Pelarian

Pelarian
Kamu Masih Sama Seperti Dulu


__ADS_3

Nadine tidak mengira, setelah Kian pamit pulang, ternyata ia kembali lagi dengan membawa nasi bungkus serta camilan.


Dalam hati, Nadine sangat senang karena kebetulan ia juga tengah dilanda kelaparan. Tadi, sengaja ia tak mengatakan pada Kian bahwa ia juga lapar. Tadi, sengaja juga ia menolak ajakan makan siang Kian demi menjaga sikap, agar tak tumbuh benih rasa sukanya pada Kian. Se-protect itu Nadine menjaga hatinya.


Dan Kian sadar akan hal itu. Oleh sebab itu, ia tidak mengatakan atau menunggu persetujuan dari Nadine untuk membawakannya Nasi bungkus juga aneka macam camilan. Ia memilih bertindak langsung mengikuti nalurinya. Dan nyatanya, saat itu, nalurinya untuk membawakan Nadine makanan, tepat.


"Bekal ngerjain skripsi, biar kamu semangat" kata Kian. Nadine mengambil 2 kresek dari tangan Kian. Satu kresek kecil berisi nasi dan minum, dan satu kresek besar berisi aneka macam camilan.


"Sudah ya, aku pulang dulu, besok segera aku cari buku yang kamu mau" pamit Kian. Nadine hanya mengangguk. Lalu melambaikan tangannya saat mobil Kian sudah melaju.


Mendapat perlakuan seperti itu, jujur membuat Nadine meragukan informasi dari Heru yang bilang Kian bukan pria baik-baik. Oleh sebab itu, begitu Heru menelfonnya, Nadine langsung menanyakan hal itu.


"Mas, Bang Kian orangnya baik gitu, koq kamu bilang dia nggak baik?" Tanya Nadine sembari menyantap nasi bungkus pemberian Kian.


"Baik gimana?" tanya Heru.


"Aku abis dianter cari buku, trus sekarang dibelikan makan juga banyak camilan" cerita Nadine.

__ADS_1


"Kamu keluar sama Kian?"


"Iya, tadinya mau keluar sama Windi, Oci dan Lia. Tapi mereka pada nggak bisa, jadi ya udah aku minta temenin Bang Kian"


"Besok-besok kalau kamu mau kemana-mana, kamu bilang ke Mas aja, biar mas yang antar"


"Hush, ngawur kamu Mas, kita udah nggak kayak dulu, kita cuma temen nggak lebih dari itu" Nadine mempertegas sekaligus mengingatkan diri sendiri akan hubungannya dengan Heru saat ini.


"Aku masih nganggep kamu sama seperti dulu,"


"Kenapa? Aku bicara jujur, kamu masih ada di hati aku, satu-satunya"


"Ya ampun Mas, sudah, cukup"


"Baiklah, tapi kamu harus ingat dan catat ini baik-baik, jauh-jauh dari Kian, dia bukan orang yang baik untuk kamu."


Setelah mengakhiri percakapan, Nadine cepat-cepat mematikan telfon dari Heru. Nadine merasa detakan jantungnya bergerak cepat saat Heru mengungkapkan isi hatinya. Ia merasa takut namun juga sekligus merasa senang. Ia takut, perasaannya pada Heru yang berusaha sekuat tenaga ia bunuh, akan tumbuh subur kembali. Jika ini terjadi, tentu akan berakibat tidak baik baginya. Nadine paham akan hal ini. Namun di sisi lain, ia senang, karena Heru masih mencintainya.

__ADS_1


Sejak Nadine memutuskan untuk mengizinkan dirinya sendiri berkomunikasi lagi dengan Heru yang sudah berstatus suami orang, ia berusaha membunuh rasa cintanya pada Heru secara perlahan. Ia mau hanya menyisakan rasa peduli saja, tentu sebagai seorang teman, tidak lebih dari itu.


Namun rupanya usaha Nadine untuk mengubah perasaannya tidak berjalan mudah. Karena Heru senantiasa mengumbar kata-kata manisnya pada Nadine setiap kali mereka berkomunikasi. Alhasil rasa cintanya pada Heru pun masih bersemayam dihatinya meskipun kadarnya tak sebesar dulu saat ia dan Heru masih berpacaran.


Setelah meletakkan gawainya, Nadine melanjutkan menikmati makanan yang diberikan Kian. Terlebih ini adalah makanan favorit Nadine, apalagi kalau bukan nasi Padang.


Sembari makan, Nadine menyempatkan diri membuka kresek besar pemberian Kian yang didalamnya berisi camilan. Nadine heran sekaligus senang begitu tahu isi camilan didalamnya yang ternyata juga camilan kesukaan Nadine. Senyum Nadine terkembang lebar. Ia pun bergegas mengambil gawainya. Ia berniat untuk mengirimkan pesan yang berisi ucapan terima kasih pada Kian.


"Ah nggak jadi deh," Nadine urung mengirim pesan pada Kian. Pikirannya jauh melanglang buana. Ia takut, sikapnya pada Kian membuat Kian merasa Nadine memberikan lampu hijau padanya. Tidak, Nadine tidak mau mem-PHP Kian.


Sementara itu, jauh di sana, Kian tengah fokus dengan gawainya. Di tengah perjalanan menuju pulang, ia sempatkan membalas pesan Windi.


From: Kian


To: Windi


Makasih informasinya, Win. Kabari aku kalau Nadine butuh apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2