
"Kamu Nadine, kan?" Tanya wanita itu.
"I-iya, saya Nadine. Maaf, mbak siapa ya?" Nadine balik bertanya pada wanita di depannya yang menggunakan pakaian formal.
"Saya Ria, istri Heru." Ria mengulurkan tangan pada Nadine. Nadine menyambut uluran tangan Ria. Mereka berjabat tangan. Lalu jabatan tangan tersebut beralih pada Windi.
"Aku minta maaf ya, kami tidak mengundang kamu waktu pernikahan kami, soalnya nggak dibolehin sama Heru, katanya kamu sibuk. Benar begitu?" Ria mengambil posisi duduk menghadap Nadine. Nadine hanya menganggukkan kepalanya. Ia nampak biasa saja. Nyaris tak terlihat ekspresi terkejut atau bahkan sakit hati dengan kehadiran Istri Heru.
Namun bagi yang sudah mengenal Nadine lama, seperti Windi, pasti paham ekspresi wajah Nadine. Bahwa ada ekspresi ketidaksukaan yang tersirat di wajah Nadine.
"Oya sudah kalau begitu, Emmm..Oh ya waktu awal nikah, Heru dulu pernah minta izin ke aku untuk tetap berkomunikasi sama kamu sampai kamu bisa move on dari dia." Jelas Ria tanpa jeda.
Nadine mengernyitkan dahinya. Pikir Nadine ada yang salah dengan penjelasan Ria. Justru Nadine yang meminta Heru untuk berhenti menghubunginya namun Heru ngotot ingin tetap berkomunikasi dengan alasan ingin tetap menjalin hubungan meskipun bukan lagi sebagai pacar.
"Aku setuju aja waktu Heru minta izin begitu, aku paham, kabar pernikahan kami dadakan, jadi mungkin ini yang menyebabkan kamu butuh waktu untuk melepaskan Heru, aku maklum jadi aku mengizinkan Heru untuk berkomunikasi sama kamu" jelas Ria lagi.
"Tapi aku harap kamu bisa segera move on, karena kalau boleh jujur, aku terganggu dengan seringnya Heru menghubungi kamu." Lanjut Ria, kali ini dengan ekspresi wajah garang. Ia terang-terangan menunjukkan ekspresi ketidaksukaannya pada Nadine juga Windi, teman Nadine.
__ADS_1
Sementara itu, ekspresi Nadine sama seperti awal berkenalan dengan Ria. Nampak tak ada perubahan, sekilas. Ya, Nadine berusaha sekuat tenaga mengendalikan emosinya. Justru yang nampak gregetan adalah Windi. Dari tadi ia mengepalkan tangannya. Namun Nadine berkali-kali menepuk tangan Windi sebagai tanda Nadine tak ingin Windi beraksi. Karena bisa jadi perang ketiga kalau Windi beraksi.
"Hai, Nad, Win, sudah lama?" Tiba-tiba terdengar suara Kian dari arah belakang posisi Nadine dan Windi. Sontak mereka berdua menoleh. Terlihat Kian dengan langkah cepat menghampiri mereka.
Saat sudah dekat, Kian pun menyapa Ria.
"Eh elo Ri" Sapa Kian lalu ia mengambil posisi duduk di sebelah Ria.
"Iya, elo janjian sama Nadine?" Selidik Ria.
"Nggak, tanya doank, tapi syukur deh, gue seneng, berarti Nadine sudah move on dari Heru" jelas Ria disertai dengan ekspresi nyinyirnya.
"Apa an sih Lo, kalau nggak ada kepentingan mending elo pergi deh" usir Kian to the point. Dan ya, ucapan Kian berhasil membuat Ria segera beranjak meninggalkan mereka.
Windi menatap kepergian Ria. Tangannya masih mengepal lalu memukul meja makan di depannya. Sementara Nadine, menaikkan kepalanya sembari menghela nafas. Ia berusaha menahan jatuhnya air mata di pipinya. Namun usaha tersebut tidak sepenuhnya berhasil. Karena ada sebulir air mata yang lolos dari benteng pertahanannya. Ya, Nadine menangis. Dan Kian melihat hal itu.
"Nad, kamu nggak apa-apa?" tanya Kian sembari menatap Nadine dalam. Namun tatapan tersebut tak diketahui Nadine.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Bang Kian. Nadine baik-baik saja. Oya, Nadine boleh minta bukunya segera" pinta Nadine. Ia membuka tas kecil yang ia bawa lalu menghitung lembaran uang untuk mengganti uang Kian.
"Nih, gratis" Kian menyodorkan sebuah buku pada Nadine.
"Jangan gitu, Bang Kian. Berapa? Biar Nadine bayar aja."
"Bayar aja dengan kamu cepet lulus." Jawab Kian.
"Ya udah, makasih banyak ya Bang Kian, Nadine janji ini yang terakhir kali Nadine ngerepotin Bang Kian"
"Sering-sering juga nggak apa-apa koq, Nad. Ya kan, Bang Kian?" Windi tiba-tiba nimbrung.
"Iya, nggak apa-apa" jelas Kian sembari menyunggingkan senyuman yang ia tujukan pada Nadine. Sayangnya, Nadine menatap ke arah lain. Ia mendapati sosok yang begitu ia kenal tengah memandangnya.
Heru.
Heru, tengah memandang Nadine, lekat-lekat.
__ADS_1