
Pagi tiba, Nadine tengah duduk di depan meja belajar yang juga merangkap sebagai meja rias di kamarnya. Ia poles wajahnya dengan bedak tipis. Sedangkan pada area bibir, ia tautkan lipstick berwarna senada dengan dress yang dikenakannya, pink salem. Nadine merapikan rambut hitam nan lurusnya. Kali ini, Nadine sengaja mengurainya. Tak lupa, ia beri aroma wangi di bagian lehernya. Selesai.
Nadine lalu memandang dirinya sendiri. Ia biarkan pikirannya melayang untuk mencari jawaban dari maksud Ria yang memfitnah dirinya sebagai perebut suami orang. Sementara ia sendiri tidak melakukan hal tersebut.
Nadine tak habis pikir, kenapa kakinya yang harus dijegal oleh Ria, sementara kakinya tak mengarah pada tujuan merebut suami orang. Kenapa Ria tidak mengikat kaki suaminya saja yang sudah berulang kali diminta pergi namun lagi-lagi kembali pada Nadine. Nadine tidak menyangka niatnya yang hanya ingin menjalin silaturahmi pada mantan kekasihnya malah berujung pada fitnah yang membuat kedua orangtuanya kecewa pada dirinya.
Lebih parahnya lagi, gara-gara fitnah Ria, Nadine dipaksa menikah dengan laki-laki yang bahkan Nadine tidak tahu siapa gerangan.
"Siapa yang dijodohkan denganku?" Gumam Nadine.
Nadine pasrah. Karena percuma untuk menolak kehendak ayahnya. Ia tidak akan bisa membantah, kecuali keluar dari rumah berikut didepak sebagai keluarga. Ya, ayah Nadine memang sekeras itu. Karena karakter ayahnya itulah yang membuat Nadine berkali-kali masuk dalam kondisi yang tidak ia sukai. Salah satunya masuk di jurusan kuliah yang tidak ia minati sama sekali. Dan sekarang ia kembali harus menuruti keputusan ayahnya.
Terpikir oleh Nadine, bagaimana kondisi pernikahannya kelak, sementara tak ada cinta yang mendasari. Akankah berjalan harmonis? Hambar? Atau berakhir pada perceraian? Entahlah, untuk saat ini, Nadine memilih untuk melakoni saja dulu. Setelah acara lamaran ini, Nadine akan memikirkan jejak langkah baru untuk menuju mimpinya. Sederhana, mimpi Nadine hanya ingin sukses di dunia fotografi dan lebih banyak berbagi ilmu maupun rejeki.
TIN
Terdengar suara klakson mobil. Nadine mengintip, ada 2 mobil yang terparkir di depan rumahnya.
"Ah, sudah datang rupanya." Gumam Nadine.
Satu persatu, Nadine memperhatikan orang-orang yang keluar dari dalam mobil. Ia mencari sosok yang akan melamarnya. Penasaran? Tentu Nadine penasaran. Lagi, ia amati, lama lama lama, dan ketemu,
"Ya Allah, si br*ngs*k itu,"
Nadine menutup mulutnya. Berkali-kali ia menggelengkan kepalanya. Bertemu dengannya saja, Nadine tak Sudi. Apalagi sekarang jika benar pria itu yang melamarnya. Nadine memegang kepalanya yang pusing mendadak.
__ADS_1
Di luar kamarnya, Nadine mendengar percakapan yang begitu akrab. Sekali-kali ada gelak tawa di sana, hangat. Lalu, beberapa menit kemudian, suara-suara tersebut mulai hampir menghilang, nyaris hening dan berganti pada suara ketukan di pintu kamar Nadine.
"Nad, ayo..." Ajak ibu Nadine. Ia menghampiri lalu menggamit tangan Nadine. Nadine mengikuti langkah kaki ibunya. Dalam hari, Nadine berdo'a, semoga bukan pria brengsek itu yang melamarnya. Ia tak berkenan.
Suasana hening saat Nadine masuk ke ruang tamu tempat kedua keluarga berkumpul. Nadine diantar duduk di tengah antara keluarganya dan keluarga pria yang melamarnya. Ia menundukkan kepalanya. Lagi, ia masih berharap semoga pria brengsek itu, bukan orang yang melamarnya.
"Silakan Mas Kian untuk memasangkan cincin terlebih dahulu kepada mbak Nadine," kata MC yang memandu acara lamaran tersebut.
Deg
Nadine sontak mengangkat kepalanya. Terang saja, ia mendapati Kian sedang menuju padanya.
"Ya ampun, kenapa dia?" Gumam Nadine.
"Nggak jawab salam dosa lho, Nad" bisik Kian.
"Wa'alaikumsalam" Jawab Nadine ketus. Kian tersenyum riang.
"Jangan manyun, Nad. Ini hari bersejarah kita berdua"
"Kita? Kamu aja kali, aku nggak mau" kata Nadine. Kian mencebikkan bibirnya sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
"Ya, silakan Mas Kian, cincinnya dipakaikan ke jari Mbak Nadine" ujar MC lagi.
Kian lalu memasangkan cincin pada jari Nadine. Disusul Mama Kian yang memasangkan kalung pada leher Nadine. Lalu mam Kian menangkupkan kedua tangannya pada wajah Nadine.
__ADS_1
"Mantu Mama cantik sekali, makasih ya, Nak, sudah menerima Kian" ucap mama Kian sembari tersenyum pada Nadine. Lalu mencium dua pipi Nadine.
"Makasih Tante," jawab Nadine. Ia lalu mencium tangan Mama Kian. Hati Kian menghangat melihat moment itu.
Selesai sesi memasangkan cincin, maka MC menutup acara lamaran tersebut. Ayah juga ibu Nadine mempersilakan keluarga Kian untuk menikmati hidangan yang tersedia. Sementara itu, Nadine memilih untuk meninggalkan ruang tamu menuju taman kecil di depan rumahnya.
"Kamu sudah makan, Nad? Mau aku ambilkan?" Kian menghampiri Nadine. Nadine tak bergeming.
"Nad." Kian mengulang sapanya.
"Aku nggak lapar"
"Kamu masih marah sama aku karena kejadian di penginapan itu?" Tanya Kian namun tak ada respon dari Nadine.
"Aku minta maaf, Nad, aku khilaf waktu itu," ungkap Kian.
"Gini deh, aku harus ngelakuin apa biar kamu mau maafin aku?" lanjut Kian.
"Batalin pertunangan ini."
***
Hai Readers dan Writers,
Makasih banyak ya, sudah berkunjung ke ceritaku. Jangan lupa Like, Komen, juga rate. Jika berkenan, vote juga boleh banget. 😊
__ADS_1