Pelarian

Pelarian
Tak Tahan


__ADS_3

Tak Tahan


Mereka tiba di rumah. Kian membawakan ransel Nadine ke dalam rumah. Sedangkan Nadine bergegas menuju kamar tidur. Ia tak sabar ingin segera menyegarkan tubuhnya.


Sementara itu, Kian yang kelaparan karena terlalu asyik nempel-nempel Nadine sehingga melupakan makan siang, cepat-cepat mengganti pakaiannya lalu menuju dapur. Ia mengintip bahan makanan di kulkas. Ada timun, telur, tahu, cabe dan terasi.


"Oke, mari kita nyambel lagi"


Kian mulai membersihkan tahu lalu merendamnya di dalam air yang sudah ia beri penyedap rasa ayam. Biar cepat, 4 buah telur, Kian ceplok sekaligus. Biar cepat lagi, Kian merajang bawang merah tanpa mengupas kulitnya.


Setelah telur matang, Kian lanjut menggoreng bawang. Ia membuat bawang goreng. Selesai urusan perbawangan, Kian lanjut dengan menggoreng tahu. Yang terakhir, Kian menggoreng terasi.


"Masak apa, Mas?" Tanya Nadine. Ia mendekati Kian yang tengah meniriskan terasi.


"Mau bikin sambal terasi, kamu mau?" Ujar Kian. Nadine mengangguk.


"Oya, kamu siapin nasi, ya, ini sebentar lagi juga selesai" imbuh Kian. Tangannya sibuk menghaluskan campuran terasi goreng, cabe, garam, gula putih dan bawang goreng.


Setelah sambal halus, Kian meletakkan potongan-potongan dadu timun lalu menekan-nekannya. Selesai. Jadilah sambal terasi penyet timun ala Kian.


Kian lalu menghampiri Nadine yang tengah mengambil nasi dari rice cooker. Kedua tangannya perlahan menjalari pinggang Nadine. Kian lalu melingkarkan tangannya di tubuh Nadine. Ya, Kian memeluk tubuh Nadine dari belakang. Tinggi Nadine yang hanya se bahu Kian, mempermudah Kian meletakkan kepalanya di bahu Nadine. Kian tersenyum sembari memejamkan mata. Aroma wangi dari tubuh Nadine tercium dan membuat Kian merasa nyaman seketika.


Nadine sempat mematung mendapatkan perlakuan yang tiba-tiba dari Kian. Namun tak lama, Nadine menggerak-gerakkan bahunya agar Kian mau berhenti memeluknya.


"Mas, jangan gini, ah" pinta Nadine dengan tanpa melepaskan tangannya dari aktivitas mengambil nasi untuk mereka berdua.


"Mas kan lagi mencoba nempel kamu kalau kita sedang di rumah" jawab Kian santai.


"Ternyata lebih menyenangkan nempel-nempel di rumah daripada nempelin kamu di depan umum, kalau di rumah, bisa pakai macam-macam gaya nempel, kayak gini, nih" kata Kian. Ia semakin mengeratkan pelukannya. Nadine pasrah.


"Emmm...tadi, Ibu telfon, kita diminta pulang, nanti malam ada acara tasyakuran pernikahan kita" cerita Nadine dengan tangan yang sibuk mengurai nasi agar lekas dingin.


"Tapi..." Nadine menggantungkan kalimatnya.


"Tapi kamu nggak pengin pulang karena ayah, benar begitu? Hem?" Tebak Kian. Nadine mengangguk.


"Sayang, kamu masih ingat apa yang pernah Mas katakan, bukan?" Tanya Kian. Nadine mengangguk lagi.


"Mas dukung passion kamu, mimpi-mimpi kamu. Jadi kamu nggak perlu berlari menghindari Ayah, ya Sayang. Kamu nggak sendirian, ada Mas yang bantu kamu menghadapi Ayah" Kian mencium pundak Nadine sekilas.

__ADS_1


"Kita hanya perlu membuktikan kepada Ayah, bahwa kamu juga bisa sukses di jalan yang kamu pilih." Kian menjeda.


