Pelarian

Pelarian
Menginap Berdua


__ADS_3

Menginap Berdua


Setelah bercengkrama sebentar, Kian memutuskan untuk pamit pulang kepada kedua orangtua Nadine. Kian lalu masuk ke mobilnya dan bergegas menyalakan mobil mesinnya. Saat akan melaju, tiba-tiba Nadine mengetok jendela mobil di bagian kiri. Kian lalu membuka kaca mobilnya.


"Bang Kian, Nadine ikut balik." Kata Nadine. Kian mengangguk.


"Buk, Yah, Nadine berangkat ya, Assalamu'alaikum." Pamit Nadine. Kemudian Nadine masuk ke mobil Kian, memasang sabuk pengaman.


"Sudah siap?" Tanya Kian. Nadine mengangguk.


Kemudian mobil Kian pun melaju. Kian memfokuskan diri di belakang kemudi. Karena kali ini ia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang agak tinggi. Kian ingin segera tiba di rumah karena ada pekerjaan yang harus ia selesaikan malam ini.


Nadine merasa aneh dengan sikap Kian. Karena tak biasanya Kian mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi saat sedang bersamanya. Nadine melihat sebentar ke arah Kian. Ia mendapati ekspresi wajah Kian yang tengah serius. Ini membuat Nadine mengurungkan niatnya yang ingin bertanya pada Kian.


Sayangnya, usaha Kian untuk tiba di rumah secepat mungkin menjadi sirna, karena di tengah jalan ada sebuah kecelakaan yang membuat kondisi jalan macet parah.


"Shit" gerutu Kian.


Nadine yang pertama kali mendengar Kian mengucapkan kata tersebut seketika menoleh ke arah Kian. Ia ingin bertanya tapi sekali lagi ia urung melakukannya. Entahlah, rasa kesalnya pada Kian yang sudah mengutarakan keinginannya pada orangtua Nadine untuk segera melamar, masih tersusun rapi di hati dan pikirannya. Ia amat kesal dengan Kian.


Tak ada pembicaraan di dalam mobil. Nadine dan Kian larut dalam pikirannya masing-masing. Kian memilih mengecek gawainya sesekali sambil tetap fokus di belakang kemudi. Sedangkan Nadine memilih memakai earphone dan mendengarkan musik. Ia bersenandung kecil mengikuti alunan lagu.


Kian melirik ke arah Nadine. Ia tersenyum melihat tingkah Nadine sekaligus bersyukur karena Nadine tidak marah kepadanya. Karena sedari tadi, saat masih di rumah orangtua Nadine, berkali-kali Kian mendapati Nadine tengah menatapnya dengan tatapan penuh durjana.

__ADS_1


Lamat-lamat, kian tak mendengar suara Nadine. Kian menoleh, Ia melihat Nadine tengah terlelap. Kian tentu membiarkan Nadine terlelap. Ia bahkan mensetting kursi mobil yang diduduki Nadine agar lebih melandai secara perlahan agar Nadine tidak terbangun. Sehingga tidak akan membuat punggung Nadine sakit saat ia bangun nanti. Ia juga mengatur suhu mobil agar nyaman bagi Nadine.


Malam semakin malam, lalu lintas tak kunjung lancar. Kian memutuskan untuk pergi ke penginapan. Demi bisa menyelesaikan pekerjaannya dan membuat Nadine tidur dengan nyaman.


Kian lalu memesan 2 kamar VIP. Sayangnya hanya sisa 1 kamar. Kian pikir, nggak apa-apalah daripada nggak sama sekali. Toh dia juga nggak berniat aneh-aneh ke Nadine, dan sepertinya juga ia akan begadang semalaman demi bisa menyelesaikan pekerjaannya.


Setelah mendapatkan kunci, Kian lalu menuju mobilnya. Nadine masih tertidur. Secara perlahan Kian menggendongnya menuju kamar. Sembari menggendong Nadine, Kian menatap gadis itu.


"Cantik," gumamnya dalam hati.


Nadine nampak nyenyak sekali. Mungkin karena kelelahan jadi Nadine begitu terlelap dalam tidurnya.


