
Niah bingung atas apa yang terjadi, sementara pak Adi berusaha mengatur perasaannya , nafasnya terasa sesak jantungnya berdegup dengan kencang dan matanya berkunang-kunang. Ia menyadari kemarahan wanita itu pastilah terkait video syur yang terlanjur beredar antara Niah dan suaminya.
“Masuklah dulu bu, kita bicarakan di dalam” suara pak Adi mulai melunak , terasa kakinya tak memijak tanah pandangannya mengabur dan kemudian gelap tak merasakan apa –apa.
“ Papah..!” teriak Niah melihat papahnya tumbang , ia panik , dokter Arya segera memapah pak Adi menuju kamarnya dengan wajah cemas, dokter arya takut jika pak Adi ada riwayat jantung tentu itu sangat membahayakan nyawanya. Wanita yang ternyata bernama bu Amanda itu tak berbuat apa-apa melihat pak Adi tumbang di depannya, amarah masih terlihat di matanya yang memerah , matanya sembab serta rambutnya yang sudah mulai tak beraturan membuat penampilannya tidak karuan, ia berdiri tak bergeming dari tempatnya, sepertinya luapan amarah yang hendak ia lampiaskan sedikit tertahan melihat keadaan pak Adi.
Niah menangis di samping papanya yang tak sadarkan diri , ia masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi, sementara ibu Ratih yang yang baru saja terbangun karena keributan tadi terlihat sangat bingung, kondisi mentalnya yang memang belum stabil terlihat seperti orang yang linglung, dokter Arya member isyarat kepada Anita untuk segera menghibur ibu Ratih yang sejak tadi hanya menatap suaminya tampa berkedip, dokter Arya cemas jika kebohongan yang dilakukan untuk keseahatannya menjadi sia-sia karena kejadian ini.
Anita mendekati ibu Ratih mengelus-elus pundak wanita itu dengan lembut “Tante tak perlu khawatir , om pasti baik-baik saja” ucap Anita sangat hati-hati. Sementara Niah masih duduk terisak membelai wajah papanya. Ia semakin tak mengerti dengan jalan hidupnya yang dipenuhi dengan masalah yang tak henti-hentinya. “Entah kapan ini akan berakhir?” bisiknya dalam hati, ia sudah lelah dengan semua ini, ia seperti jasad tanpa sukma sekarang , jiwanya rapuh dan goyah tak ada sandaran untuk sekedar membuatnya beristirahat sejenak dari penatnya hatinya menanggung luka.
__ADS_1
Karena tak ada perubahan yang berarti , maka dokter Arya memutuskan membawa pak Adi ke rumah sakit. Ia berangkat bersama Niah sedangkan Anita di suruhnya tinggal di rumah Niah untuk menemani ibu Ratih. Sepanjang jalan hening tanpa kata-kata hingga sampai di rumah sakit, pak Adi langsung di bawa ke UGD oleh perawat di rumah sakit itu.
Seorang wanita berhijab biru denga seragam dokter mendekati dokter Arya “Maaf dok, sepertinya pasien tadi mengalami pendarahan otak, untuk lebih meyakinkan diagnosa itu pasien harus di CT Scan atau MRI otak” ucap wanita itu sambil tersenyum “ Dan jika diagnosa saya benar berarti dokter sendiri yang harus menagani operasinya” ucapnya lagi. Sontak dokter Arya melirik Niah seakan meminta persetujuan, Niah hanya mengangguk tanda setuju. “baik, kita akan segera melakukan serangkaian pemeriksaan dulu” ucap dokter Arya seraya bergegas meninggalkan Niah yang hanya bisa pasrah menerima kenyataan itu.
Setelah diadakan pemeriksaan tenyata hasilnya tidak melenceng dari diagnosa. Pak Adi mengalami pendarahan otak yang diakibatkan karena riwayat hipertensi jangka panjang yang telah lama dideritanya sehingga melemahkan dinding pembuluh darahnya, dan tak terkecuali pembuluh darah otaknya.
Pendarahan otak merupakan pendarahan yang terjadi akibat pecahnya pembuluh arteri di otak sehingga menyebabkan pendarahan lokal di jaringan sekitarnya dan matinya sel-sel otak. Dan salah satu tindakan yang dapat dilakukan untuk mengeluarkan darah dari otak adalah tindakan operasi , itulah yang Niah baca di internet. Niah tertunduk lemas , kekuatannya hilang dan ia terduduk di lantai rumah sakit.
“Tapi ini mungkin bukan ujian dok,tapi hukuman buatku” ucap Niah lirih membuat dokter Arya tak mampu berkata-kata, ia hanya terdiam melihat Niah yang masih duduk sabil memeluk lututnya, matanya menatap nanar ke depan , entah apa yang dipikirkannya , dokter Arya tak bisa menebaknya. Ingin rasanya membalut luka wanita itu tapi dengan cara apa? Dokter Arya hanya mampu menolongnya degan berusaha menyembuhkan ayahnya.
__ADS_1
“Tindakan operasi akan dilakukan sebentar jam dua siang, kalau kamu mau pulang dulu pulanglah, untuk mengambil barang-barangmu menginap di sini, aku akan jaga papamu di sini” ucap dokter Arya mencoba membujuk Niah, ia sudah menelpon sopir Niah dari ponsel milik Niah, sebentar lagi sopirnya pasti akan datang.
Niah bergegas pulang tanpa mengabari mamanya tentang keadaan papanya sebenarnya, ia hanya bilang jika papanya harus di rawat sementara di rumah sakit dan belum boleh pulang. Niah hanya mengambil baju dan persiapan menginap kemudian berangkat lagi.
Operasi berjalan lancar yang dilakukan oleh dokter Arya, setelah melewati masa kritis pak Adi di pindahkan ke ruang perawatan , hanya Niah yang menjaganya,sesekali dokter Arya datang mengontrolnya .
Jam menunjukkan pukul Sembilan malam, terlihat kegelisahan di raut wajah pak Adi, keningnya berkeringat dan ia tak dapat memejamkan matanya, karena khawatir akan keadaan papanya akhirnya ia menelpon dokter Arya.
“Papah ingin bicara berdua dengan Arya” ucap pak Adi setelah melihat dokter Arya datang. Niah segera keluar ruangan meskipun diliputin kebingungan mendengar permintaan papanya.
__ADS_1
“Titip anakku Niah yah” pak Adi menggemgam tangan dokter Arya, belum sempat dokter Arya berkata apa-apa tiba-tiba pak Adi mengalami kejang –kejang , terlihat nafasnya tidak beraturan dan kembali tak sadarkan diri. Dokter Arya segera menghubungi perawat untuk membantunya menangani pak Adi , dokter Arya berusaha membuat pak Adi tersadar namun tak mendapatkan hasil, semakin lama irama jantungnya semakin melemah, ia segera memanggil Niah untuk menemui papanya. Niah hanya mampu menangis melihat papanya yang tak sadarkan diri , tak ada yang dapat ia lakukan selain berdoa meminta keajaiban, namun takdir berkata lain pak Adi sudah tak mampu bertahan , ia menghembuskan nafasnya yang terakhir di iringi teriakan histeris dari Niah.