
Kian dan Nadine sudah tiba di rumah Kian yang selanjutnya menjadi tempat tinggal mereka berdua. Rumah dengan desain minimalis itu sudah selesai di renovasi.
Dulu, hanya ada 1 kamar mandi, setelah direnovasi, berubah menjadi 2 kamar mandi, kamar mandi yang letaknya di dalam kamar dan di luar kamar. Dulu, ada 2 kamar, setelah direnovasi, hanya satu kamar. Dulu, tidak ada ruang kerja karena Kian mengerjakan pekerjaannya di mana-mana, setelah direnovasi, menjadi ada ruang kerja. Dulu, antara dapur dan ruang tengah dipartisi tembok, setelah direnovasi, partisinya berupa meja bar mini. Dulu, antara ruang tengah dan ruang tamu menjadi satu, setelah renovasi, jadi ada partisi rak buku dengan bentuk yang unik.
Bagian yang direnovasi lainnya yaitu taman belakang juga taman depan. Taman depan ada gazebo kecil dan kolam kecil serta beberapa tanaman hias yang beralaskan batu-batu kecil. Sedangkan taman di bagian belakang, terdapat beberapa tanaman buah dalam pot, kursi kayu yang beralaskan rumput gajah. Kian berharap, Nadine bisa nyaman tinggal di rumah.
Layaknya rumah yang baru selesai direnovasi, banyak terdapat bagian bagian kecil sisa bahan bangunan tercecer di rumah. Kian dan Nadine, tanpa dikomando, bergegas membersihkan rumah. Tak ada pembagian tugas di antara mereka. Mereka lebih memilih untuk saling membantu.
"Sayang, bagian kamar sudah bersih, kamu istirahat aja dulu, biar mas yang menyelesaikan sisanya" kata Kian.
"Nggak, Mas. Aku belum capek" jawab Nadine. Ia kembali melanjutkan mengepel lantai ruang tamu.
Kian menghela nafas. Batinnya mengatakan Nadine amat keras kepala. Padahal beberapa kali Kian mendapati Nadine gagal seimbang. Mulai dari terbentur tembok, sampai kaki yang keserimpet hingga membuatnya nyaris jatuh. Ya, sedikit banyak, Kian mulai kenal dengan karakter istrinya itu.
Namun ada yang belum Kian ketahui. Mengenai Nadine yang suka mencari pelarian jika ia dalam kondisi terdesak ataupun tidak menyenangkan. Seperti saat berada di momen ini, dimana Nadine bersih-bersih rumah sembari berpikir tentang pelarian dari menjalin pernikahan yang tidak diinginkannya, dari keinginan orangtuanya, sampai bertemu dengan mertuanya.
Sejak berdebat dengan ayahnya, Nadine memutuskan untuk tidak menuruti kehendak ayahnya yang ingin membuatnya bekerja sebagai orang kantoran. Untuk kali ini, Nadine ingin melakukan apa yang ia mau, apa yang ingin ia wujudkan dan sebagainya.
Terlebih Kian, yang merupakan suaminya, yang mana ridho Nadine berada di suaminya setelah menikah, sama sekali tidak menolak keinginannya itu. Suaminya malah mendukung Nadine menekuni passionnya.
"Ada untungnya juga ya, nikah, coba kalau aku belum nikah, pasti ayah sudah memaksakan kehendaknya dengan berbagai macam cara" ungkap Nadine sembari tersenyum simpul.
Akhirnya pekerjaan mereka selesai. Nadine masuk ke kamar dan segera merebahkan diri. Tak lupa ia mengambil gawai di tas kecil miliknya. Sedangkan Kian, beranjak ke dapur. Ia membuka kulkas lalu melihat bahan makanan yang masih tersisa di sana.
"Ah, ada telur, bawang merah putih, terasi, tomat, cabe, jeruk limau, bikin penyetan ajalah" kata Kian. Dengan lihai, Kian mulai beraksi. Ia sendiri sudah terbiasa masak. Jadi bagi Kian masak menu sederhana ini semudah membalikkan telapak tangan. Benar saja, tak perlu waktu lama, masakan Kian sudah terhidang di meja bar mini mereka.
Setelah ijab qobul, Kian sudah menentukan tekad untuk membuat Nadine jatuh cinta padanya. Ia akan melakukan berbagai macam cara agar istrinya itu mau menoleh padanya.
Usaha-usaha diawal, sudah membuahkan hasil yang manis. Indikator keberhasilan usahanya, Nadine mulai memberikan perhatian kecil padanya seperti beberapa kali Kian menangkap Nadine tengah mencuri pandang padanya. Yang terbaru, Nadine menyelimutinya saat mereka masih tinggal di rumah orangtua Nadine. Dan usaha Kian kali ini, memasak untuk Nadine. Kian optimis, masakan yang ia buat akan terasa enak.
Setelah selesai, Kian bergegas menghampiri Nadine yang sedang berada di kamarnya. Gadis itu nampak asyik dengan gawainya.
__ADS_1
"Sayang, ayo makan dulu" ajak Kian yang berdiri di depan kamar.
