Pelarian

Pelarian
Melemahkan


__ADS_3

Melumpuhkan


Sudah pagi, Kian mengecek ponselnya untuk membaca laporan dari orang yang ia minta untuk membuntuti Nadine. Hasilnya, orang tersebut belum mendapati Nadine mendatangi bidan, ataupun dokter kandungan. Kian meminta orang tersebut untuk kembali mengikuti Nadine sampai ia berhasil melumpuhkan Riani juga orang yang menyuruh Riani. Setelah itu, ia sendiri yang akan mengekori Nadine.


Tak sabar, 2 kata itu yang menyebabkan beraksi lagi. Saran dari dokter agar beristirahat minimal 3 hari, ia abaikan. Jadi begitu bukti dan bahan untuk melumpuhkan Riani sudah tersusun rapi, Kian berangkat menuju lokasi yang diinfokan oleh Heru.


Di luar ekspektasinya, rupanya Heru mengikuti instruksi Kian untuk mendekati Riani. Bukan, bukan sebagai cem-ceman Riani, melainkan menjadi bagian tim sukses Riani.


Sebelumnya, Kian pikir Heru tak hendak membantunya, mengingat Heru menghilang tak berkabar setelah Kian mendengar rekaman suara Heru yang isinya tentang keinginan Heru untuk merengkuh Nadine kembali. Kian pikir, penolakan Nadine untuk kembali pada Heru, membuat Heru patah hati dan enggan membantu Kian menjalankan misi melemahkan Riani.


Kian sudah tiba di lokasi. Langkah kakinya dipercepat demi segera bertemu dengan Heru. Ya, Heru meminta Kian untuk menemuinya terlebih dahulu sebelum berhadapan dengan Riani.


"Cepet juga, Lo!" Komentar Heru begitu melihat Kian berdiri dihadapannya. Mereka saling berjabat tangan, barang sebentar. Lalu Kian duduk di kursi lain.


"Gue punya bukti yang bisa melumpuhkan Riani, bukti ini akan membuat Riani di diskualifikasi di pilkada nanti" Raut senang nampak jelas di wajah Heru. Ia senang karena bukti ini akan membuat hutangnya pada Kian Lunas. Heru lalu menyerahkan bukti yang ia miliki pada Kian. Kian bergegas menyatukan bukti tersebut di laptopnya.


"Gue pikir Lo nggak mau bantuin gue, karena elo ngilang setelah mengutarakan keinginan Lo ke Nadine untuk menjalin hubungan kembali" ungkap Kian sembari mematikan laptopnya lalu kembali menyimpan laptop di ranselnya.


"Waduh, ketahuan donk" Heru nyengir. Kian menatapnya tajam.


"Sorry, Bro, gue nggak bermaksud merebut Nadine dari elo, gue cuma...cuma...cuma...mencoba peruntungan..hehehe" mendengar penjelasan Heru, sontak Kian melemparkan kotak tissue yang ada di depannya pada Heru.


"Ampun, Bro, ampuunn, nggak lagi deh, gue kapok patah hati sama Nadine, sakit euy" Heru melambaikan tangan ke arah Kian, tanda menyerah berharap cinta pada Nadine.


"Gue menghilang karena nggak mau Riani curiga dengan gerak gerik gue. Gue mau Riani percaya kalau gue memang mau jadi tim suksesnya, bukan jadi mata-mata Lo" Jelas Heru.


"Thanks ya" ucap Kian.


"Gue yang makasih sama elo, karena udah bantuin gue di saat gue lagi terpuruk" kata Heru.

__ADS_1


"Oya, ngomong-ngomong utang gue yang 20 juta ke elo itu, berarti lunas yak. Sesuai janji elo"


"Iya, gue inget. Lunas"


"Yes" Heru senang.


"Trus sekarang Riani dimana?"


"Dia masih di ruang pertemuan sama tim sukses lainnya. Setelah itu, elo bisa ketemu dia, dia kosong, nggak ada kegiatan setelah ini" jelas Heru.


"Ya udah, gue balik duluan ya" pamit Heru. Kian mengangguk.


Beberapa jam kemudian, pertemuan itu bubar. Riani keluar paling belakang. Kian berjalan cepat menghampiri Riani.


"Ri, gue mau ngomong" kata Kian. Kian sempat menangkap ekspresi terkejut dari wajah Riani.


