
74
"Temui gue di kafe XYZ, ini soal masa depan suami Lo"
Nadine masih terngiang-ngiang dengan apa yang diucapkan oleh wanita yang sudah mengirimkan foto-foto mesranya dengan Kian kepada Nadine. Siapa lagi kalau bukan Riani. Nadine pun mempercepat laju motornya. Karena ia begitu penasaran dengan apa yang akan dilakukan Riani terkait masa depan suaminya.
Maka dalam hitungan menit, Nadine sudah tiba di lokasi. Ia segera mencari sosok Riani. Matanya dengan begitu mudah menangkap sosok wanita yang mengganggu rumah tangganya.
"Langsung saja, apa maksud dari perkataan Lo?"
"Hahaha...emang kalian berdua serasi, karakternya sama, nggak suka basa basi"
"Gue nggak ada waktu ngeladenin Lo" kata Nadine.
"Oke oke, tunggu" Riani mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Lalu menunjukkannya pada Nadine.
"Gue berencana akan menyebar foto-foto itu ke media massa. Nah, Lo tahu kan, akibatnya, kalau foto-foto itu tersebar?" Kata Riani santai. Nadine paham arah pembicaraan Riani.
"Bukannya nama Lo juga akan tercemar kalau sampai foto itu tersebar?"
"Gampang, gue tinggal bikin skenario kalau gue adalah korban"
"Licik, Lo"
"Apapun gue lakuin demi dapat impian gue" ucap Riani bangga.
"Trus Lo maunya apa?"
"Lo pisah dari Kian, Lo bikin gugatan cerai hari ini juga."
Tanpa pikir panjang, Nadine mengiyakan permintaan Riani.
"Baik, gue ikuti mau Lo, tapi setelah gue melakukan yang Lo mau, Lo harus berikan file foto-foto asli itu ke gue"
"Oke, deal, gue setuju"
Setelah itu, Nadine meninggalkan Riani yang tersenyum lebar. Riani merasa mimpinya untuk menjadi orang nomor satu di tempat tinggalnya.
Sementara itu, Nadine melajukan motornya ke rumah kontrakan Heru. Tadi ia sempat menelpon Heru dan meminta alamat tempat tinggal Heru. Nadine tahu dari Kian bahwa Heru tak memiliki rumah lagi.
Begitu tiba di lokasi, Nadine segera mengatakan keinginannya. Bahwa Ia butuh seseorang yang bisa cepat memproses gugatan cerainya pada Kian.
__ADS_1
"Kamu yakin mau gugat cerai Kian?" Tanya Heru memastikan.
"Yakin, Bang. Ini demi masa depan Mas Kian."
"Kamu nggak cari cara lain dulu untuk menghalangi Riani berbuat itu?" Tanya Heru lagi.
"Sudah nggak ada waktu, Bang. Tolong aku, cuma kamu yang bisa bantu aku."
Ya, Heru memang bisa melakukan itu. Namun, soal bisa tidaknya memproses gugatan cerai dengan cepat, Heru ragu bisa melakukannya. Karena bagaimanapun, tetap harus melalui jalur pemeriksaan data terlebih dahulu dan ini biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama.
"Baik, aku akan bantu kamu, Nad" Heru mengiyakannya saja.
"Tapi jangan bilang ke Mas Kian, ya, Bang" pinta Nadine. Heru mengangguk.
"Terima kasih banyak, Bang. Oya untuk biayanya, kabari saja aku, ya. InsyaAllah akan segera aku transfer ke rekening kamu" kata Nadine.
"Gampang itu"
"Udah, aku tahu, kamu bokek sekarang" ucap Nadine. Heru nyengir.
"Nomor rekeningmu yang dulu masih kamu pakai, kan?" Tanya Nadine. Heru mengangguk.
"Ya udah, kabari aku mengenai biayanya, aku transfer ke nomor itu. Ya sudah aku pamit dulu, Bang" pamit Nadine. Heru kembali mengangguk.
"Beruntung sekali Kian" gumam Heru.
Namun, sayang, keberuntungan Kian tidak akan berlangsung lama.
Heru lalu mengambil ponselnya. Ia menghubungi Kian.
"Yan, Lo ke kontrakan gue, ada yang mau gue omongin"
***
Setelah mendapatkan telfon dari Heru, Kian melajukan mobilnya ke kontrakan Heru. Begitu tiba, Kian disambut dengan kabar yang mengejutkan.
"Nadine mau gugat cerai Lo, Yan" kata Heru. Kian sontak terkejut dengan apa yang dikatakan Heru.
