumah orangtuanya. Ia disambut oleh mamanya. Sudah cukup lama Kian tak pulang ke rumah orangtuanya.
Sementara Mama Kian, menatapi anak laki-lakinya itu, dari atas hingga bawah. Ia prihatin dengan kondisi Kian terbaru. Penampilan Kian begitu lusuh, wajahnya pun kuyu, nampak ada guratan lelah di situ. Dagu Kian bahkan ditumbuhi bulu. Ia benar-benar tak terurus dan tak mengurus diri. Ingin hati mama Kian menanyakan musabab Kian menjadi seperti sekarang, namun ia mengurungkan inginnya itu. Ia akan bertanya setelah ini saja.
"Ma, mama masak apa? Aku lapar, Ma. Belum makan sedari pagi" kata Kian. Ya, saking sibuknya mengikuti Riani dan menunggu Nadine, Kian melupakan urusan perutnya. Perutnya pun rupanya bisa diajak kompromi karena selama ia fokus, tak sedikitpun perutnya berbunyi sebagai salah satu tanda minta diisi. Barulah tiba di rumah dan mencium aroma masakan mamanya, perutnya mengeluarkan suara.
"Ya ampun kasihan bener, ayolah makan, Mama kebetulan masak makanan kesukaan kamu, sambal terong, dadar telur, sama keripik ikan asin" cerita Mama. Mendengar itu, Kian bergegas menuju meja makan.
Dengan lahap, Kian menghabiskan sepiring nasi dengan lauk pauk warna warni menghiasi piringnya. Tak cukup sekali, ia bahkan nambah sampai 2 kali.
"Alhamdulillah, kenyang" seru Kian senang. Baru kali ini, ia bisa merasakan rasa makanan yang ia makan. Selama masa berburu bukti, ia makan cepat-cepat sehingga tak sempat untuk merasakan rasa-rasa nikmat.
"Koq bisa sampai gini, sih, anak mama?" Tanya Mama.
"Do'akan aku ya, Ma, aku sudah punya bukti dan bahan yang cukup kuat untuk melemahkan orang yang menghancurkan rumah tanggaku. Tinggal 1 tahapan lagi. Selesai. Setelah itu, aku mau bersama Nadine lagi"
"Aamiin...aamiin...semoga dipermudah ya, Nak, usahamu mencari bukti untuk membela diri dan menyelamatkan hubunganmu dengan Nadine. Mama berharap banget kalian bisa bersama lagi." Do'a Mama Kian.
"Aku juga gitu, Ma, mau banget malah"
"Iya iya, yang cinta banget sama Nadine" goda Mama. Kian nyengir kuda.
"Dulu, waktu awal nikah, Mama sempat menaruh rasa tak suka dengan Nadine setelah Mama menyadari Nadine tidak cinta dan tidak peduli dengan kamu. Namun, setelah Mama melihat sendiri bagaimana Nadine mengkhawatirkan kamu waktu kamu sakit, bagaimana Nadine merawat kamu waktu sakit, Mama jadi mengubah penilaian Mama. Mama menganggap Nadine seperti Anak mama sendiri." Mama menghela nafas.
"Dan sekarang, rasanya, mama tak rela melepas Nadine. Mama ingin sekali ia kembali bersama kamu. Amat sangat ingin. Karena Mama merasa, Nadine begitu mencintai kamu. Saking cintanya, ia bahkan rela mengorbankan perasaannya demi bisa menyelamatkan kamu" ungkap Mama panjang lebar. Mama lalu mengusap air mata yang bertengger di sudut matanya.
"Sabar ya, Ma. Kian sesegera mungkin membawa Nadine kembali ke kita" janji Kian. Mama mengangguk pelan.
"Mama cuma kangen Nadine, gimana kabarnya Nadine?" Tanya Mama pada Kian.
"Terakhir, Kian tahu dari adiknya, Nadine sempat jatuh sakit, tapi sekarang sudah membaik, malah banyak makan dan selera makannya jadi berubah aneh" cerita Kian. Dahi Mama mengernyit seketika. Cerita Kian mengingatkannya momen saat ia mengandung Kian.
