
Selesai sholat subuh, Kian menarik kembali ke tempat tidur. Tangannya kembali melingkar di pinggang Nadine yang masih tidur nyenyak. Biasa, kalau Nadine lagi haidh, bawaannya malas bangun subuh.
Sejak Kian sakit waktu itu, mereka sudah tidak tidur terpisah lagi. Bukan Nadien, melainkan Kian yang memisahkan diri dari Nadine karena takut khilaf menyerang Nadine. Sekarang, Kian kembali nempel kayak tompel.
Kian membalik tubuh Nadine agar menghadapnya. Nadine menurut saja. Ia pun membalikkan tubuhnya. Setelah Nadine sempurna menghadap Kian, Kian lalu menyelusupkan kepalanya di dada Nadine. Nadine tak melawan.
"Sayang..." Panggil Kian. Nadine tak menyahut.
"Honey..." Kian mengulangi. Kali ini sambil menggerak-gerakkan kepalanya di dada Nadine.
"Heemm.." Nadine akhirnya menyahut. Ia lalu berusaha menjauhkan kepala suaminya itu dari dadanya. Gagal, Kian malah mendekapnya erat.
"Kamu ikut Mas aja, ya" Pinta Kian.
"Nggak..bisa" Jawab Nadine pelan. Ia masih mengumpulkan kesadaran.
"Nggak bisa, Mas, aku banyak deadline kerja..aannn" imbuh Nadine. Ia menguap. Kantuk masih merajainya.
"Yaaahhh, bakalan kangen donk"
"Kan cuma 3 harian, Mas, nggak lama, lagian kita bisa telfonan" kata Nadine.
"Tapi nggak bisa meluk gini" Kian makin manenggelamkan wajahnya di dada Nadine.
"Udah, Mas, geli" Nadine berusaha menjauhkan kepala Kian. Kian menurut. Ia memindahkan kepalanya sejajar dengan Nadine. Emang dasar Kian tidak bisa diam, ia kini malah ******* bibir Nadine. Nadine yang merasa tak nyaman, berusaha sekuat tenaga melepaskan ciuman Kian.
"Mas, aku belum sikat gigi"
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Mas suka suka aja" kata Kian lalu kembali mencium Nadine. Nadine pasrah.
"Oya, tadi mas baca-baca artikel di google tentang cara biar haidh cepat selesai, lho, kamu mau tahu, nggak?"
"Nggak mau, jangan aneh-aneh deh Mas, kalau aneh-aneh nggak usah aja mendingan" ancam Nadine. Kian terkejut. Apalagi melihat tatapan mata Nadine yang sudah laksana tatapan mata Medusa, mematikan, mematikan hasrat.
"Eit, jangan dooonkkk, nggak aneh aneh, deh" Kian kembali mencium bibir Nadine.
"Sama siapa aja, Mas?"
"Kan acara organisasi, jadi ya sama teman-teman organisasi. Tapi hanya pengurus inti saja"
"Ada ceweknya juga, Mas?"
"Ada, banyak"
"Seneng, donk, kamu" kata Nadine sinis. Kian mencium bau bau cemburu. Jika benar begitu, Kian tentu amat senang karena dicemburui Nadine.
***
Kian sudah tiba di lokasi acara. Ia disambut oleh Riani, teman organisasi sekaligus mantan kekasihnya. Riani memang menunggu kedatangan Kian.
"Akhirnya, kamu datang juga" sapa Riani.
Kian mengulurkan tangannya dan disambut oleh Riani.
"Maaf, disasarin google map tadi" kata Kian.
__ADS_1
"Ya sudah ayo masuk, kamu sudah ditunggu dari tadi sama partner kerja aku"
Kian mengikuti langkah Riani menuju sebuah ruangan yang didalamnya sudah berisi beberapa orang. Kian menyalami setiap orang yang sudah hadir. Basa basi sebentar, lalu mereka mulai membahas maksud pertemuan kala itu.
Riani, yang juga berada di dalam ruangan tersebut, tersenyum lebar setiap kali Kian berbicara. Di mata Riani, Kian masih mengagumkan. Kecerdasan linguistiknya memang luar biasa. Maka tak heran, Riani mendapati beberapa orang yang berada di dalam nampak antusias mendengarkan Kian.
Diam-diam terbersit rasa penyesalan di hati Riani atas apa yang ia lakukan dulu pada Kian. Andai saja ia tak mendua, mungkin saat ini mereka sudah bahagia. Ah penyesalan memang datang belakangan.
Tapi, Riani sempat mendengar kabar burung entah burungnya siapa, bahwa Kian tak bahagia dengan rumah tangganya. Karena katanya istrinya tidak mencintainya. Beberapa orang malah sering melihat Kian menghabiskan waktu di angkringan saat malam. Lalu di pagi hingga sore hari, Kian menghabiskan waktu di kampus dan kantor organisasi. Dilihat dari ini, bisa dibilang Kian lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah. Ini bisa jadi indikator Kian tak bahagia dengan pernikahannya.
"Masih ada kesempatan, donk, untuk ngedapetin Kian lagi." Gumam Riani dalam hati.
"Eh tapi nggak ah, aku kudu fokus sama karir dulu, sebelum cita citaku tercapai, aku nggak mau mikirin soal cinta" lanjut Riani masih dalam hati.
Akhirnya, 2 hari berlalu. Riani mencium bau kegagalan strategi yang ia buat untuk membuat karirnya gemilang. Dan kegagalan ini karena Kian.
"Kian, aku mohon, tolong pikirkan lagi tawaran orang-orang yang ada di dalam" pinta Riani saat mereka berada di sebuah kafe. Sebenarnya mereka tidak berdua, melainkan bersama dengan para partner kerja Riani. Namun, mereka semua menuju ke sebuah ruang karaoke dan meninggalkan Riani dan Kian berdua.
"Nggak bisa, karena kesepakatan yang partner kerjamu itu ajukan hanya menguntungkan satu pihak saja, dan sayangnya keuntungan tersebut bukan untuk teman-teman buruh" Jawab Kian.
"Please bantu aku kali ini aja. Cita-citaku sudah di depan mata, Yan"
"Maaf, aku tetap pada pendirianku" teguh Kian.
Riani paham. 2 kali permintaan ditolak berarti Kian benar-benar tak mau.
Namun, bukan Riani si ambisius namanya kalau harus menyerah begitu saja. Ia pun memutuskan untuk menggunakan cara lain. Sebuah cara untuk meluluhkan Kian lagi.
__ADS_1
Sementara itu, di rumah, Nadine yang tengah asyik ngopi tiba-tiba dikejutkan dengan sebuah pesan dari nomor tak dikenal yang mana isi pesannya yakni sebuah foto suaminya dengan seorang wanita yang tengah bermesraan manja.
***