Ia tidak menyangka Nadine akan bertindak sejauh ini. Ia pikir gadis itu akan marah saja, marah yang lama padanya. Ia pikir Nadine tak mungkin sampai menggugat cerai dirinya.
"Gue nggak nyangka Nadine akan membuat keputusan seperti ini. Padahal gue sudah mengumpulkan bukti bahwa gue dijebak Riani" Cerita Kian tertunduk. Kedua tangannya menopang kepalanya. Ia gusar benar-benar gusar.
__ADS_1
"Nggak, Nadine gugat cerai Lo bukan karena hal itu, tapi karena ia ingin menyelamatkan elo"
"Nyelametin gue? Maksud Lo?" Kian menatap Heru serius. Ia tak mengerti apa yang dikatakan Heru.
"Sebenarnya gue nggak diizinkan Nadine untuk cerita ke elo, tapi gue pikir elo perlu tahu"
"Jadi Riani ingin elo dan Nadine bercerai. Kalau Nadine tidak mau, dia mengancam akan menyebarkan foto-foto mesra elo dengan dia ke media massa" terang Heru.
"Brengsek riani" umpat Kian.
"Trus sekarang elo punya rencana nggak?" Tanya Heru. Kian nampak berpikir. Cukup lama ia mengerutkan alisnya. Ekspresi wajahnya nampak serius. Ia tengah berpikir keras. Ruang tamu kontrakan Heru hening.
"Ikuti saja kemauan Riani" kata Kian memecah keheningan.
"Berarti elo setuju cerai sama Nadine?" Ucap Heru tak percaya dengan keputusan Kian. Ia tak menyangka semudah itu Kian melepaskan Nadine.
"Iya, gue setuju"
***
Keesokan harinya, Nadine menemui mama mertuanya untuk berpamitan karena Nadine berniat pulang ke rumahnya dan Kian.
Iya, selama tidak tinggal di rumahnya dan Kian, Nadine tinggal di rumah mertuanya. Bagi Nadine, rumah mertuanya adalah tempat yang paling aman.
Ia sengaja tak pulang ke rumah orangtuanya karena tak ingin orangtuanya tahu apa yang terjadi dengan pernikahannya. Nadine khawatir orangtuanya tidak mau mengikuti rencana yang ia buat untuk menyelamatkan Kian.
Sementara itu, mama mertuanya sendiri sudah tahu yang terjadi sebenarnya. Nadine sudah menceritakannya semuanya pada mama mertuanya itu. Mulai dari Nadine yang mendapati Kian di penginapan bersama seorang wanita hingga Riani yang mengancam akan menghancurkan masa depan Kian.
Nadine bersyukur karena mama mertuanya itu mendukung semua rencana Nadine.
"Terima kasih banyak ya, Nak, sudah mau berkorban untuk Kian. Tapi Mama berharap ada cara lain selain perpisahan kalian berdua"
"Nadine juga berharap seperti itu, Ma. Karena Nadine..." Nafasnya tercekat, ia tak bisa bercakap mengeluarkan kalimat yang menyatakan bahwa ia mencintai Kian. Yang ada malah ia sesenggukan di pelukan mertuanya. Hal yang sama juga dirasakan oleh mertuanya itu. Sedih, sedih menyadari akan kehilangan Nadine menantunya tersayang.
Cukup lama mereka berpelukan. Nadine melepaskan pelukannya saat ia sudah bisa meredakan tangisnya.
"Nadine pamit, Ma. Mama jaga kesehatan, ya, Nadine minta maaf yang sebesar besarnya ke Mama"
"Iya, Nak. Mama berdo'a semoga kamu panjang jodoh dengan Kian"
"Aamiin, insyaAllah, kalau Allah berkehendak. Salam ke Dini, Ma. Assalamu'alaikum" Nadine mencium tangan mertuanya.
__ADS_1
Saat Nadine mengangkat kepalanya, tangan mertuanya mengarah pada wajah Nadine. Mertuanya itu mencium pipi Nadine yang kanan juga yang kiri. Setelah dirasa cukup, Mama melepaskan tangannya dari wajah Nadine. Nadine menyunggingkan senyum sebentar lalu berbalik dan beranjak dari rumah Mertuanya itu.
Sebelum berangkat, ia sempat menyalakan ponselnya, ponsel yang kadang ia aktifkan dan nonaktifkan selama beberapa hari ini. Ia lalu menghubungi Kian dan mengatakan bahwa ia akan pulang.