Pelarian

Pelarian
Sehangat Itu


__ADS_3

"Termasuk depan ibumu sendiri, Nad?" Kata ibu yang tengah berdiri bersandar di pintu kamar Nadine.


"Ibu!?" Seru Dika dan Nadine kompak.


"Sejak kapan ibu disana? Sini, Bu, aku punya bakso kesukaan Ibu, lho" Ucap Nadine. Lagi lagi ia berusaha untuk mengalihkan fokus ibunya.


"Nggak mempan, nggak usah mengalihkan pembicaraan" tegas Ibu. Nadine tertunduk lesu. Ia baru ingat, ibunya itu seringkali kebal dengan jurus pengalihan perhatian miliknya. Ibu memang kenal betul dengan karakter anaknya.


"Jadi bener itu, Nad? Bener kalian sudah pisah?" Tanya Ibu Nadine. Nadine menunduk dalam, sebentar. Lalu mendongakkan kepalanya dan menatap langit-langit kamar. Ia berusaha menghentikan air mata yang mau keluar.


"Jawab Ibu, Nad, ibu nggak apa-apa, apapun kenyataannya" pinta ibunya. Nadine mengangguk perlahan. Disertai dengan lelehan air mata di pipinya. Rupanya, ia gagal menahan air matanya menderas keluar.


"I..iya, Bu" kali ini suara Nadine bergetar. Lalu hanya dalam sepersekian detik, tangisnya pecah. Tangis yang sudah ia tahan sejak lama, kini tumpah ruah. Nadine menangis sejadi-jadinya.


Sementara itu, ibu yang melihat tubuh Nadine bergetar karena dalamnya tangisan, mendekati putrinya itu, lalu mendekapnya erat.


"Meskipun kamu sudah menikah dan mau bagaimanapun, keluarga tempat kamu pulang. Layaknya rumah, yang menerima apa adanya penghuni didalamnya, begitu juga keluarga, Ibu, adikmu, ayahmu menerima kamu dalam kondisi suka, lara, duka, apapun." ucap Ibu Nadine. Ia turut meneteskan air mata melihat kondisi putrinya yang menangis sampai sesenggukan.


"Kalau ada masalah, jangan dipendam sendiri. Ceritakan ke ayah, ibu, atau adikmu, si Dika ini, gini-gini dia bisa koq beri solusi, solusi main gundu" kata Ibu Nadine. Berusaha mencairkan suasana yang menduka melara. Nadine menyunggingkan sedikit senyum lalu melirik Dika. Yang dilirik hanya bisa cemberut pasrah. Kalau sudah sang ibu suri bicara, dia bisa apa? Berani membantah ibu suri, siap-siap saja bakal dislepet kolor ayahnya.


"Kalau memang kamu ragu dengan pendapat atau solusi dari ibu, misalnya, nggak apa-apa, ibu nggak masalah, paling ibu cuma pergi ke Bu Tejo, ngobrol sampai sore"


"Dih, jadi selama ini, ibu ke rumah Bu Tejo itu karena ibu ngambek sama orang rumah, ya ampuuunn ibuuuuu, kayak abegong aja" cibir Dika. Ia manfaatkan betul untuk membalas ibunya.


Nadine yang melihat perseteruan antara ibu dan adiknya hanya bisa tertawa dan tak berniat juga melerai. Ibu dan adiknya itu lucu kalau berseteru. Ada saja kata-kata atau julukan-julukan ajaib yang keluar dari mulut ibu dan adiknya itu.


"Udah ah, Dika ini bikin ibu lupa mau tanya apa"


"Yeeee.... Malah Dika yang disalahin" Dika tak terima. Ia melengos dari tatapan ibunya.


"Jadi gimana, Nad? Kenapa kalian bisa berpisah? Bukan karena kamu nggak cinta Kian, kan?" Tanya ibu. Nadine menggeleng.


"Syukurlah, ibu khawatir, kalian bercerai akibat dari keputusan ayah yang gegabah memaksamu menikah dengan Kian, laki-laki yang tidak kamu suka"


"Bukan, Bu, Mas Kian baik ke Nadine, jadi nggak mungkin Nadine nggak suka dengan Mas Kian" terang Nadine.


