
"Mas mau kita honeymoon sebelum benar-benar berpisah"
Nadine terkejut dengan permintaan Kian tersebut. Ingin hati menolak tapi tidak bisa. Karena jika ia menolak, maka Kian tidak setuju untuk bercerai. Ini berarti masa depan Kian dalam bahaya.
"Baiklah, aku mau" jawab Nadine. Pipinya bersemu merah.
Kian tersenyum lebar sekali. Ia berjanji dalam hatinya akan memanfaatkan waktu honeymoonnya sebaik mungkin.
Kian lalu mendekati Nadine. Ia kembali memeluk istrinya itu. Nadine menerima pelukan Kian. Ia memejamkan matanya saat Kian mulai menciumi rambutnya, telinganya, lehernya.
Ciuman Kian berpindah lagi, kali ini ia mengecupi pelipis Nadine, kening, mata, hidung dan terakhir bibir Nadine. Nadine tak menolak saat bibir Kian menyapu bibirnya. Ia juga mendambakan hal itu.
Kian melumati bibir Nadine, mengulum dan menghisap-hisapnya. Sekali kali Kian menarik bibir Nadine dengan bibirnya agar terbuka. Begitu terbuka Kian melesakkan lidahnya ke dalam rongga mulut Nadine.
Nadine terbelalak dengan perlakukan Kian yang tiba-tiba padanya. Bermula begitu lembut lama-lama menjadi kasar. Tapi Nadine menerimanya karena terasa menyenangkan. Ia suka, amat menyukai ciuman Kian. Hingga tak sadar, ia pun membalas ciuman Kian. Ia melakukan tingkah yang sama seperti ciuman Kian. Kian senang, ada yang meletup-letup di dadanya begitu Nadine mau membalas menciumnya.
__ADS_1
Mereka berdua lalu terhanyut dalam rasa cinta. Kian semakin rakus menciumi bibir Nadine. Nadine kalah telak, lagi, ia memilih untuk membiarkan Kian mengeskplorasi bibirnya.
Tangan Kian tak tinggal diam. Tangannya mulai menjelajahi tubuh bagian belakang Nadine. Ia mengelus kulit punggung Nadine yang lembut. Sedikit demi sedikit, jemari Kian tiba di pengait. Saat akan membukanya, Nadine mendorong Kian. Seketika ciuman mereka pun terlepas.
"Mas..." Nadine menatap mata Kian yang sudah berkabut gairah. Ia tak tega melihat itu, namun ketidaksiapannya membuat ia merasa harus menghentikan aksi Kian. Entah kenapa, ada rasa takut yang menjalari hatinya.
"Kenapa? Hum?" Tanya Kian lembut.
"Aku belum siap, Mas" jawab Nadine terus terang.
"Belum siap apanya?"
"Yaelah, honey honey, ya udah ayo kita makan dulu, Mas juga sudah masakin makanan kesukaan kamu, nasi goreng ekstra pedas"
Kian menarik tangan Nadine. Ia menuntunnya ke meja bar mini yang terletak di dapur. Di situlah tempat favorit mereka menghabiskan waktu sembari menghabiskan isi piring mereka.
__ADS_1
Jika melihat tingkah mereka, layaknya pengantin baru selesai akad nikah. Senyuman tak lepas dari wajah Kian. Demikian juga dengan Nadine. Sebentar, mereka melupakan masalah yang tengah mereka hadapi.
"Masakanmu enak, Mas, buka warung makan aja yuk, kamu nggak usah jadi dosen dan aktivis lagi" ucap Nadine sembari membersihkan meja bar mini. Sedangkan Kian kebagian tugas mencuci piring.
"Trus kita pergi merantau saja, kalau perlu kita pindah keluar negeri. Tabunganku cukup sepertinya untuk memulai hidup di luar negeri" lanjutnya.
Itulah yang terpikir oleh Nadine. Bagi Nadine, itu satu-satunya cara yang bisa membuat mereka tidak berpisah. Membiarkan saja ancaman Riani. Biarkan saja foto-foto itu tersebar. Biarkan saja Riani konferensi pers dimana-mana. Biarkan saja, biarkan karir Kian hancur, biarkan. Toh, juga mereka bisa berlari dari omongan orang ke luar negeri. Kalau perlu, mengajak serta keluarga.
Namun, ia tidak bisa seegois itu. Kian sudah bertahun-tahun merintis karirnya.
Kian terdiam mendengarkan usulan Nadine. Usulan-usulan Nadine itu menunjukkan bahwa Nadine tak ingin berpisah darinya.
"Nggak, Mas, aku bercanda" Nadine membuyarkan keinginannya.
"Oya, kita akan honeymoon dimana, Mas?" Nadine mengalihkan pikirannya.
__ADS_1
"Kita ke Bali aja, ya, setelah ini Mas pesan tiket, semoga nanti malam kita bisa berangkat honeymoon" ujar Kian. Semburat rasa bahagia menghiasi hati Kian. Di sana, saat tiba di tujuan honeymoon mereka, Kian bertekad akan berusaha mendapatkan haknya sebagai seorang suami dari Nadine. Ini harus ia lakukan demi masa depan hubungan mereka.
***