
Kepala Niah masih pusing, ia tidak mengingat apa-apa tentang kejadian semalam. Setelah ia meminum jus yang di sajikan di meja resto itu ia benar-benar tak ingat apa-apa lagi. Ia mengedarkan pandangannya di kamar itu, tak ada tanda-tanda ada orang di dalam kamar itu.
“Ting” sebuah pesan masuk di aplikasi chat wa , Niah menyambar ponselnya, alangkah terkejutnya ia setelah melihat pesan itu , sebuah video dirinya sedang melakukan hal tak senonoh dengan seorang laki-laki asing . “Jika kamu berani melarikan diri dari sana maka video ini akan tersebar di seantero negeri!” itu ancaman yang menyertai kiriman video itu.
Seketika tubuh Niah terasa lemas, telinganya berdenging keras, irama jantungnya berdegup tak beraturan, tubuhnya kebas tak mersakan apa-apa “ada apa lagi ini?” teriaknya, ia menangis sejadi-jadinya, fikirannya kacau tak tau apa mesti ia lakukan.
Saat itulah ia ingat mama dan papanya yang ia tinggalkan, apa yang akan terjadi terhadap mereka jika video itu tersebar ? alangkah malunya mereka “ Inikah bayaran yang harus aku tebus atas kesalahanku di masa lalu?, seburuk inikah takdirku? Kenapa Tuhan menghukumku dengan cara seperti ini?” pertanyaan-pertanyaan itu bagai hantu gentayangan berputar-putar di kepalanya.
Niah kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, kamar itu terkesan sangat mewah “Pasti ini hotel bintang lima” batin Niah “Tapi untuk apa mereka melakukan ini?”, Niah mencoba untuk bangkit dari kasur tempatnya tertidur, tubuhnya polosnya dililit selimut , ia tergopoh-gopoh menuju pintu mencoba membukanya, namun sia-sia pintu kamar itu terkunci. Tubuhnya lemas , kakinya kehilangan tumpuan ia terjatuh ke lantai sambil menangis terisak. “Malang nian nasibku” ia membentur-benturkan kepalanya ke tembok sambil menangis rasanya ingin mati saja.
Ia berusaha berdiri kembali dengan selimut tebal masih menempel di tubuhnya, ia menuju lemari pakaian untuk melihat siapa tau ada pakaian yang bisa ia pakai untuk menutupi tubuhnya. Di dalam lemari hanya tersedia linggrid berbagai macam warna “Untuk apa semua ini?” ucapnya heran sambil memeriksa semuanya, namun tak ada yang ia rasa pantas untuk di pakainya terlalu seksi.
Ia kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, ia mandi di bawah shower dengan linangan air mata, ia merasa begitu kotor tak akan cukup air selautan untuk membersihkan dirinya, Ia bingung apa yang harus diperbuatnya sekarang.
Hampir satu jam ia mandi di bawah shower hingga tubuhnya menggigil kedinginan, dengan langkah gontai ia menuju tempat handuk masih di area kamar mandi, dikeringkannya tubuhnya yang mulai tak bertenaga, langkah kakinya semakin lemah karena kedinginan.
__ADS_1
“Deg!” jantungnya kembali berdegup saat membuka pintu kamar mandi seorang pria asing tengah duduk di kursi dekat ranjang sambil tersenyum kearahnya. Niah kikuk berusaha menutupi bagian tubuhnya yang terbuka karena ia hanya memakai handuk sebatas paha dan dadanya sehabis mandi.
“Jangan takut, aku kesini hanya ingin membawakanmu ini!” kata pria itu sambil menyodorkannya sesuatu. Dengan kerlingan mata nakal pria itu meninggalkan Niah yang masih berdiri diam ketakutan.
Niah segera memeriksa bawaan pria tadi , sebuah tas mungil warna biru malam serta gaun senada dengan tas itu, gaun itu menjuntai pajang melampaui mata kakinya tapi terbuka di bagian atas dan punggungnya. Niah mengerutkan dahi menatap gaun itu, “ Untuk apa lagi ini?” batin Niah. Namun tidak ada pilihan lain, hanya itulah baju satu-satunya baju yang bisa ia kenakan.
“Drrrrt…drrrrt….” Getaran ponsel di atas ranjang berseprei putih itu mengalihkan perhatian Niah “hallo” suara wanita dari seberang sana “Manis…kamu pakai gaun itu, sebentar lagi ada yang datang dan jangan coba-coba untuk menolak karena kamu tau kan konsekwensinya?” belum sempat Nia membalas perkataannya wanita sudah mematikan ponselnya.
Niah tertegun memikirkan semua drama hidup yang ia alami sungguh suatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumya, air matanya kembali mengalir membayangkan apa yang akan terjadi padanya selanjutnya.