"Mas yakin, Ayah pasti akan luluh dan menerima keputusanmu, Sayang" ujar Kian. Ia lalu menghadapkan tubuh Nadine padanya.


"Mas juga yakin, Ayah amat menyayangi anak-anaknya, termasuk kamu, hanya saja cara beliau menunjukkan kasih sayangnya kurang tepat. Ingat itu, ya Sayang" Kian lalu memeluk Nadine. Nadine menganggukkan kepalanya yang menempel di dada Kian.


"Ya sudah ayo kita makan, setelah itu kita berangkat ke rumah Ibu dan Ayah"


Mereka pun makan siang dengan nasi berkawan sambal terasi timun penyet, telur ceplok, tahu goreng, dan kerupuk.


***


Kian dan Nadine tiba di rumah Ayah dan Ibu dua jam sebelum acara tasyakuran. Rencana yang semula berangkat sore, berubah jadi malam, gara-gara Kian yang tak henti menempel Nadine. Ini membuat mereka berdua menjadi lama menyelesaikan pekerjaan rumah tangga mereka.


Nadine dan Kian masuk ke dalam rumah. Nadine membawa 3 kotak berukuran sedang berisi aneka macam kue basah. Sedangkan Kian membawa buah-buahan. Mereka meletakkan barang-barang tersebut di dapur.


"Katanya ke sini sore, koq baru nyampek?" Ibu cemberut.


"Ya Maaf, Bu, tadi ada sesuatu" jawab Nadine. Mata Nadine melirik Kian kesal. Kian, yang dilirik malah nyengir.


Ibu, yang melihat Nadine dan Kian, saling berpandangan, menaruh curiga.


"Ibu dulu juga gitu, maunya berduaan terus sama Ayahmu, kemanapun, sampai ke kamar mandi pun maunya berdua" lanjut Ibu Nadine berapi-api. Kian mendengar cerita ibu, jadi terinspirasi, dan ingin melakukan hal yang sama. Namun rupanya keinginan itu tidak akan terkabul minimal dalam waktu dekat setelah melihat ekspresi Nadine bak kak Ros-nya Upin Ipin. Garang.


"Ya sudah, ayo, Nadine bantu Ibu, Kian bantu Dika, ya, pasang karpet" Kian dan Nadine mengikuti instruksi ibu.


Sebelum acara dimulai, Kian dan Nadine mengganti kostum. Yang sebelumnya santai, kini memakai pakaian muslim. Lagi-lagi, Kian terpesona pada istrinya yang tengah mengenakan hijab.


"Kenapa lihat-lihat?" Tanya Nadine sewot.


Kepalang basah, Kian mengakuinya saja.


"Terpesona lihat kamu, cantik sekali, tahu gini dari dulu mas nikahin kamu"


"Aku nggak maulah sama kamu, Mas"


"Iya, iya, tahu, yang dulu bucin sama Heru, sampai PDKT Mas nggak dianggap" ungkap Kian. Nadine seketika menghentikan aktivitas tangannya yang hendak memakaikan peniti di hijabnya. Ia tertarik dengan apa yang baru saja Kian ungkap.


"Emangnya kamu pernah PDKT ke aku, Mas? Koq aku nggak ngerasa, ya?"

__ADS_1


"Pernahlah, kamu aja yang nggak peka" kata Kian.


"Karena PDKT mas nggak kamu anggap, jadi mas memilih untuk undur diri dan berusaha menghilangkan rasa cinta Mas ke kamu" Kian meletakkan kedua tangannya di belakang kepala. Ia arahkan pandangannya ke langit-langit kamar Nadine.


"Ternyata, nggak bisa, Mas tetap cinta sama kamu" imbuh Kian.


"Makanya, begitu ada kesempatan, mas segera beraksi, hap hap hap, lalu Mas tangkap" canda Kian.


"Dih, disamain nyamuk" Nadine mencebik. Kian tertawa lebar.


Setelah selesai bersiap, mereka mengikuti acara tasyakuran. Kian, bergabung dengan bapak-bapak di halaman rumah. Ia duduk di dekat Ayah juga Dika. Sedangkan Nadine, berada di dalam rumah, duduk di samping ibunya.