"Trus karena apa? Jangan jangan karena Kian selingkuh" tebak Ibu.


"Bukan, Bu, bukan karena selingkuh, tapi...." Nadine menggantungkan kalimatnya.


"Apa?"

__ADS_1


"Tapi karena ada yang mengancam mau merusak masa depan Mas Kian kalau aku tidak berpisah dari Mas Kian, Bu"


"Merusak bagaimana?"


"Soal itu, Ibu tidak usah tahu, ya. Pokoknya yang mengancam itu bisa membuat nama baik mas Kian rusak. Jika nama baik Mas Kian rusak, maka tidak menutup kemungkinan masa depannya akan berubah suram." Nadine menjeda. Ia menghela nafasnya.


"Aku pikir, satu-satunya cara menyelamatkan Mas Kian adalah dengan menuruti kehendak yang mengancam yakni berpisah dengan Mas Kian" imbuh Nadine.


"Trus calon anak kalian, gimana?"


"Loh, kamu hamil, Mbak? Koq bisa? Eh Koq nggak cerita, tahu gitu kan aku kasih tahu ke Mas Kian" seru Dika.


"Jangan, jangan beri tahu Mas Kian"


"Nggak boleh, lho, Nad, misahin anak dari ayahnya" Ibu mengingatkan.


"Bukannya gitu, Bu, nantilah, nanti ada masanya Nadine sendiri yang memberitahu pada Mas Kian"


"Kapan?"


"Mungkin sampai Mas Kian meni..menikah lagi, mungkin" Nadine tertunduk. Sepintas Nadine membayangkan Kian menikah dengan wanita lain. Ah, membayangkannya saja, Nadine sudah merasa ada yang menggores perasaannya dengan sembilu.


"Loh, kenapa kalian nggak kembali saja lagi kalau sekiranya masalah kalian ini sudah mereda. Toh kamu juga masih suka dengan Kian, terlebih kamu mengandung buah dari pernikahan kalian. Ibu juga yakin Kian pasti mau kembali sama kamu"


"Ya Allah, koq bisa gini pernikahanmu, Nad" Ibu memeluk Nadine lagi. Dika juga ikut memeluk Nadine juga ibunya.


"Sabar, ya, insyaAllah setelah perceraian yang kamu hadapi ini, kamu segera meraih bahagia, aaminn" pesan ibunya. Nadine mengangguk. Mau bagaimana lagi. Bisanya memang cuma itu, bersabar.


"Ka, udah deh, lepas, ibu gerah ini, kamu meluknya kencang banget, mana bau ketek lagi, ya ampuunn, anak cowok ibu" protes ibu. Sayangnya, mendengar ucapan Ibu membuat Dika makin enggan melepas pelukannya.


"Ka, lepas" pinta ibu lagi.


"Nggak mau"


Nadine sumringah melihat tingkah adik juga ibunya. Benar, memang, keluarga adalah tempat yang paling nyaman untuk kembali 'pulang'. Nadine menyesali dirinya sendiri yang tak pernah berusaha mengakrabkan diri dengan keluarganya hanya karena untuk melindungi dirinya dari permintaan ayahnya yang bersifat memaksa. Nadine menjaga jarak. Namun, ia bersyukur, karena kini ia tahu keluarganya sehangat itu.


Saking asyiknya bercanda, mereka jadi tidak menyadari kehadiran ayah yang menatap mereka dari pintu kamar Nadine.


"Ehem..." Ayah berdehem cukup keras. Maka tangan tangan mereka yang saling berpelukan bersamaan terlepas.


"Tumben pada pelukan? Dalam rangka apa?" Tanya Ayah penuh selidik. Mengingat ini adalah pertama kalinya ayah melihat adegan Teletubbies. Terakhir, mereka begini saat Dika sunat.

__ADS_1


"Nggak dalam rangka apa-apa, Yah. Oya ayah sudah makan? Ayolah kita makan biar ibu temani" Ibu mencoba mengalihkan pembicaraan setelah menyadari kode-kode rahasia dari Nadine. Sebuah kode yang berarti Nadine tidak ingin ayah tahu lebih dulu tentang perceraiannya.