"Gue nggak ada waktu" Riani mempercepat langkahnya. Ia berusaha menghindari Kian.


"Ikut gue" Riani mengajak Kian ke ruangan yang dijadikan tempat pertemuan tim suksesnya.


Saat sudah di dalam ruangan, Kian membuka laptop lalu menunjukkan bukti kejahatan Riani yang ada di layar laptop. Riani menutup mulutnya. Ia tak menyangka Kian akan sedetail itu mendapatkan tindak kejahatan juga kecurangannya. Bagi Riani, apa yang ditunjukkan Kian bisa menghancurkan karir politiknya.


"Elo mau apa?" Tanya Riani langsung.


"Apa motif Lo menghancurkan pernikahan gue? Gue pengin tahu itu"


"Oke, gue bakal ngasih tahu Lo. Gue melakukan itu karena elo sendiri. Elo ngehancurin mimpi gue padahal tinggal selangkah lagi. Gara-gara elo nggak mau nerima perjanjian politik dari partai gue, gue harus ubah strategi dan itu butuh banyak dana, gue harus bersusah payah mencari dukungan dengan cara sawer uang" Riani berhenti untuk menghela nafas.


"Elo tahu kan, gue bukan anak sultan, gue nggak punya uang banyak untuk mencari dukungan." Riani masih menatap layar laptop yang berisi bukti-bukti kejahatannya.

__ADS_1


"Gue melakukan berbagai cara biar dapet uang, apapun, demi mewujudkan mimpi gue, termasuk menerima tawaran seseorang untuk menghancurkan pernikahan elo. Kalau gue berhasil, gue bakal dapet uang" jelas Riani lagi.


"Gue mohon, jangan bawa bukti-bukti yang elo bawa ke ranah hukum, gue bisa mendekam di penjara. Jangan juga elo bawa skandal gue ke sosial media, citra gue bisa hancur sudah." Mohon Riani. Wajahnya memelas. Ia bersujud di kaki Kian. Namun, dengan sigap Kian menghindar.


"Gue bakal ngelakuin apapun, tapi jangan elo lakuin yang gue sebutin tadi, please, jangan bunuh mimpi gue" pintanya.


"Gue mau Lo serahin semua file foto vulgar gue"


"Sudah gue serahin ke Nadine, bini Lo"


"Lo pikir gue beg*, gue tahu elo masih nyimpen foto itu" kata Kian.


"Serahin semua atau gue beberkan skandal Lo"


"Jangan jangan, ada di tas gue" Riani mengambil flashdisk kecil dari tasnya lalu menyerahkannya pada Kian.


"Kedua, gue mau elo tunjukkan chat Lo sama orang yang nyuruh Lo" pinta Kian. Riani memberikan ponselnya pada Kian. Dan Kian pun beraksi mengumpulkan bukti dari chat Riani dan pelaku utama.


"Oke, gue nggak akan membawa ini ke ranah hukum, atau menjadikan ini viral" Kian menunjuk laptopnya yang berisi bukti-bukti kejahatan juga skandal yang dilakukan Riani.


"Tapi, gue nggak segan bertindak seperti kalau elo berulah lagi, jadi kartu As Lo ada di gue, jangan macem-macem elo" ancam Kian.


"Intinya Gue mau Elo berhenti ganggu hubungan gue dan Nadine" imbuhnya.


"Gue udah berhenti, gue udah nggak lagi menteror Nadine, sejak surat cerai kalian keluar, yang belum berhenti ya yang nyuruh gue" ungkap Riani.


"Orang itu kelihatan benci banget dengan kalian berdua. Gue nggak tanya juga gara apa-apa. Tapi dari sorot matanya setiap kali membicarakan kalian berdua, ia menunjukkan rasa benci gitu" kata Riani.


"Trus dia bilang ke gue, kalau kalian kembali bersama lagi, dia yang bakal beraksi sendiri, nggak hanya membuat kalian pisah secara agama dan negara melainkan pisah sesungguhnya, elo paham, kan maksud gue" Riani mengingatkan. Kian paham maksud Riani, perpisahan sesungguhnya itu pisah karena salah satu hayat sejoli sudah tidak dikandung badan. Tiba-tiba, Kian bergidik ngeri, separah ini.

__ADS_1


"Jadi pesan gue, Elo harus jaga diri baik-baik, jaga Nadine juga, dia sasaran utama"


***


__ADS_2