"Selera makannya aneh, gimana?" Mama bertanya lagi. Pertanyaannya kali ini untuk memastikan kebenaran dugaannya.
__ADS_1
" Ya itu, Ma, aneh banget. Kata Dika, Nadine minta dibelikan siomay, bakso, juga soto. Rencananya, Nadine akan mencampur itu semua lalu memakannya" kata Kian. Mama tersenyum lebar. Ia yakin, dugaannya benar.
"Nak, menurut Mama, Nadine sepertinya tengah hamil"
***
Kian terngiang-ngiang dengan ucapan Mama. Ia sangat senang jika memang itu benar. Ia sendiri memang menginginkan anak dari Nadine, wanita yang sampai saat ini, masih amat cintai.
Di sisi lain, Kian juga sedih. Seharusnya, ia menemani Nadine di kehamilan pertamanya. Nadine malah harus melewati masa yang susah seperti ini. Kian mengutuk diri sendiri. Ia menyesal bukan main. Akibat ulahnya, Nadine menjadi korbannya.
Pagi ini, rencananya Kian mau ke rumah orangtua Nadine. Ia mau mengamati Nadine. Kalau perlu mengikuti Nadine seharian. Ini ia lakukan untuk mengetahui benar atau tidak dugaan Mamanya mengenai Nadine yang sedang hamil.
Kian berusaha bangkit dari tempat tidurnya. Gagal, ia merasakan kepalanya pusing teramat sangat. Ia memegang dahinya, untuk mengecek suhu tubuh. Benar saja, telapak tangan Kian merasakan rasa hangat di keningnya.
Perlahan, Kian mencoba bangkit dari tempat tidurnya. Ia berencana untuk mengambil obat di laci nakas. Namun, saat akan bangun, Kian malah terjatuh. Ia tak bisa menyeimbangkan tubuhnya dikarenakan kepalanya yang terasa begitu menyakitkan.
Suara jatuhnya Kian yang keras membuat Mama dan Dini berlari menuju kamar Kian. Mereka mendapati Kian tersungkur di lantai kamarnya. Tak lama, Mama dan Dini mengembalikan tubuh Kian ke atas tempat tidurnya lagi.
Mama bergegas memeriksa suhu tubuh Kian. Mama tahu kondisi anakny sedang lemah. Sehingga saat Kian meminta tolong mengambilkan obat penurun panas agar bisa segera beraktivitas, Mama melarangnya.
Selesai memeriksa Kian, dokter memberikan resep untuk Kian dan meminta Kian untuk beristirahat minimal 3 hari.
Kian ingin menolak. Namun, ia urungkan segera setelah melihat mata mama yang melotot ke arahnya begitu tajam.
Karena tak ingin menyia-nyiakan waktu, Kian pun menghubungi seseorang. Orang tersebut ia tugasi memantau dan mengikuti aktivitas Nadine. Ia meminta untuk segera mengabari jika Nadine kedapatan memeriksakan diri ke bidan ataupun dokter kandungan.
Sementara itu, ia memanfaatkan waktu semaksimal mungkin guna memulihkan kesehatannya. Kian tumbang juga setelah berhari-hari tak mempedulikan diri sendiri.
***
Di rumah Kian, ayah Nadine bergegas turun dari motor yang dikendarai. Ayah mengamati rumah Kian. Sayangnya rumah itu sepi, tak berpenghuni.
Dika yang menyusul ayah, bergegas memarkir motornya. Kemudian ia menghampiri ayahnya.
"Yah, ayo pulang" ajak Dika.
__ADS_1
"Ayah nunggu di sini sampai Kian datang"
"Mas Kian nggak di rumah gini, lho, Yah. Kita pulang aja, Yah. Kasihan mbak Nadine, nanti kepikiran. Setahu aku, ibu hamil nggak boleh kepikiran, Yah" jelas Dika. Mencoba mengajak ayahnya pulang.