Niah menangis meratapi apa yang terjadi , tak tau harus berbuat apa sekarang, ia bingung bahkan ia tak tau di mana ia sekarang berada.
Niah mencoba mencoba menelpon Rini namun tak ada jawaban dari sana, ia terduduk lemas di atas kursi dekat ranjang, menekurkan kepalanya pada kedua telapak tangannya berharap semua ini hanyalah mimpi.
Tangisnya belum juga terhenti saat sesorang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya, seorang pria setengah baya sepantaran ayahnya, sebagian rambutnya sudah memutih meskipun postur tubuhnya masih setegap anak muda seusia Niah. Lelaki itu tersenyum ke arahnya , pria dengan jas berwarna abu senada dengan celananya berdiri di depannya dengan senyum mengembang, dilihat dari penampilannya sepertinya ia seorang pengusaha.
__ADS_1
Niah menatapnya ragu, pria itu mendekati Niah dengan wajah berbinar seperti hewan buas melihat mangsa, Niah mencoba melangkah mundur namun kakinya terantuk di meja hias ia terpojok antara ranjang dan meja hias itu. “ bapak mau apa?” teriak Niah pada lelaki itu , lelaki itu hanya tersenyum sambil tetap mendekatinya, ia meraih dagu Niah dan menatapnya “ cantik…tak sia –sia aku bayar mahal…hehehe” lelaki itu tertawa terkekeh-kekeh membuat Niah semakin ketakutan.
“Jangan takut manis…aku akan berlaku lembut padamu” Niah memejamkan mata karena ketakutan, air matanya semakin deras membasahi pipinya, lututnya bergetar hebat , wajahnya pucat, keringat dingin membasahi gaun yang dipakainya.
“Ninis memang pandai memilih perempuan cantik” gumam lelaki tua itu. Mendengar perkataan lelaki itu Niah shock mengetahui ternyata Ninislah biang dari semua ini , tega sekali ia melakukan ini pada temannnya sendiri, Niah begitu marah saat tau kenyataan itu.
Lelaki itu terus mendekatinya, ia mencoba meronta namun cengkraman lelaki itu semakin membuatnya tak bisa bergerak, lelaki itu tertawa melihat Niah mencoba melawan namun kekuatannya tak sebanding dengan lelaki itu.
Niah tak berdaya mengingat ancaman yang terkirim di ponselnya. Lelaki itu dengan ganasnya melucuti semua pakaian Niah tanpa belas kasihan melihat Niah terus menagis dan meraung sampai akhirnya Niah pasrah atas semua itu, mungkin memang takdirnya mengalami semua ini, mungkin ini memang hukuman yang harus ia jalani atas kesalahnnya di masa lalu.
Ia benar-benar telah menjadi wanita jalang, keluar masuk hotel dengan berbagai tipe laki-laki, Ninis menyediakan semua kebutuhannya, mulai dari pakaian, makanan dan semua keperluan Niah. Ia benar-benar sudah lupa dengan ketakutan-ketakutan yang ia alami sebelumnya. Niah semakin terjerat dalam perangkap Ninis yang terus mengancamnya dengan video-video yang semakin hari semakin banyak , sementara hingga hari ini ia belum bertemu Rini sama sekali.
Kehidupannya sekarang akrab dengan minuman – minuman ber alkohol berpindah dari hotel satu ke hotel yang lain dengan para lelaki hidung belang. Ia mulai terbiasa dengan kehidupan itu sehingga sakarang ia seperti menikmati semua itu.
Malam itu seperti biasanya ia dihubungi Ninis melalui ponsel Nokia jadul dengan tombol yang banyak di atasnya karena Ninis telah menyita smartphonenya yang dulu. Ninis menghubunginya karena ingin mengatakan bahwa akan ada pelanggan lagi. Ia bersiap-siap menyambutnya dengan berdandan secantik-cantiknya menunggu di kamar hotel yang telah di tentukan.
__ADS_1
Saat pintu kamar terbuka keduanya sama-sama terperangah “ Niah!” ucap laki-laki itu kaget, “Reza!!” pekik Niah tak kalah terkejutnya. Amarah Niah tiba-tiba memuncak ia berlari mendekati Reza kemudian memukulnya dengan sekuat tenaga , melepaskan semua kemarahan, kekecewaan yang selama ini membelenggunya, sementara Reza hanya berdiri mematung, tak menyangka bahwa Niah yang dikenalnya dulu sebagai wanita terhormat sekarang telah mejadi wanita seperti itu, Reza masih shock dengan kenyataan yang ada di depan matanya sekarang sehingga untuk sesaat ia tidak peduli dengan pukulan dan tangisan Niah .