
"Aku sudah sendiri, Nad, aku sudah berpisah dengannya, dan sekarang aku ingin mewujudkan rencana kita dulu, dulu saat kita masih berpacaran. Jadi jangan menikah dengan Kian" Heru menarik nafasnya seakan tengah menghimpun kekuatan. Mungkin dirasa telah cukup, Heru c bicara pada Nadine.
"Menikahlah denganku, kalaupun orangtuamu tidak setuju, kita bisa kawin lari, Nad" Heru menatap Nadine lekat. Ia berharap Nadine balas menatapnya. Namun sayang, Nadine seakan menghindar dari tatapan matanya. Nadine memilih melayangkan pandangannya pada arah selain dimana posisi Heru berada.
"Aku ingin hidup tenang" kata Nadine.
"Maksud kamu?"
"Kamu tahu, pernikahan yang tidak aku inginkan ini terjadi karena kamu, lebih tepatnya karena istri kamu, dia datang ke rumah dan mengatakan hal yang tidak-tidak tentang aku pada orangtuaku, ia juga mengancam akan menyebarkan berita tak enak tentang aku jika aku tidak berhenti dekat dengan kamu" jelas Nadine dalam satu kali tarikan nafas.
"Padahal faktanya, aku sudah menghindari kamu, malah kamu yang..." Nadine menghela nafas, berat.
"A-aku tidak tahu soal Ria ke rumah kamu, Nad" ungkap Heru.
"Sudahlah, sekarang, aku mohon, berhentilah, berhenti membuatku susah, berhenti membuatku merasa tidak tenang, berhenti membuatku merasa tidak bahagia, berhenti, sampai di sini" pinta Nadine.
Lalu Ia mengarahkan pandangannya ke arah langit, sengaja, agar air matanya tidak jatuh runtuh. Ya, Nadine bersedih. Bagaimanapun juga, Heru adalah orang yang pernah mengisi hari-harinya selama 4 tahun. Selama itu, jika Nadine mengingatnya, Heru lebih sering menghadirkan bahagia untuknya ketimbang lara. Namun, sekali mendatangkan lara, hati Nadine porak poranda, bagaimana tidak, Nadine ditinggal menikah oleh Heru pas lagi sayang-sayangnya.
Heru bergeming. Ia mencerna setiap kata yang terucap dari mulut Nadine. Separah itukah ia menyakiti Nadine?
"Aku pikir pembicaraan kita sudah selesai, aku pergi" Nadine lalu beranjak dari tempat duduknya. Ia kembali berkumpul dengan teman-teman komunitasnya.
Sementara itu, tak lama setelah kepergian Nadine, Heru pun turut bangkit dari duduknya. Langkahnya gontai menuju parkir mobilnya. Saat sudah di mobilnya, Ia bersegera melajukannya. Ia arahkan mobilnya ke rumah Kian.
Heru memarkirkan mobilnya. Ia lega karena ia mendapati mobil Kian juga sedang parkir digarasinya, berikut dengan motornya. Kian ada di rumah.
Tanpa basa basi, Heru santai masuk ke dalam rumah Kian. Heru mendapati Kian tengah duduk menghadap laptopnya di ruang tamu. Heru memilih duduk di kursi yang paling ujung, dekat pintu keluar.
__ADS_1
"Gue cerai sama Ria" cerita Heru. Ia lalu mengambil sebatang rokok yang terletak di hadapan Kian berikut dengan korek api elektrik Kian. Asap pun keluar dari mulut Heru.
"Trus elo mau balik sama Nadine, gitu?" Tanya Kian.
"Mau gue gitu, tapi sayang Nadine nggak mau" Heru menyesap rokoknya. Ia melirik Kian dan mendapati Kian tetap bergeming. Ekspresi wajah datar dan tingkah laku nampak biasa saja.
"Kata Nadine, gue bikin dia susah" lanjut Heru.
"Elo pasti seneng, kan? Karena Nadine nolak gue?" Selidik Heru. Ia menunggu jawaban Kian. Ia bahkan sudah mempersiapkan sebuah Bogeman jika saja Kian memberikan jawaban 'Iya' dari pertanyaannya, atau meledeknya, atau menertawainya.
