Pelarian

Pelarian
Bonus Chapter 1


__ADS_3

Sebulan berlalu


Setelah kecelakaan yang dialami ayahnya karena menyelamatkannya dari tabrakan sebuah mobil yang belakangan ia ketahui bahwa Ria adalah dalang di balik kecelakaan tersebut, Nadine mencoba beraktivitas kembali. Ia mulai menerima beberapa pekerjaan fotografi lagi. Hanya saja ia sudah tidak aktif lagi di komunitas sosial maupun berkunjung ke panti asuhan.


Tujuannya bekerja masih untuk memperbanyak pundi-pundi tabungannya yang akan ia gunakan untuk mewujudkan mimpinya di tanah rantau. Ya, Nadine sudah yakin untuk pergi merantau saja. Ia ingin lari dari pikirannya yang selalu tertuju pada Kian. Kalau bisa, Nadine malah ingin cepat-cepat pindah ke tanah rantau.


Semula, Nadine memang berniat untuk merantau, hanya saja ia tidak terlalu ingin buru-buru pindah. Namun, sejak ia tidak sengaja mendengar percakapan ayah dan ibunya yang mengatakan Kian lebih memilih organisasi yang Kian geluti sejak lama ketimbang dirinya yang merupakan ibu dari calon anaknya.


Nadine ingin menerima keputusan Kian tersebut. Ia juga berusaha untuk berpositif thinking. Ia mensugesti diri sendiri bahwa Kian memutuskan hal itu karena ia tidak bisa melepaskan ribuan buruh yang masuk dalam organisasi yang ia rintis itu. Jadi bisa dimaklumi apabila Kian memilih kehilangan 2 orang berjaga daripada tidak bisa menjaga masa depan orang banyak.


Nihil, niatnya berpikir seperti itu tidak berhasil. Yang ada malah pikirannya di dominasi oleh rasa sedih sebab Kian tega melepaskannya juga calon bayinya demi orang lain, yang tidak terikat darah sama sekali. Sedih. Nadine bersedih hati.


Ia merasa Kian sudah keterlaluan. Nadine harus berhenti merasainya di hati lagi.


Persiapan selesai, Nadine bergegas menuju garasi rumahnya. Ia hendak mengeluarkan motornya. Ia bersyukur kehamilannya sama sekali tidak merepotkan atau menyusahkannya. Sehingga ia masih bisa bebas beraktivitas dengan batasan tidak beraktivitas berlebihan juga disiplin konsumsi suplemen makanan kehamilan.


Saat hendak keluar, telinga Nadine menangkap pembicaraan ibu-ibu yang sepertinya berdiri tak jauh dari rumahnya. Yang Nadine dengar, mereka membicarakan status Nadine yang sudah menjadi janda padahal baru saja menikah. Nadine juga mendengar mereka saling berpesan untuk menjaga suami masing masing agar tidak tergoda oleh Nadine mengingat Nadine seorang janda muda nan cantik pula. Mereka juga mengatakan untuk tidak bergaul dengan keluarga Nadine karena menurut mereka perceraian itu menular.


Air mata menggenang di sudut mata Nadine. Ini sudah kesekian kalinya ia mendengar orang membicarakannya.


Nadine sesegera mungkin menghapus air yang menggenang di sudut matanya. Ia menghela nafas berkali-kali demi meredam emosi. Ia cek kembali penampilannya. Dirasa penampilannya sudah oke, lalu ia mencoba berekspresi tersenyum di kaca spion motornya, sempurna. Ia lalu menyalakan mesin motornya. Sengaja, tak ia percepat laju motornya. Sengaja, ia menunjukkan senyum termanisnya. Sengaja, ia menampakkan ekspresi bahagia di depan ibu-ibu yang membicarakannya.


Karena bagi Nadine, orang-orang yang suka membicarakan orang lain, hanya bisa dihadapi dengan cara yang elegan bukan dengan emosi, seperti tunjukkan bahwa diri tidak terpengaruh pada omongan hingga sikap mereka, tunjukkan diri sendiri tengah berbahagia, lalu ukirlah prestasi dan raihlah keberhasilan. Kelak, keberhasilan yang dicapai, akan sampai di telinga orang-orang yang suka membuat dan menyebarkan nada sumbang. Dan inilah yang tengah dilakukan Nadine.

__ADS_1


Lalu saat sudah dekat dengan ibu-ibu itu, dan tentu saja dengan senyum termanis miliknya, Nadine menyapa ibu-ibu.


"Mari, Bu" kata Nadine sembari menganggukkan kepalanya. Ibu-ibu itu ikut menganggukkan kepala dengan senyuman yang dipaksa.


"Makan tempe pakai sambal tomat, EGP Bodo amat" ucap Nadine.


