Pelarian

Pelarian
Masih Honeymoon


__ADS_3

Masih Honeymoon


Nadine mengerjapkan mata. Ia mengambil ponselnya yang ada di atas nakas. Ia lihat jam digital ternyata sudah menunjukkan waktu subuh.


Nadine ingin lekas bangun. Sayang, tubuhnya terasa remuk redam. Terlebih saat ia mau berjalan, bagian intinya terasa celekit celekit sakit. Bahkan Nadine sampai mengaduh saking terasa sakit.


Tapi, demi segera ibadah, Nadine mengabaikan sakitnya. Ia tetap berjalan ke kamar mandi meskipun tertatih-tatih. Selesai mandi ia pun melaksanakan ibadahnya.


Nadine melipat mukena yang ia bawa. Lalu ia kembali tidur. Namun, saat hendak tidur, Nadine sempat membangunkan Kian.


"Mas, bangun, subuhan" kata Nadine. Setelah melihat Kian membuka mata, Nadine kembali mencari posisi enak untuk tidur. Ia membelakangi Kian.


Kian memeluk tubuh Nadine dari belakang. Ia dapatkan wajahnya pada leher Nadine. Lalu mengecupinya pelan.


"Mas, keburu waktu subuh habis, cepet mandi"


"Sebentar lagi"


"Mas.. berhenti" Nadine membalikkan tubuhnya. Mereka saling berhadapan. Sorotan mata Nadine yang tajam membuat Kian berhenti menggoda istrinya itu.


"Iya...iya..." Kian mengikuti perkataan Nadine.


Selesai subuhan, Kian bergegas menuju ranjangnya lagi. Ia membalikkan tubuh Nadine yang membelakanginya. Nadine mengikuti kemauan Kian. Lalu ia meletakkan dua punggung tangannya di bawah pipinya, ia jadikan sebagai tumpuan. Entah Nadine terlalu mengantuk atau lelah. Nadine pun kembali terlelap.


Sesaat setelah Kian membalikkan tubuh Nadine, ia diam saja melihat tingkah Nadine yang sepertinya mencari posisi tidur yang nyaman. Setelah Nadine anteng, tak bergerak lagi dan nafasnya yang mulai teratur, Kian memulai aksinya.


Kian mengecup kening Nadine. Lalu beralih mengecup satu sisi mata Nadine. Kemudian pindah mengecup pucuk hidung Nadine dan terakhir mengecup bibir Nadine.


Sekali kecupan. Dua kecup. Tiga kecup. Empat kecup. Lalu dilumat.


Nadine menggeliat. Ia sedikit mendorong dada Kian. Ia sulit bernafas karena ciuman Kian. Bagaimana tidak, Kian seakan menghirup udara di rongga mulutnya.


Kian pun melepaskan ciumannya. Ia memberi jeda. Nadine pun kembali mencoba untuk tidur lagi. Tubuhnya masih dalam proses pemulihan energinya yang terkuras habis gara-gara Kian yang mau lagi, lagi, dan lagi.


Setelah memastikan Nadine sudah terlelap, Kian mendaratkan wajahnya di bagian dada Nadine. Ia bermain-main di sana lagi. Nadine diam saja. Ia tidur lelap tak terpengaruh dengan aksi Kian. Maklum area yang dimainkan Kian, bukanlah area sensitif Nadine. Jadi Nadine santuy.


Karena tak ada reaksi dari Nadine, Kian malah tersulut untuk beraksi lebih. Kali ini, ia buka kancing baju tidur Nadine satu persatu lalu menaikkan ke atas pelindung dada Nadine. Saat sudah terbuka semua, Kian membenamkan wajahnya di sana. Sesekali ia ciumi, ia hisap, ia kecupi dada Nadine. Kian melakukan aksinya dengan lembut. Sengaja, agar istrinya itu tidak terbangun. Kian bahagia bukan main.


Hasrat Kian makin membuncah. Setelah merapikan bra Nadine, kemudian Kian pindah ke area bawah dan membuka sedikit pengaman berbentuk segitiga. Lalu ia pun melanjutkan permainan di inti istrinya itu.


Permainan Kian di area inti tidak lembut lagi. Ia bermain di sana dengan amat rakus. Maka tak heran Nadine terbangun lalu menjambak rambut Kian.


"Aduh...ampun ampun" Kian akhirnya menjauhkan kepalanya. Dan Nadine pun melepas tarikannya.

__ADS_1


"Kamu, sih, Mas, aku tidur kamu ganggu"


"Abisnyaaaa, kamu candu banget" kata Kian nyengir.


"Udah, ya, aku mau tidur, capek" ucap Nadine.


"Iya, kamu tidur, biar mas aja yang main"


"Ya nggak bakal bisa tidur donk, Mas"


"Ya udah sekalian aja, hayuk" ajak Kian.


"Nggak, ini juga masih sakit, Mas, jangan ya" tolak Nadine.


"Yang sekarang nggak bakal sakit, beneran, ya, ya, ya, mauuu, ya" Kian ngotot minta lagi.


"Sebentaaaarrr aja, setelah itu Mas nggak ganggu tidur kamu lagi" janji Kian. Nadine bergeming. Ia memilih tidak mengiyakan juga tidak menolak suaminya itu.