"Gue seneng, karena gue sama Nadine mau nikah, itu poinnya" jawab Kian santai. Lagipula tak terbersit dipikirannya sedikitpun merasa menang dari Heru karena berhasil mendapatkan Nadine meskipun tanpa cinta dari Nadine.
"Iya iya, tau tau, elo emang sebaik itu, tapi..."
"Nah, tu Lo tau" pungkas Kian
"Makanan favorit Nadine itu nasi goreng Jawa. Tapi dia suka semua nasi goreng, sih, kecuali yang seafood karena dia alergi" cerita Heru. Ia kembali mengambil sebatang rokok milik Kian lalu menyalakannya.
"Dia jago masak mie instan, bikinannya tu udah kaya mie instan abang-abang jualan gitu, enak banget, gue kadang malah request 2 porsi." Heru menyesap rokoknya kembali. Segaris senyum terukir di bibirnya.
"Kalau badmood, pelariannya, pasti makan yang pedas-pedas, katanya Nadine, makan yang pedas-pedas bikin dia lupa sama penyebab badmood-nya, yaaa meskipun ujung-ujungnya dia bakal mules" Heru menggeleng-gelengkan kepalanya mengingat momen-momen Nadine yang mules karena kebanyakan makan yang pedas-pedas.
"Ya gimana nggak lupa, kan perhatiannya beralih ke perutnya yang mules karena abis makan pedes, tu anak memang aneh" Heru kembali menyunggingkan senyum. Kian bergeming. Ia berusaha merekam semua apa yang dikatakan Heru tentang calon istrinya.
"Gue kasih bocoran ya, kalau Nadine marah, cara ngebujuknya gampang, ajak jalan-jalan aja, ke pantai atau ke gunung, atau ke yang berbau-bau alam, dia bakal luluh seketika. Tapi kalau elo lagi nggak punya banyak waktu atau lagi bokek mungkin, elo bisa ngebujuk dia dengan beli in dia eskrim, atau nasi goreng. InsyaAllah bakal luluh juga meskipun nggak secepet kalau ngajak jalan-jalan, sih" ungkap Heru. Ia lalu menghela nafas, berkali-kali.
"Nadine itu, paling nggak suka dipaksa. Dia bakal berontak. Kalaupun akhirnya ia mau, ia bakal menjalaninya setengah hati." Heru membenahi posisi duduknya.
__ADS_1
"Jadi selama menjalin hubungan sama dia, gue nggak pernah memaksa dia, gue selalu dukung apapun keputusan dia, rencana-rencana dia, ide-ide dia, mimpi-mimpi dia, apapun" ia menyesap rokoknya kembali.
"Gue begitu karena gue pernah tau sendiri betapa bahagianya Nadine saat dia tahu gue mendukung pemikirannya, dan Nadine nggak menyia-nyiakan dukungan gue, dia wujudkan apa yang ia pikirkan dan hasilnya pun gemilang. Itu nggak bakal gue lupa" ia mematikan rokoknya yang baru habis setengah.
"Gue nitip Nadine ke elo. Gue percaya elo pasti bisa bikin Nadine bahagia" kata Heru. Ia berdiri lalu mengambil sebungkus rokok milik Kian dan memasukkannya ke dalam kantong kemejanya.
"Inget kata-kata gue, awas aja elo bikin Nadine nggak bahagia, gue kirimin Kunti lo" ancam Heru.
"Gue cabut" pamit Heru.
Kian menganggukan kepalanya. Ia lalu bergegas menekan tombol save di laptopnya. Ia tak mau apa yang diungkapkan Heru tentang istrinya hilang begitu saja. Tak lupa, ia namai file yang berisi cerita Heru tadi dengan nama 'Tentang Istriku Tersayang'.
***
Halohai Readers,
Jangan lupa like, dan komen yak.
Terima kasih banyak.
dan buat Authors,
Jangan lupa tinggalkan jejak agar aku bisa berkunjung balik ke karyamu.
Terima kasih ya,
Salam terlove.
__ADS_1
😍