Pelarian

Pelarian
Bahaya


__ADS_3

Bahaya


"Nggak apa-apa, ayah masih bisa nahan, trus rencananya mau kemana lagi, nih? Biar sekalian ayah antar"


"Ke rumah mas Kian, Yah." Ucap Nadine. Ayah tersentak mendengar keinginan anaknya itu.


Ayah nampak berpikir. Cukup lama karena ayah tengah mengamati lalu menafsirkan maksud keinginan anaknya itu. Ya, ayah masih belajar mengenal karakter anaknya.


Memang, seharusnya, Ayah sudah mengenali karakter anaknya sejak masih kecil. Namun, waktu itu, ayah hanya fokus mencari nafkah. Sedangkan urusan anak-anak, ia serahkan sepenuhnya pada sang istri. Ayah tidak mau tahu soal tumbuh kembang anak-anaknya. Maka tak heran, keputusan-keputusan yang ayah buat melenceng dari karakter anaknya.


Terlambat? Ah, tidak. Tidak ada kata terlambat untuk belajar, belajar mengenal karakter anak meskipun anak sudah beranjak dewasa.


"Aku cuma ingin lihat dari jauh aja, Yah, sebelum besok pergi" kata Nadine. Ayah lalu menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.


Nadine senang, karena ayahnya mengizinkannya untuk melepas rindu. Meskipun hanya melihat rumah Kian dari jauh.


Tak lama, Nadine dan ayahnya sudah tiba di pintu masuk perumahan tempat rumah Kian berada. Ayah melajukan mobilnya perlahan sebab sudah memasuki daerah pemukiman.

__ADS_1


Nadine merasakan detakan dadanya terasa semakin kencang. Ia nervous? Tentu saja. Bagaimana tidak nervous mengingat sudah lebih dari satu bulan lamanya mereka tidak bertemu. Komunikasi pun tak pernah. Lebih tepatnya, Nadine yang menghindari komunikasi dengan Kian.


Rumah Kian nampak sepi sekali. Nadine memperhatikan rumah Kian lekat-lekat. Lalu, sekelebat momen masa lalu saat bersama Kian hadir menyeruak hingga Nadine tak sadar buliran air mata menggenang di sudut matanya.


"Sudah, Nad? Kalau sudah kita pulang" kata Ayah memecah keheningan.


Nadine menggelengkan kepalanya. Belum cukup mengobati rindu di hatinya. Ia masih butuh waktu barang sebentar lagi saja.


"Belum, Yah, sedikit lagi, boleh?" Izin Nadine.


Ayah ingin sekali menolak. Karena beberapa pasang mata orang yang lalu lalang di depan rumah Kian nampak menaruh curiga. Namun, melihat ekspresi wajah anaknya yang nelangsa, Ayah mengizinkan Nadine. Ayah menganggukkan kepalanya lagi. Melihat respon ayah, Nadine sontak girang, ia senang.


Nadine turun sendirian. Ia melangkahkan kakinya yang mendadak terasa ringan sekali. Senyum riang tergambar jelas di wajahnya.


Sementara itu, ayah ikut turun dari mobil lalu mengikuti langkah Nadine. Ayah sedikit menjaga jarak dengan Nadine. Ia hanya ingin memberi waktu buat Nadine sebelum esok pergi.


Tiba di depan pagar, Nadine mencari letak pintu pagar. Tidak ada gembok di sana yang berarti pintu gerbang rumah Kian tidak terkunci. Nadine memutuskan untuk masuk ke dalam teras rumah Kian.

__ADS_1


Nadine duduk-duduk di kursi yang ada di teras. Bagaikan slide show, seketika adegan saat Kian pamit bekerja tersaji tepat di depan matanya. Mulai dari ia yang mencium punggung tangan Kian. Kian yang menarik pinggangnya lalu memeluknya erat. Hingga Kian yang mengecup puncak kepalanya. Kemudian Kian menangkup tangannya di rahang Nadine lalu menciumi pipi dan bibir Nadine. Adegan berpamitan untuk berangkat kerja itu diakhiri dengan cubitan Nadine di perut Kian. Ini ia lakukan demi membuat Kian berhenti menciuminya.


Nadine tersenyum mengingat hal itu. Ia pikir, momen bahagia itu akan bertahan lama sampai akhir hayat Nadine atau Kian. Nyatanya, momen bahagia itu hanya bisa ia rasakan seumur jagung.


Helaan nafas keluar dari mulut Nadine. Ia menghapus air mata yang mengaliri pipinya.


Nadine mengedarkan pandangan ke setiap sudut halaman depan rumah Kian. Setelah ia rasa cukup, Nadine pun beranjak meninggalkan rumah Kian. Tak ingin cepat pergi, Nadine berjalan begitu lambat. Sengaja, gerakan kakinya ia slow motion sedemikian rupa. Nadine pun menutup pintu pagar. Ia mengalami kesulitan saat hendak mengunci pintu pagar rumah Kian. Dari dulu, Nadine memang selalu kesusahan saat mengunci pintu pagar. Seingat Nadine, Kian dulu sempat ingin memperbaiki pintu pagarnya. Namun, sampai saat ini, pintu pagar masih rusah juga, belum Kian perbaiki.


Sementara itu, Ayah masih setia menunggui Nadine, tak jauh dari rumah Kian. Ayah lalu membuka pintu mobilnya menggunakan remote kecil, saat melihat Nadine tengah mengunci pintu gerbang rumah Kian.


Masih fokus, Nadine berusaha mengunci pintu pagar. Ia tak hirau dengan tatapan orang kepadanya baik yang berjalan kaki hingga yang berkendara. Nadine tak peduli dengan sekitarnya. Saking fokusnya, ia tak sadar bahwa ada sebuah mobil yang melaju cepat ke arahnya.


Untungnya, ayah Nadine menyadari keanehan gerakan mobil yang ternyata terletak di belakangnya. Ia berlari cepat menuju Nadine. Namun,


BRAK.


...

__ADS_1


...


***


__ADS_2