Ia sudah tak merasa sedih lagi dengan aksi ibu-ibu itu. Meskipun begitu, ia ingin lekas-lekas pergi dari sini. Ia merasa tak sabar untuk segera pindah. Padahal kurang 3 hari lagi saja, Nadine berangkat pergi. Ya, itu semua karena Ia ingin hidup tenang bersama calon bayinya tersayang.


"I love you, Adek. Kita bisa, Dek." gumam Nadine sembari mengelus perutnya.


***


Sementara itu, Kian masih berada tak jauh di dekat rumah orangtua Nadine. Ia baru keluar mobil setelah memastikan Nadine tak terlihat lagi.


Untuk sebulan belakangan ini, Kian tak cukup hanya mengamati Nadine, melainkan ia bertamu saat Nadine tak ada di rumah. Kadang, ia bertemu Ayah, Ibu atau Dika. Hubungan mereka masih seperti sedia kala. Yang berubah hanya ayah, yang sedikit menjaga jarak dengan Kian. Kian tak masalah dengan itu. Bagi Kian, berkenan menerimanya saja, ia sudah senang. Terlebih setelah keputusan yang ia buat yang mana lebih memilih tetap menjadi aktivis ketimbang Nadine dan calon buah hatinya.


Kian bersyukur, orangtua Nadine mau menerima permohonannya, setelah berkali-kali memohon, untuk tetap terlibat dalam kehidupan Nadine juga calon buah hatinya. Demi hal itu, Kian bersedia menerima permintaan ayah Nadine agar ia tidak terlibat secara langsung dalam kehidupan Nadine. Mengingat ia dan Nadine sudah bukan suami istri lagi dan ia pun hanya sebatas ayah dari anak yang dikandung Nadine. Alasan ayah melakukan itu agar emosi Nadine stabil dan tenang. Karena jika emosi tidak stabil tentu akan berbahaya pada tumbuh kembang janin di rahim Nadine. Dan Kian menyanggupi hal itu.


Kemudian, selalu, saat datang bertamu, Kian membawa buah tangan untuk Nadine dan calon anaknya, juga untuk ayah dan ibu. Sedangkan Dika, cukup diberi kuota.


Kian berjalan memasuki halaman rumah Nadine. Saat hendak masuk, Kian merasa terganggu dengan ucapan tak enak. Samar, kian mendengar kalimat, "Janda tidak tau malu" dari 3 orang ibu-ibu yang berdiri tak jauh darinya dan tengah membelakanginya. Rupanya, ibu-ibu itu masih memandangi arah kepergian Nadine.


"Mohon maaf, ada yang bisa saya bantu, ibu-ibu sekalian" sapa Kian ramah.

__ADS_1


Mendengar sapaan Kian, sontak ibu-ibu itu menoleh pada Kian.


"Eh oh nggak, kami cuma ngobrol saja, koq, Mas" kata ibu-ibu yang berbaju kuning.


"Oh, baiklah, saya pikir ibu-ibu ini perlu bantuan" kata Kian. Ia lalu merogoh dompetnya dan mengeluarkan 3 buah kartu nama miliknya.


"Tapi, kalau ibu-ibu perlu bantuan saya, terutama soal hukum, ibu-ibu bisa menghubungi saya. Saya akan bantu. Kebetulan, saya sering memenangkan perkara hukum dan rata-rata semua tersangka dijatuhi hukuman berat. Saya juga pernah menangani kasus menyebarkan berita hoax, dan Alhamdulillah juga saya berhasil memenangkannya" ucap Kian lagi.


Kali ini ia tersenyum lebar. Ia senang, karena 3 ibu-ibu itu mulai paham dengan apa yang ia lakukan yang tak lain adalah sebuah peringatan untuk tidak mengganggu Nadine dan keluarganya.


"Eh iya, Mas, terima kasih banyak, nggak perlu repot-repot" kata ibu berbaju kuning lagi, 2 ibu lainnya hanya menganggukkan kepala mereka saja.


"Nggak apa-apa, Bu. Lagipula ibu-ibu kan tetangga keluarga Nadine, istri saya. Jadi saya juga berkewajiban berbuat baik kepada ibu-ibu sekalian"


"I..iya, Mas" jawab 3 ibu-ibu itu kompak. Setelah itu, mereka juga kompak pamit untuk pulang ke rumah masing-masing.


Kemudian, Kian kembali melangkahkan kakinya masuk ke rumah orangtua Nadine. Setelah mengucapkan dua kali salam, nampak ibu tengah tergopoh-gopoh menghampiri Kian.


"Ayo masuk, masuk, Nak Kian" Ibu mempersilakan duduk.


Kian menurut setelah terlebih dahulu mencium tangan ibu.


"Seperti kata ibu seminggu yang lalu, 3 hari lagi, Nadine berangkat, kamu sudah yakin dengan keputusanmu?"

__ADS_1


***


__ADS_2