Pelarian

Pelarian
Malam Pertama 2


__ADS_3

"Sholat, gih, setelah itu aku akan meminta imbalan karena sudah membantu teman-teman komunitasmu." Ujar Kian. Seketika Nadine menelan salivanya.


"duh, jangan bilang imbalannya 'begituan' " gumam Nadine. Ia lalu beranjak ke kamar mandi dengan diterpa rasa khawatir.


Nadine sudah selesai melaksanakan sholat isya'. Ia juga sempat berganti celana. Yang semulanya pakai hotpant, sekarang memakai celana kulot 3/4. Ia tak mau, gara-gara hotpantnya memancing Kian untuk meminta begituan.


Ia jadikan hotpant yang tadi ia kenakan sebagai dalaman. Tapi meskipun Nadine sudah memakai 3 lapis celana, tetap saja ia merasa was-was. Khawatir kalau Kian akan mengajaknya 'beribadah'.


"Ah, seharusnya aku nggak usah sekhawatir ini, kan aku punya surat kesepakatan antara aku dan dia, kita nggak akan berhubungan suami istri tanpa didasari dengan perasaan saling mencinta" batin Nadine. Dan nyatanya sekarang Nadine masih membenci suaminya.


"Tapi, kalau dia nggak mau tahu dengan kesepakatan yang udah aku dan dia buat, gimana? Mungkin saja itu terjadi, bukan? Kali aja dia pakai alibi khilaf lagi? Duuuhh..." Nadin masih bermonolog dalam hatinya.


"Sini, duduk sini" Kian memanggil Nadine seraya menepuk-nepuk tempat didepannya.


"Nggak mau," tolak Nadine.


"Aku nggak bakal macem-macem" janji Kian. Ia sadar Nadine tengah dilanda kekhawatiran.


"Awas aja kalau macem-macem" ancam Nadine. Kian mengangguk kuat. Akhirnya, Nadine melangkahkan kakinya menuju Kian, tempat tidur.


"Apa?" Ketus Nadine.


"Imbalan yang aku mau itu,...." Kian menggantungkan kalimatnya. Ia memperhatikan ekspresi Nadine. Nadine menundukkan kepalanya sembari menggigit bibir bawahnya.


"Aku mau, mulai sekarang, kamu manggil aku sayang, dan aku juga boleh manggil kamu sayang" kata Kian. Nadine melongo.


"Koq..." batin Nadine.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu keberatan? Kalau keberatan aku ubah lagi, nih, imbalannya" Tanya Kian. Nadine cepat-cepat menggelengkan kepalanya.


"Aku mau, tapi bisa nggak jangan pakai kata sayang?"


"Apa? Cinta? Atau Mama?" Usul Kian dengan senyuman menggoda.


"Idih, Mas aja ya" usul Nadine. Membayangkan dirinya memanggil Kian dengan kata 'sayang' membuatnya geli sendiri.


"Enggg.." Kian nampak berpikir.


"Oke, tapi aku tetap manggil kamu sayang" tawar Kian.


"Baiklah, aku setuju" Nadine pasrah. Kian sumringah.


"Satu langkah maju" batin Kian.


"Ya sudah, ayo kita tidur sayang, besok kita ke rumah kamu, ambil barang-barang kamu, trus ke rumah Mas" Kata Kian sembari mengulurkan tangannya. Kian hendak merengkuh Nadine.


"Kirain, kamu lupa" Kian nyengir.


"Ya, nggaklah, udah, ini batas kita, awas aja kamu sampai ngelewatin batas" Nadine meletakkan guling di tengah tempat tidur. Sebelah kanan adalah area kekuasaan Nadine dan sebelah kiri adalah area kekuasaan Kian.


Kian tersenyum melihat tingkah istrinya itu. Ia tidak masalah karena ia yakin soal pembagian area tidur ini tidak akan berlangsung lama.


"Semangat, Kian" batinnya menyemangati dirinya sendiri.


"Jangan matikan lampunya, Mas" pinta Nadine. Ia lalu memunggungi Kian. Mencari posisi nyaman. Lama-lama, tak ada gerakan lagi dari Nadine. Nafasnya nampak teratur. Kian mengintip Nadine yang ternyata sudah terlelap, pakai mangap lagi.

__ADS_1


Kian mencoba menutup rapat mulut Nadine agar tenggorokan Nadine tidak terasa kering saat ia bangun nanti. Sayangnya usaha Kian gagal, yang ada malah Nadine makin mangap lebar. Kian mencoba lagi. Namun hasilnya begitu lagi. Akhirnya Kian undur diri lalu kembali di posisinya semula, wilayah kekuasaannya.


Kian masih belum juga memejamkan mata. Ia menatap langit-langit kamar hotel. Lagi-lagi, ia merasa tak menyangka bahwa Nadine benar-benar menjadi istrinya. Dulu, Kian tak berani menaruh harap pada Nadine. Mengingat gadis itu nampak begitu bucin dengan kekasihnya. Siapa sangka, Tuhan berkehendak lain.


"Alhamdulillah " Kian kembali mengucap syukur kepada Sang Maha Cinta.


Malam pun semakin tergelincir. Kantuk mulai menyapa Kian. Saat Kian akan terlelap, sebuah tangan jatuh tepat di wajahnya. Kian kaget. Belum usai rasa terkejut, sebuah kaki mendarat dengan pasti di area vital Kian. Spontan Kian mendelik.


"Dasar, kaki nggak ada akhlak" kata Kian. Ia meringis.


"Asli sakit" ujarnya sambil mengelus-elus bagian berharga dari tubuhnya itu. Meskipun begitu, Kian tak hendak menyingkirkan tangan dan Kaki Nadine. Ia hanya menata posisi tangan dan kaki Nadine. Untuk tangan Nadine, ia arahkan ke bagian dadanya, sedangkan Kaki Nadine ia arahkan ke paha Kian.


Terbersit keinginan Kian untuk sedikit menyentuh dan mengelus-ngelus kaki Nadine yang ramping dan berbulu tipis. Tapi Kian urung melakukannya.


"Sabar Kian, sabar"


Kian lagi-lagi menyemangati dirinya sendiri.


***


Subuh tiba, perlahan Nadine membuka matanya. Mengerjap-ngerjapkannya agar bisa melihat sempurna. Begitu jelas, yang Nadine tangkap malah wajah suaminya yang begitu dekat dengannya. Bahkan nafas suaminya pun dapat ia rasa.


Nadine lalu mencari posisi tangannya. Ternyata tangannya sudah mendarat sempurna di dada Kian. Sedangkan kakinya, berada di alat vital Kian. Sontak Nadine menarik kakinya sesegera mungkin. Guling yang awalnya sebagai batas wilayah, malah nangkring di kaki Nadine.


"Koq bisa sih jadi meluk dia gini" batin Nadine. Ia mengutuk gaya tidurnya sendiri yang memang nggak bisa anteng.


"Untung aja dia tidur, kalau nggak aku bakal malu" gumamnya.

__ADS_1


Pelan, Nadine hendak turun dari tempat tidur. Namun, tiba-tiba, Kian menarik tangan Nadine. Nadine terjatuh di atas Kian.


"Selamat subuh, istriku tersayang".


__ADS_2