Acara tasyakuran berlangsung khidmat. Ditutup dengan do'a-do'a baik yang ditujukan pada sepasang pengantin baru. Kemudian bingkisan untuk para tamu dibagi-bagikan. Sengaja tak ada jamuan makanan berat. Alasannya sederhana, karena Ibu tidak mu repot mencuci piring.


Kian dan Nadine juga turut membantu membersihkan rumah. Setelah selesai dan malam belum terlalu larut, Ibu mengajak anggota keluarga duduk-duduk di teras rumah. Tak lupa, Ibu membawa serta camilan serta teh hangat sebagai hidangan selama mereka berbincang.


Nadine sebenarnya ingin menolak ajakan Ibu tersebut. Ia malas bertemu Ayah. Karena pasti nantinya Ayah akan membahas soal keinginannya agar Nadine bekerja di kantornya. Namun, Kian menggenggam tangan Nadine. Tatapan mata Kian seakan mengatakan bahwa ia tidak perlu khawatir. Akhirnya, Nadine mengikuti kehendak Ibu.


Sesuai dengan dugaan Nadine, ayah membahas apa yang tidak ingin ia dengar.


"Kapan kamu mulai bekerja di kantor Ayah?" Kata Ayah Nadine. Nadine seketika melirik Kian. Kian juga menatap Nadine lalu menaikkan alisnya. Bagi Nadine, ini adalah kode dari Kian agar ia tidak bersikap frontal pada Ayah.


"InsyaAllah, Yah. Ada yang mau Nadine urus dulu. Mungkin setelah urusan Nadine selesai" jawab Nadine singkat.


"Baiklah, ayah beri waktu sampai kamu wisuda, ya?" Ujar Ayah. Nadine kembali melihat Kian. Kian menganggukan kepalanya.


"Iya, Yah. Nadine mohon bantuan do'a Ayah juga Ibu, agar urusan Nadine segera sukses"


"Aamiin" kata Ayah, Ibu, Dika, kompak.


Malam itu, di momen berbincang bersama keluarga, berlangsung begitu hangat. Hingga tak terasa malam mendekati larut.


Nadine sudah menyelesaikan ritual sebelum tidur di kamar mandi. Ia lalu menuju kamarnya untuk memanggil Kian agar ia segera bersih-bersih diri juga. Kian pun manut kehendak Nadine.


Nadine lalu memilih baju dilemarinya. Untuk malam ini, ia memilih memakai tank top dan hot pant. Nadine sengaja memakai itu karena kondisi kamarnya yang terasa panas karena pendingin kamarnya rusak. Walhasil ia memakai kipas angin yang biasanya ada di ruang tamu. Nadine tak memiliki maksud lain, apalagi untuk menggoda suaminya. Lagipula, Nadine yakin, suaminya tidak akan menyerangnya karena selama satu minggu bersama, Kian tak pernah menyentuhnya saat tidur bersama. Nadine pun merebahkan tubuhnya. Tak lama, ia pun terlelap.


Apa yang dipikirkan Nadine, nyatanya, tidak benar. Karena faktanya, saat Kian sudah berada di kamar dan mendapati Nadine tengah memakai kostum yang begitu minim menutupi tubuhnya, Kian tergoda. Berkali-kali ia menelan salivanya. Kian berusaha sekuat tenaga menahan hasratnya. Namun rupanya hasratnya begitu kuat, sehingga membuatnya begitu berani mengecup bibir Nadine.


"Manis" gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Semula, Kian berpikir, mengecup Nadine mampu menghentikan hasratnya. Namun ternyata hasratnya makin menggebu-gebu. Maka sekali lagi, Kian mempertemukan bibirnya dengan bibir Nadine. Kali kedua ini, Kian tak hanya mengecup, namun menyusuri bibir Nadine. Entah bagaimana, tangan Kian pun mulai menjamah tubuh Nadine. Ia jelajahi punggung Nadine dengan sentuhan lembut. Ya, Kian semakin hanyut.


__ADS_2