Pelarian

Pelarian
Terbuka


__ADS_3

Weekend ini Kian memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Ia rindu dengan keluarga tercintanya. Selain itu juga ada hal serius yang ingin Kian bicarakan dengan mamanya.


"Dor," seru adik Kian, Dini. Ia berniat mengkagetkan abangnya.


"Yaaahhh, kog nggak kaget, Bang?" Dini nampak kecewa karena gagal mengkagetkan abangnya. Kian tertawa sebentar lalu tangannya menepuk-nepuk space kosong di sampingnya. Ia meminta Dini untuk duduk didekatnya.


"Apa an Bang? Pasti mau curhat yak," tebak Dini.


"Nggak, cuma cerita aja?"


"Sama aja keleesss,"


"Mau cerita apa, Bang, Dini nggak mau ya kalau dengerin cerita soal organisasi atau kerjaan, bosen," lanjut Dini. Ia lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.


"Nggak, Abang mau cerita yang lain," bantah Kian. Raut wajahnya yang sumringah membuat Dini tahu apa yang akan diceritakan abangnya.


"Cewek ya?" Dini menebak lagi, dan disambut dengan anggukan kepala oleh Kian.


"Yeaaayyy, akhirnyaaaaa, abang kembali normal, kirain bakal belok saking sakitnya hati Abang karena lihat mbak Erni selingkuh"


"Hush, yang lalu biarin aja, past to the past." Kata Kian. Ia menowel kepala Dini. Dini nyengir.


"Siapa bang cewek yang beruntung itu?"


"Kamu mau lihat fotonya?"


"Mau bang, penasaran, cantikan aku atau cewek yang Abang suka.


Kian mengeluarkan gawainya lalu menunjukkan sebuah foto pada Dini.


"Lumayan, Bang. Cantikan Dini," ujar Dini merasa tersaingi.


"Namanya siapa, Bang?"


"Nadine"


"Oooo, mbak Nadine."


"Mana, sini Mama juga mau lihat" tiba-tiba Mama Kian, Wanda, muncul. Lalu dengan kecepatan awan kinton Goku, Wanda merampas gawai Kian dari tangan Dini.

__ADS_1


"Ini ya tidak lumayan lah, Din, tapi cantik, cantikan mbak ini malah sama kamu,".


"Ya ampun, Mama, jujur amat," Dini cemberut.


"Ajak ke sini donk, Mama kan juga pengen kenal sama calon mantu Mama."


"InsyaAllah, Ma, setelah wisuda aku ajak ke sini" kata Kian.


"Oya, aku keluar dulu ya, Ma." Pamit Kian.


"Mau kemana? Baru juga datang" tanya Wanda


"Biasalah, Ma, mau malam mingguan sama mbak Nadine, ciyeee..." Goda Dini. Kian mengacak-acak rambut adiknya.


"Sebentar aja, Ma, nggak sampai malam,"


"Oh, ya ya ya,"


"Tapi kamu nginep di sini, kan?" Lanjut Wanda.


"Iya, aku nginep di sini, ya sudah, pergi dulu ya,"


***


Kian melajukan mobilnya ke rumah Nadine. Di tengah perjalanan tadi, ia sudah membeli 3 kotak nasi. 3 kotak nasi inilah yang akan ia jadikan alasan berkunjung ke rumah Nadine.


Tujuan Kian ke rumah Nadine bukan untuk menemui Nadine, melainkan menjalankan misi rahasia, apalagi kalau bukan PDKT dengan orangtua Nadine.


"Ambil hati keluarganya dulu, baru deh anaknya," batin Kian.


Tiba di rumah Nadine, Kian disambut oleh adik laki-laki Nadine satu-satunya. Namanya Dika, ia masih duduk di kelas XII SMA.


Kian lalu menyerahkan 3 kotak nasi ke Dika.


"Makasih banyak, Mas, tapi maaf ini dari siapa, Mas?"


"Bilang saja dari Kian," kata Kian. Dika mengangguk. Ini adalah kali pertama Dika bertemu Kian.


"Siapa, Di?" tiba-tiba ibu Nadine dan Dika, Mina, muncul di pintu luar.

__ADS_1


"Kian, Bu" jawab Kian.


"Nak Kian? Sini masuk dulu,"


"Iya, Mas ayo masuk dulu," ajak Dika.


"Ayo, masuk," Mina menghampiri Kian. Kian mencium tangan Mina.


"Maaf, Bu, insyaAllah lain kali, saya ke sini lagi, saya pamit Bu,"


"Oalah, ya sudah, makasih ya, mbok ya nggak usah repot-repot," Kata Min. Kian tersenyum menanggapi.


Setelah berpamitan, Kian melajukan mobilnya, kembali menuju rumahnya. Ia berjanji pada dirinya sendiri, ia akan lebih sering ke rumah Nadine lagi.


***


Di kos Nadine, seorang pria duduk di teras, kakinya tak henti bergerak, menunjukkan ia tengah dilanda khawatir, takut, atau gugup, entahlah. Yang pasti laki-laki itu adalah Heru.


"Nad," sapanya.


"Bang Heru, Nadine mohon, kita berhenti sampai di sini," tegas Nadine. Ia benar-benar ingin menghentikan semuanya.


Heru terkejut. Panggilannya pun berubah. Heru yakin ini ada yang salah.


"Apa maksud kamu?, Aku nggak mau, Nad," tolak Heru.


"Pertama, karena kamu pembohong, kamu bilang pernikahanmu karena perjodohan, faktanya kalian menikah karena keinginan masing-masing, Kalau seperti itu, jangan-jangan, kalian selingkuh" Nadine menghela nafas.


"Kedua, karena kamu memutar balikkan fakta, kamu bilang ke istri kamu kalau aku yang meminta tetap menjalin komunikasi ke kamu, padahal faktanya? Sebaliknya bukan?" Nadine menatap Heru tajam. Heru memejamkan matanya. Kebohongannya terbongkar sempurna.


"Ketiga, aku bukan Pelakor seperti yang dikatakan istri kamu,"


"Keempat, aku kasihan sama istri kamu, dia hamil,".


"Jadi, berhenti, hubungan pertemanan kita berhenti sampai di sini, jangan datang ke sini lagi, percuma, ini yang terakhir," Jelas Nadine. Ia berbalik hendak masuk ke kos. Namun tangannya ditarik Heru.


"Tapi aku cinta kamu, Nadine, sangat menc..."


Nadine menarik kasar tangannya. Lalu bergegas meninggalkan Heru yang terpaku di posisinya.

__ADS_1


__ADS_2