Tiba di kamar, Kian pelan-pelan meletakkan Nadine di atas kasur lalu menutupi tubuh Nadine dengan selimut. Setelah memastikan Nadine nyaman, Kian menuju ke sofa yang diletakkan di depan tempat tidur. Ia membuka laptopnya kemudian menenggelamkan diri dalam pekerjaannya.


"Ah dia benar-benar lelah, sampai kayak gitu." Kian tertawa pelan seraya menatap Nadine.


Setelah itu, Kian kembali ke aktivitasnya. Ia lelah sebenarnya. Kepalanya pun sudah terasa begitu berat. Badannya juga menunjukkan sesuatu yang terasa tidak enak. Berhubung tinggal sedikit lagi Kian memaksakan diri.


Tepat jam 2 pagi, akhirnya pekerjaan Kian selesai. Ia segera meletakkan laptop lalu berbaring di sofa. Tidak memerlukan waktu lama, Kian terlelap.


Sementara itu, Nadine terbangun. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia mengumpulkan kesadaran. Setelah itu, Nadine berjingkat. Ia terkejut bukan kepalang. Seingatnya, ia berada di mobil Kian. Tapi kenapa sekarang berada di kamar. Ia juga mengecek pakaiannya. Beruntung, tidak ada yang berbeda dengan kondisi pakaiannya. Alhamdulillah aman. Yang beda hanyalah baju yang ia kenakan sekarang jadi bau air liur. Hiii.


Nadine melayangkan pandangannya ke seluruh ruang. Ia mendapati Kian tengah tertidur melingkar di sofa.

__ADS_1


"Ish, kenapa juga pakai acara nginep-nginep segala" ucap Nadine lirih.


"Atau jangan-jangan Bang Kian mau aneh-aneh, nih" pikir Nadine.


Sedang asyik menebak - nebak alasan Kian mengajaknya menginap, tiba-tiba Nadine menangkap suara rintihan yang berasal dari sofa. Nadine mendekat untuk memastikan yang ia dengar. Ternyata benar, Kian tengah merintih.


Perlahan, Nadine menyentuh dahi Kian.


"Panas, ya ampun dia pakek acara sakit segala lagi" ucap Nadine.


Ia mengedarkan pandangannya lagi untuk mencari sesuatu. Ketemu. Nadine mengambil handuk kecil yang disediakan oleh penginapan. Ia beranjak ke kamar mandi. Ia menjadikan gayung sebagai wadah untuk mengompres Kian.


Nadine lalu meletakkan handuk kecil yang sudah ia basahi ke dahi Kian. Kemudian ia duduk di dekat Kian. Saat sudah mulai mengering, Nadine kembali membasahi handuk dan meletakkannya di dahi Kian. Sejam, hampir dua jam, suhu tubuh Kian mulai stabil. Nadine pun mengambil handuk kecil di dahi Kian. Lalu saat Nadine hendak beranjak, Kian menarik tangan Nadine. Tarikannya cukup keras hingga membuat wajah Nadine tepat menghadap Kian. Mereka saling menatap. Kian menatap Nadine lekat-lekat, Nadine pun demikian. Ia juga menatap Kian lekat. Ini adalah kali pertama Nadine benar-benar menatap Kian. Dan ya, seharusnya ia tidak menatap Kian lekat karena hal itu membuat jantungnya berdegup cepat.


"Makasih ya, Nad" ucap Kian. Nadine mengangguk pelan. Kian tersenyum. Tangannya yang bebas, meraih pipi Nadine, mengelusnya lembut. Kemudian, jemari Kian beralih ke bibir Nadine, mengusap-usap bibir Nadine, hingga lalu dengan begitu cepat, Kian mencium bibir Nadine.


Nadine membelalak. Ia terkejut dengan apa yang Kian lakukan. Sontak Nadine menjauhkan wajahnya lalu menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Kian. Nadine menutup bibirnya dengan kedua tangannya.


"Nad," panggil Kian. Ia mengubah posisinya menjadi duduk tegak.


"Nad, maaf, aku ng---"


PLAK

__ADS_1


Nadine menampar Kian keras.


__ADS_2