Pelarian

Pelarian
Si Pelaku Utama


__ADS_3

2 hari sudah, Kian berada di rumah orangtuanya. Ya, selama masih dalam masa pemulihan setelah sakit, Kian memilih tinggal di rumah orangtuanya. Agar Kesehatannya segera pulih.


Sekarang, kesehatan Kian sudah pulih sempurna. Ia pun berniat beraksi lagi. Kali ini menyasar pelaku utama.


Sebelum beraksi ia mengecek kembali bukti yang ia miliki dan menyatukan bukti yang ia ambil dari Riani. Bukti-bukti yang ia miliki bisa menjebloskan pelaku utama ke dalam penjara menggunakan


Pasal 335 ayat (1) KUHP. Hanya saja hukumannya bisa dibilang ringan.


Terpikir oleh Kian, mungkin pelaku tidak akan jera atau mau menghentikan aksi mengganggu kehidupannya dengan Nadine, mengingat durasi hukuman dari kejahatan yang ia lakukan bisa dibilang ringan yakni hanya dalam hitungan bulan. Namun, Kian berharap pelaku memikirkan dampak sosial yang akan ia rasakan jika ia mendekam di penjara.


Selesai memeriksa, Kian bergegas berangkat menuju kediaman pelaku utama. Ia benar-benar ingin menghentikan pelaku utama demi bisa bersama dengan Nadine lagi.


Ia sempatkan terlebih dahulu menghubungi orang yang ia minta untuk membuntuti Nadine guna membuktikan dugaan mamanya bahwa Nadine tengah hamil. Ia meminta laporan dari orang tersebut. Sayangnya, tak ada hasil yang berarti. Aktivitas hingga lokasi tujuan Nadine pergi, tidak ada yang menunjukkan bahwa ia tengah hamil. Kian juga menanyakan apakah ada orang mencurigakan di sekitar Nadine. Untuk hasil pemantauan ini, ia merasa lega, karena orang suruhannya itu melaporkan bahwa tidak ada yang mencurigakan di sekitar Nadine.


Kian meminta orang tersebut untuk melanjutkan pemantauan sampai esok hari saja. Karena merasa besok ia sudah bisa melakukan pemantauan sendiri. Toh kondisinya juga sudah pulih. Tentu saja, pemantauan ini baru ia lakukan setelah menghentikan pelaku utama.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi, ada sebuah panggilan masuk, dari Heru. Kian menjawab panggilan tersebut. Di seberang sana Heru mengatakan bahwa ia akan menyusul ke TKP. Ia ada sedikit urusan. Heru meminta Kian untuk share lokasi TKP agar ia bisa langsung ke TKP tanpa nyasar. Tentu, Kian tak masalah dengan keterlambatan Heru, yang terpenting Riani bisa berangkat bersama dengannya.


Ya, Kian meminta bantuan Riani sebagai pembuka jalan pertemuannya dengan pelaku utama. Di samping itu, ini juga masuk dalam strateginya.


Hendak berangkat, Kian meminta restu pada mamanya. Sang Mama tentu saja mendo'akan kesuksesan usaha Kian demi bisa segera menjadikan Nadine menantunya lagi.


Kemudian Kian melajukan mobilnya. Ia menjemput Riani terlebih dahulu. Baru ke TKP.


Tiba di TKP, Kian mengingatkan Riani untuk menggunakan Spy Cam. Riani mengangguk, kemudian melenggang masuk ke rumah pelaku utama.


Riani memang sudah mengatur janji bertemu dengan pelaku utama. Jadi kehadirannya sudah pasti disambut oleh pelaku tanpa kata menunggu.

__ADS_1


"Gimana? Elo setuju kan sama tawaran gue untuk mencelakai Nadine?" Tanya si pelaku utama pada Riani. Mereka berbincang di ruang tamu.


"Gue cuma minta elo nabrak atau elo serempet sampai dia jatuh, udah gitu aja" kata pelaku utama. Ia menyeruput secangkir kopi yang baru saja disajikan oleh asisten rumah tangganya.


Sementara itu, di balik pintu luar rumah pelaku utama, Kian bisa mendengar jelas apa yang diucapkan pelaku utama. Kian terkejut bukan kepalang. Pertama, terkejut karena dugaan mamanya bahwa Nadine sedang hamil adalah benar adanya. Kedua, ia terkejut karena tidak menyangka pelaku utama begitu membenci Nadine.


Kedua tangan Kian tergenggam sempurna. Jika saja pelaku utama adalah seorang laki-laki, mungkin Kian sudah membuatnya babak belur. Lalu sambil menahan emosi, Kian kembali fokus mendengarkan perbincangan Riani dan pelaku.


"Gimana? Elo mau nggak? Tenang, gue udah nyiapin fee dengan nominal yang cukup besar. Uang segini akan membuat elo menang dalam pilkada" Imbuh pelaku utama. Riani bergeming. Masih tak ada respon darinya.


"Atau kalau elo nggak mau, elo carikan gue orang yang mau melakukan apa yang gue mau, gue mau wanita itu menderita, gue nggak suka wanita itu bahagia, harusnya dia lebih sengsara dari gue, gue mau itu" katanya lagi. Raut wajahnya menunjukkan amarah. Riani sendiri sampai bergidik ngeri saat melihat ekspresi pelaku utama.