"Mas bikin telur dadar penyet, ayo" ajak Kian lagi. Nadine berjalan gontai mengikuti Kian. Setelah dekat, Nadine melihat ada dua piring nasi dan sebuah piring telur dadar serta sambal penyet.
"Mas masak sendiri?"
"Iya donk, dijamin enak, ayo" Kian mulai menyantap makanan yang ada di depannya. Demikian juga dengan Nadine. Tak ada suara. Hening. Mereka fokus pada kunyahan demi kunyahan makanan yang dimasak Kian. Rasa sambalnya yang pedas gila, membuat Nadine ingin menambah nasi serta lauk di piringnya. Sayang, iya tengah jaga image di depan Kian. Jadi Nadine urung melakukan itu.
Makan selesai. Kian memulai pembicaraan.
"Gimana? Suka?" Tanya Kian. Nadine mengangguk.
"Emmm... Mas, kamu masih ingat dengan kesepakatan yang kita buat, bukan?" tanya Nadine.
"Iya, masih ingat" Kian mengiyakan.
"Aku mau itu tetap berlaku"
"Satu lagi, Mas, besok aku mulai bekerja, dan job pertama aku di luar pulau, jadi mungkin aku akan tinggal beberapa hari di sana. Aku harap kamu nggak keberatan"
"Berapa hari?" kata Kian.
"Dua minggu, Mas" ungkap Nadine.
Kian nampak berpikir. Baru saja Kian memantapkan tekad untuk membuat Nadine jatuh cinta padanya, eee malah Nadine pergi darinya. Seakan-akan Nadine tidak ingin memberi kesempatan padanya untuk membuatnya jatuh cinta. Kalau seperti ini, Kian khawatir, rumah tangganya bisa segera berakhir. Kian merasa harus melakukan sesuatu. Sesuatu yang membuat Nadine terikat padanya.
"Selama itu?" Tanya Kian, Nadine mengangguk.
"Iya, Mas"
"Jobdesc-nya seperti apa?" Tanya Kian. Ia merasa perlu tahu apa yang dikerjakan Nadine. Setelah itu baru ia bisa menentukan langkah selanjutnya.
__ADS_1
"Ya seperti biasa, foto produk makanan kemasan beberapa UMKM yang ada di sana" jelas Nadine. Kian mengerutkan alisnya. Ia rasa, tak perlu waktu selama itu untuk menyelesaikan pekerjaan Nadine. Terlebih, menurut Kian, Nadine sudah berpengalaman. Jadi tidak mungkin orang yang sudah berpengalaman membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan jobdesc tersebut. Kian merasa ada yang aneh.
"Jangan 2 minggu, Sayang. Maksimal 3 hari"
"Nggak bisa, Mas, harus 2 Minggu"
"Kalau begitu mas ikut"
"Nggak bisa juga, Mas" Nadine menolak lagi. Kian merasa makin tak enak hati. Ia menaruh curiga pada Nadine.
'Jangan-jangan ni anak mau lari' gumam Kian dalam hati.
"Sebenarnya, Mas berat mengizinkan kamu pergi selama itu, tapi nggak apa-apa, Mas izinkan asal kamu mau memenuhi 1 syarat." ujar Kian.
"Syarat? Apa syaratnya? "
"Syarat dari Mas, lakukan kewajibanmu sebagai seorang istri"
"Bukankah kita sudah sepakat untuk melakukan hal itu setelah kita saling cinta, sedangkan aku tidak cinta denganmu, Mas. Jadi kita tidak bisa melakukan hubungan suami istri itu." Nadine mengingatkan.
"Iya, mas ingat dengan kesepakatan kita. Bahkan setiap poinnya mas ingat betul" Kian memperbaiki posisi duduknya. Kali ini lebih tegak dari sebelumnya.
"Isi kesepakatan kita yang pertama, bebas melakukan aktivitas masing-masing namun tetap mengerti batasan sebagai seorang istri atau suami. Nah di poin ini, mas rasa sudah jelas, kamu bebas melakukan aktivitas apapun asalkan mengerti batas sebagai seorang istri." Lanjut Kian.
"Bagi Mas, kepergianmu selama dua minggu, melebihi batasmu sebagai seorang istri" imbuh Kian. Nadine nampak mencerna kalimat yang diucapkan Kian.
"Di poin kedua, tidak boleh memaksakan kehendak, sebelum dikomunikasikan terlebih dahulu. Ini juga jelas, kamu tidak boleh memaksakan kehendak untuk pergi, faktanya, tadi kamu sudah memaksakan kehendakmu. Mas mencoba komunikasi dengan mengajukan jalan tengah, tapi kamu tetap menolaknya. Berarti kamu benar-benar memaksakan kehendakmu, bukan?"
"Kalau kamu memang tetap ingin pergi sendiri, nggak apa-apa, asal kamu mau melakukan syarat yang mas ajukan tadi." Kata Kian lagi. Nadine mematung. Ia tidak menyangka, kesepakatan pernikahan yang mereka buat, ternyata bisa sejelas itu jika diinterpretasikan.
"Mas cuci piring dulu, kamu bersiaplah, setelah ini mas akan meminta kamu memenuhi syarat yang Mas ajukan."
__ADS_1