"Boleh, deh, ayah juga sudah lapar" Ayah lalu berjalan menuju meja makan diikuti oleh Ibu. Sementara Nadine, dan Dika memilih tetap berada di kamar. Nadine asyik memakan ketiga makanan yang ia pesan. Dika yang melihat racikan aneh makanan kakaknya, hanya sanggup menggelengkan kepala.


Hari itu, akhirnya, Dika dan Ibu tahu bahwa Nadine sudah berpisah dengan Kian.


***


Keesokan harinya, Nadine mendapatkan kabar dari Riani bahwa Riani akan mengirimkan surat perceraiannya melalui jasa pengiriman saja. Riani beralasan sedang banyak kesibukan. Nadine pun memberikan alamat rumahnya.


Semula, rencananya, Nadine ingin seharian di rumah saja menunggu datangnya surat perceraian yang dikirimkan Riani. Namun, berhubung, di rumah ada Dika, jadi Nadine memutuskan untuk pergi ke kosnya saja untuk mengemas barang-barangnya di kos. Ibu akan membantu Nadine.


Ya, Nadine diminta untuk tinggal di rumah saja oleh Ibu. Ibu tidak tega membiarkan Nadine di kos sendirian apalagi tengah hamil muda.


Nadine sempat menolak permintaan ibunya itu, karena Nadine merasa dia baik-baik saja. Ia tidak mengalami yang namanya morning sickness, pusing, atau mudah lelah lagi. Hanya nafsu makannya saja yang menggila. Kata orang, hamilnya ini disebut hamil kebo. Namun, ibu tetap kekeuh ingin mengajak Nadine tinggal di rumah saja.


Sedang asyik bersiap-siap, Nadine mendengar suara orang yang menyebutkan kata 'Paket'. Ia ingin bergegas mengambil paket tersebut, namun sayang hasratnya ingin buang air kecil meronta-ronta. Nadine memilih untuk buang air kecil terlebih dahulu.


"Ya, sebentar, Pak!" Seru Nadine lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Ayah yang kebetulan ada di ruang tamu sedang membaca koran, berinisiatif untuk menerima paket tersebut. Setelah membubuhi tanda tangannya sebagai tanda telah menerima paket, Ayah membawa paket tersebut ke dalam rumah.


"Apa ini? Surat perceraian?" Kata ayah membaca keterangan barang yang dikirimkan yang tertera di bagian depan paket.


"Siapa yang bercerai?" Tanyanya pada diri sendiri.


Seketika itu, pikiran tak enak menjalari otaknya. Ia pun bergegas membuka paket tersebut. Mengambil sebuah kertas di dalamnya dan meletakkan map pembungkus surat tersebut ke sembarang tempat. Kemudian Ia baca dengan seksama. Lalu...


"Nadine...." Seru Ayah dengan suara yang cukup keras sehingga mengundang kehadiran Nadine juga ibu dan Dika.


"Katakan pada ayah, apakah ini benar?" Ayahnya menunjukkan surat perceraian pada Nadine.


"Kalian sudah bercerai?" Tanya ayah masih dengan suara yang keras. Nadine mengangguk lemah.


"Karena apa? Apa penyebabnya? Karena Kian selingkuh? Perempuan yang mengirim ini selingkuhan Kian bukan? Kurang ajar, Brengsek." Tuduh Ayah Nadine tanpa menunggu konfirmasi dari Nadine.


Sudah kepalang emosi, membuat ayahnya lupa diri. Maka tak heran, dalam hitungan detik, ayah Nadine menyambar kunci motor.


"Ayah habisin laki-laki brengsek itu, berani beraninya" kata Ayah lalu bergegas ke garasi dan mulai menyalakan kemudian melakukan motornya dengan cepat.


Nadine yang terkejut dengan respon ayahnya baru tersadar akan keinginan ayahnya yang ingin menghabisi Kian.

__ADS_1


"Ka, kamu kejar Ayah ke rumah Mas Kian, cepet, nanti mbak menyusul sama ibu, cepetan"


***


__ADS_2