Kian, yang berada di luar, nampak sedang menahan emosi mati-matian. Siapa yang tidak emosi, saat tahu ada yang berniat menghancurkan orang yang disayangi? Kian bahkan mulai merasai emosinya keluar dari kendali.


Beruntung, tepukan Heru membuatnya kembali bisa mengendalikan emosi diri. Ya, akhirnya Heru tiba di TKP. Ia berdiri di samping Kian. Juga tengah fokus mendengarkan perbincangan Riani dan pelaku utama.


"Gue mau tahu dulu, kenapa elo pengin membuat Nadine celaka Nadine. Bukannya, awalnya yang elo mau cuma perpisahan Nadine dan suaminya?" Riani balik bertanya. Sebuah pertanyaan yang baru terpikirkan olehnya belakangan ini.


"Semula gitu, tapi setelah gue tahu Nadine hamil, gue pengin membuat Nadine mengalami sebuah kecelakaan, kecelakaan yang akan membuatnya kehilangan janin yang dikandungnya, biar dia tahu bagaimana rasanya kehilangan calon bayi seperti yang pernah gue rasain" jelas pelaku utama. Ia menyeringai. Ia bahkan sudah membayangkan Nadine berkubang penderitaan. Penderitaan yang hadir dari rasa penyesalan karena tak becus menjaga janin dalam kandungannya.


Mendengar ucapan pelaku utama, yang didalamnya memberi kabar baik berupa kehamilan Nadine, seharusnya hal ini bisa membuat Kian senang mendengar kabar tersebut. Namun, rupanya, rasa senangnya kalah telak dari amarahnya begitu mendengar pelaku utama berniat menghilangkan nyawa calon anaknya. Gila, benar-benar gila.


Kian hendak melangkahkan kakinya menghampiri Riani juga pelaku utama. Namun, langkah kakinya didahului oleh Heru. Heru berjalan cepat keluar dari tempat persembunyian. Lalu sekarang ia tengah berada tepat di hadapan pelaku utama.


"Jadi selama ini elo bohongin gue, hah?" Seru Heru. Nada bicaranya meninggi. Matanya memerah dan menatap tajam ke arah pelaku utama, Ria.


"Oh, elo jebak gue?" Ria, si pelaku utama, malah tidak peduli dengan kehadiran Heru. Heru sendiri sempat terkejut dengan respon Ria, yang dulunya nampak begitu mendambanya, sekarang malah tidak mempedulikan kehadirannya.

__ADS_1


Dulu, memang Ria begitu. Ia mendamba Heru, teramat sangat. Sampai ia berani datang melabrak Nadine dan melabrak orangtua Nadine. Ini ia lakukan demi membuat Heru bertahan. Namun, pada akhirnya, Heru juga tetap meninggalkannya dalam keadaan mengandung.


Ria tak begitu sedih, karena Heru memilih perpisahan antara mereka. Ria malah optimis, Heru akan kembali padanya demi anak yang dikandungnya. Ya, Ria berniat menjadikan janin yang berada di dalam kandungannya sebagai penarik lalu pengikat Heru.


Namun, itu semua sirna, dan berganti menjadi tidak peduli pada Heru sejak ia mengalami keguguran. Keguguran yang dialami Ria disebabkan karena ia yang terlalu meremehkan kondisi kandungannya. Padahal dokter sudah menyarankannya untuk bedrest sampai tidak keluar flek lagi, namun tetap saja ia melakukan aktivitas yang menguras energinya. Ia memantau dan mengikuti aktivitas Nadine demi memastikan Nadine tidak bahagia dengan pernikahannya karena ia menikah dengan laki-laki yang tidak ia suka.


Kini, obsesi Ria, hanyalah menghancurkan Nadine. Bagi Riaz Nadine adalah pembawa sial dalam kehidupannya. Nadine yang membuat pernikahannya gagal, juga Nadine yang membuatnya kehilangan janin yang dikandungnya. Nadine yang salah, salah Nadine.


"Iya, gue jebak Lo, bayaran elo kurang" jawab Riani, santai.


Namun, rasa santai Riani ini, berhasil memicu amarah Ria. Seketika tangan Ria mengambil pas bunga yang ada di hadapannya. Ia ingin mengarahkannya pada Riani. Tapi, gagal karena tangannya dipegang Heru.


"Lepasin, Mas, Lo nggak berhak nahan tangan gue, gue mau ngasih pelajaran ke cewek brengsek ini" ucap Ria. Ia masih berusaha memukul Riani.


"Gue bisa nahan, Lo, amat sangat bisa" Kian keluar dari tempat persembunyiannya.


"Wow, jadi kalian mau ngerokok gue, silakan, kalian lemah" Ria menyeringai kembali. Tatapannya yang aneh melekat memandang Kian.


"Gue seneng, elo disini, Yan. Karena dengan begitu, rencana gue berhasil" kata Ria, lagi.


Ia lalu mengambil ponselnya. Ia menghubungi seseorang di seberang sana. Seseorang yang ia kenal dua hari sebelum kedatangan Riani, Heru dan Kian. Orang itu yang ia tugaskan untuk menjalankan apa yang tidak bisa dilakukan Riani.


"Apa maksud Lo? Jawab! Gue bilang JAWAB!!" Tanya Kian. Ia marah.


"Iya iya gue jawab, santai donk, Yan. Gue senang Lo di sini, karena dengan begitu rencana gue untuk mencelakai istri juga menghilangkan calon anak Lo, akan berjalan sempurna"


***

__ADS_1


__ADS_2