Pelarian

Pelarian
Nggak Sakit Hati Ditinggal Nikah, Tapi Malah Salut?


__ADS_3

"Inget-inget aja kalau dia udah nyakitin elo dengan menikahi orang lain, itu pasti bakal bikin elo cepat lupa. Gue yakin." Saran Windi.


"Jujur ya, gue nggak sakit hati karena Mas Heru nikah, gue malah salut sama dia."


Mendengar hal tersebut Windi sontak memegang dahi Nadine.


"Apa an sih Win?" Kata Nadine sembari melepaskan tangan Windi.


"Gue kira elo sakit trus jadi tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang nggak baik."


"Gue sepertinya belum pernah cerita ke elo soal ini"


"Apa? Apa?"


"Gue salut sama Mas Heru karena dia mau menyingkirkan rasa cintanya demi berbakti pada orangtuanya"


Kriiikk...kriiikkk...


Windi mengernyitkan dahinya. Ia belum mengerti maksud Nadine.


"Mas Heru dijodohkan oleh orangtuanya, dia lantas menerima perjodohan itu. Ia tak ingin menyakiti hati atau membuat orangtuanya jatuh sakit. Iya orangtua Mas Heru sudah sakit-sakitan." Jelas Nadine.


"Gue salut pas bagian itu. Kalau gue di posisi dia, mungkin gue memilih undur diri dari perjodohan tersebut. Karena menurut gue, pernikahan tanpa adanya cinta sama seperti sayur bening tanpa rasa, hambar."

__ADS_1


"Yang bilang gitu siapa? Heru sendiri?" Tanya Windi dan dijawab oleh Nadine dengan anggukan kepala.


"Ah, gue koq nggak percaya, gue koq ragu sama kalimat-kalimat Heru."


"Terserah elo Win, pendapat atau pemikiran man bebas. Gue nggak maksa elo ngerti pemikiran gue. Yang penting elo udah tahu kenapa gue susah move on sama Mas Heru."


"Trus Bang Kian gimana?"


"Gimana apanya?"


"Elo nggak punya rasa sama dia?"


Nadine menggelengkan kepalanya.


"Seupil semut aja nggak, apalagi seupil gajah?"


"Yaaahhh....padahal dia baik banget sama elo"


"Nggak sama gue aja, dia baik ke semua orang, sama elo, Oci, Lia juga dia baik, sama aja"


"Ya bedalah, Nad"


"Ya buktinya, perlakuan Bang Kian ke gue atau elo juga sama, gue tau makanan yang elo kasih ke gue itu dari Bang Kian kan?"

__ADS_1


"Koq tahu?"


"Karena nggak tempe" jawab Nadine. Windi melengos mendengar jawaban Nadine. Sedangkan Nadine ngakak mode on.


"Oci yang bilang ke gue. Dan bang Kian juga gitu kan sama Lia juga Oci. Ngasih mereka banyak makanan. Saking banyaknya sampek kalian bagi ke gue."


"Nggak gitu, Nad, itu tuh..."


"Apanya yang nggak gitu, emangnya kenyataannya gitu, Bang Kian emang baik ke semua orang, perlakuan baik dia ke gue cuma sekedar berbuat baik aja, nggak lebih dari itu, jadi ya dia nggak punya perasaan ke gue, nah trus buat apa juga gue punya perasaan ke dia" pungkas Nadine. Windi hanya merespon pendapat Nadine dengan helaan nafas berkali-kali. Susah memang berdebat dengan Nadine si kepala batu.


"Eh, udah mau nyampek stasiun, nih" seru Nadine.


Mereka menghentikan pembicaraan dan bersiap-siap untuk turun dari transportasi umum. Setelah itu, mereka memesan taxi online untuk menuju ke kampus tempat Kian juga Heru mengajar.


Tak perlu waktu lama, mereka sudah tiba di lokasi. Nadine segera mengirim pesan ke Kian. Ia meminta Kian menemuinya di kantin kampus.


Nadine masih hafal betul lokasi kantin kampus karena beberapa kali Heru pernah mengajaknya makan di sana. Tentu, hal ini membuat Nadine bernostalgia dengan masa dimana ia masih berpacaran dengan Heru.


Sambil menunggu Kian, Nadine dan Windi memesan makanan juga minuman. Mereka pun kembali melanjutkan obrolan namun bukan lagi tema yang sama. Hanya soal Windi yang patah hati karena ternyata gebetannya sudah punya kekasih. Nadine pun menepuk-nepuk punggung Windi sebagai bentuk dukungannya buat Windi agar tak rapuh hingga terasa ngilu. Namun Windi berkali-kali menangkis tepukan Nadine. Tak menyerah menggoda temannya, Nadine mengalihkan tepukannya pada aktivitas menggelitik Windi. Tak terima, Windi pun melakukan hal yang sama. Akhirnya mereka saling menggelitik. Saking asyiknya, mereka tak menyadari kedatangan seseorang wanita yang tahu Nadine tapi tidak kenal Nadine dan demikian juga pada Nadine yang tak tahu apalagi mengenalnya.


"Kamu Nadine, kan?" Tanya wanita itu.


"I-iya, saya Nadine. Maaf, mbak siapa ya?"

__ADS_1


"Saya Ria, istri Heru."


__ADS_2