Sementara Kian, melihat Nadine diam saja, maka tanpa aba-aba, tanpa persetujuan dari Nadine. Kian memulai aksinya.


"Yihaaaa..." Batinnya bersorak sorai gembira ria.


Sebelum memulai penyatuan, kali ini, Kian melakukan sesuatu yang sakral sesuai ketentuan agamanya. Ia berharap dan ia mau, penyatuannya kali ini, akan menumbuhkan benih di rahim Nadine.


Lalu, setelah itu, penyatuan antara ia dan istrinya itu pun terjadi. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Kian memang berniat melakukan penyatuan berkali-kali, agar peluang hidup prajurit-prajuritnya tinggi.


Belum lagi harus melewati area lendir lengket atau malah nyasar ke saluran buntu, lalu belum lagi bertemu sel darah putih yang pastinya bakal dilawan dan diserap habis-habisan dan masih banyak hambatan lainnya.


Kian merasa cukup, akhirnya ia menghentikan penyatuannya dengan istrinya itu. Hanya berhenti tapi mereka masih menempel satu sama lain. Nadine memejamkan matanya. Tapi ia tidak tidur.


"Sayang, kita batal pisah aja, ya, Mas nggak mau pisah sama kamu" kata Kian setelah nafasnya yang memburu sudah teratur.


"Nggak, Mas, nggak bisa, kita harus pisah, Mas" tolak Nadine.


"Demi kebaikan kita..."


"Demi kebaikan kamu, tepatnya" gumam Nadine dalam hati.


"Tapi, Mas cinta banget sama kamu, Sayang"


"Sa..ma" jawab Nadine samar.


"Apa? Coba ulang lagi! Kamu bilang apa tadi?" Kian meminta Nadine mengulang apa yang ia ucapkan. Suatu pengakuan yang Kian nanti-nanti hadir di hati istrinya itu.

__ADS_1


"Aku bilang apa?" Nadine ngeles.


"Yang setelah mas bilang cinta banget sama kamu, kamu jawab apa?"


"Aku bilang apa, kan?"


"Bukan gitu, sebelum kamu tanya "aku bilang apa", kamu bilang apa?"


"Bilang apa? Nggak bilang apa-apa, aku bilang aku bilang apa, gitu" Nadine tetap ngeles. Sementara Kian mulai pusing dibuat Nadine.


"Udahlah, pokoknya tadi mas denger kamu bilang sama, punya rasa cinta yang sama juga" kata Kian putus asa. Nadine membuka matanya lalu tersenyum melihat bibir Kian yang maju 5 senti.


"Aku harap, setelah kita pisah nanti, aku dan mas bisa menemukan kebahagiaan masing-masing sampai hayat tidak dikandung badan." Ucap Nadine.


"Tidak terjadi hal seperti ini lagi" Yang ini, ia bergumam dalam hati.


"Kebahagiaan Mas, ya kamu" kata Kian.


"Aduh, gombal"


"Kalau nggak percaya, buka aja selimut kamu"


"Lah koq aku?"


"Hehe...yakali kamu mau"


"Nggak, Mas, udah, udah cukup, udah gemetaran kaki aku"


"Oke.." Kian akhirnya mau. Toh, ia juga sudah berkali-kali pelepasan.


"Sini, mendekat ke Mas" Kian menarik tubuh Nadine lalu membawanya ke dada bidangnya. Nadine menurut saja. Ia percaya, kali ini, Kian akan membiarkan istrinya itu mengumpulkan tenaga buat nanti siang, atau sore atau malam nanti. Kian memang sudah merencanakan itu. Ia harus rajin beraksi apalagi setelah ia hitung-hitung, ini adalah masuk masa subur Nadine. Kian tahu, kalau dalam masa subur, maka usaha prajuritnya tidak akan terlalu bersusah payah menderu deru.


Kian membelai rambut panjang hitam istrinya itu sampai Nadine terlelap lagi. Setelah ia yakin Nadine tertidur, Kian mengecup kening Nadine. Beberapa kalimat pun muncul dari mulutnya.


"Sayang, semoga jodoh kita masih panjang" gumam Kian.


"Semoga perpisahan kita ini, adalah pembuka jalan untuk kita berjodoh kembali dengan ikatan jodoh yang lebih kuat, lebih tangguh, dan tidak ada yang mengganggu lagi. Semoga, semoga begitu" Harap Kian.


Sementara itu, jauh di sana, Riani tengah menerima telfon dari seseorang.


"Berkas gugatan cerai Nadine sudah masuk. Aku sudah mengeceknya. Jadi kapan kamu mau transfer uang ke aku?" Tanya Riani pada orang yang menelfonnya.


"Aku mau kamu segera mengirimkan fee untuk DP memisahkan Kian dan Nadine. Kalau tidak aku akan mengungkap semuanya pada mereka" ancam Riani.

__ADS_1


Setelah mendapat jawaban yang ia mau. Riani tersenyum lebar. Lalu meletakkan ponselnya di nakas. Ia memejamkan matanya, membayangkan mimpinya sebentar lagi menjadi nyata.


***


__ADS_2