"Apa?! Mbakmu hamil?" Ayah nampak terkejut dengan berita tersebut. Sekilas ia menunjukkan ekspresi marah. Namun tak lama, ia tersenyum kecil. Hatinya tiba-tiba menghangat. Sekilas ia membayangkan keceriaan di rumah begitu anak Nadine lahir ke dunia.
"Iya, Yah, mbak Nadine hamil, aku baru tahu kemarin" ungkap Dika.
"Ya sudah kalau gitu, ayo kita pulang, tapi nanti ayah tetap buat perhitungan dengan Kian laki-laki tak bertanggung jawab ini."
"Iya, terserah ayah, yang penting sekarang ayo kita pulang" Dika lega, ayahnya mau pulang. Urusan ayahnya tetap mau bikin perhitungan dengan Kian, dipikir belakangan.
Ayah dan Dika tiba di rumah. Mereka berdua langsung masuk ke dalam rumah lalu mendaratkan tubuh mereka pada kursi kosong di ruang tamu. Sementara itu, ibu dan Nadine yang mendengar suara motor datang, bergegas hendak keluar rumah. Namun, urung, karena yang dicari sedang leyeh-leyeh di kursi ruang tamu.
"Kian nggak ada di rumah, tapi ayah tetap bakal membuat perhitungan dengannya" kata Ayah. Ekspresinya menunjukkan amarah.
"Ayah, tidak seperti penilaian ayah. Mas Kian nggak selingkuh, dan bukan Mas Kian yang meminta cerai, tapi aku, Yah" ungkap Nadine.
Kemudian Nadine pun mulai menceritakan sebab ia menggugat cerai dari Kian. Ia juga mengatakan bahwa ia tak mungkin kembali dengan Kian. Karena jika kembali bersama, ia dan Kian mungkin akan berada dalam bahaya lagi. Nadine tidak ingin seperti itu. Ia ingin Kian aman. Ia mau dirinya juga aman terlebih saat ini ia tengah mengandung.
Ayah meraup wajahnya. Ia gusar pada Kian. Namun, kegusaran terbesarnya pada dirinya sendiri. Seandainya ia tak memaksa Nadine menikah dengan Kian, mungkin anaknya itu tidak akan mengalami nasib seperti ini.
Seharusnya, ia dulu memikirkan solusi lain selain menikahkan anaknya dengan Kian untuk menghindari ancaman dari wanita yang bernama Ria. Seharusnya, ia juga menanyakan dan mempertimbangkan pendapat anaknya terlebih dahulu, bukan malah membuat keputusan secara sepihak.
Lalu, kalaupun memang pernikahan adalah satu-satunya solusi, seharusnya ia tidak langsung menerima keinginan Kian yang ingin menikahi Nadine. Seharusnya, ia menyelidiki dulu siapa itu Kian. Karena ternyata, ia baru tahu bahwa Kian bukan orang biasa. Bukan hanya dosen. Melainkan seorang aktivis. Setahunya, kehidupan aktivis itu banyak tantangannya juga menawarkan bahaya. Bukan sekali dua kali, berita soal aktivis meregang nyawa.
"Maaf, Maafkan Ayah, Nad, ini semua salah Ayah, karena Ayah kamu mengalami ini semua" Ayah tertunduk. Ia menyembunyikan setetes air mata yang mengaliri pipi bagian kiri.
Nadine yang semula duduk di dekat Ibu, bergerak menghampiri ayah. Nadine memeluk Ayah.
"Ayah nggak salah, aku bahagia sama Mas Kian, meskipun cuma sebentar" kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Nadine. Diiringi dengan air mata yang menderas.
Gantian, sekarang, Ayah yang memeluk anaknya. Mencoba mengalirkan kekuatan, agar anaknya itu tangguh menghadapi cobaan.
Sementara itu, Dika dan Ibu, menatap haru Ayah juga Nadine. Perlahan mereka. mendekat, berharap semoga keluarga semakin kuat.
__ADS_1
***