Pelarian

Pelarian
Semesta Mendukung


__ADS_3

Setelah mengamati cukup lama, akhirnya Riani kembali memasuki mobilnya. Ia, yang tadinya hanya membawa sebuah tas kecil serta map berisi surat perceraian Kian dan Nadine, kini membawa serta sebuah koper ke dalam mobilnya. Ya, koper yang dibawa Riani, tadinya dibawa oleh orang yang ingin menghancurkan pernikahannya dengan Nadine dengan menggunakan jasa Riani.


Kian tersenyum sumringah. Karena alat-alat rahasia yang ia sisipkan di map tersebut membuatnya mendapatkan informasi yang ia inginkan. Ia tahu isi dari koper yang dibawa Riani. Koper tersebut berisi uang dengan nominal yang cukup besar.


Kian menduga, uang tersebut akan Riani gunakan untuk meluluskan niatnya menjadi orang nomor satu di kabupaten tempat tinggalnya. Dugaan Kian ini tentu beralasan.


Riani dulu pernah menawarkannya untuk melakukan perjanjian politik antara partainya dan organisasi buruh yang diketuai Kian. Organisasi buruh yang diketuai Kian sendiri memiliki jumlah anggota yang besar dan dengan suara yang terkenal solid. Dengan dukungan suara dari organisasi buruh Kian ditambah dengan dukungan suara dari partai, cukup mengantarkan seseorang menjadi orang nomor satu di tingkat kabupaten dan bisa juga mengantarkan seseorang untuk menduduki kursi DPR.


Namun, tawaran perjanjian politik dari partai Riani, Kian tolak mentah-mentah. Karena isi perjanjian politik tersebut bernada ambigu. Tidak memberi dampak positif yang signifikan terutama bagi para buruh.


Kian masih mengikuti Riani. Ia melupakan rasa lelah, lapar, haus juga kantuk yang mendera. Mandi pun ia jarang. Namun ia tetap berusaha menjaga sholat, meskipun acapkali nyaris terlambat. Ia juga mengubah total rutinitasnya. Yang tak berubah hanya rasa cinta juga rindu pada Nadine.


Belakangan ini, Kian merasa makin merindui Nadine. Dorongan untuk menemui Nadine makin menjadi-jadi. Perasaan ini tak seperti biasanya. Yang akan beralih jika Kian sedang fokus mengerjakan sesuatu. Entahlah, Kian merasa ada sesuatu yang terjadi dengan Nadine. Ia berjanji akan segera menemui Nadine begitu ia sudah berhasil mengumpulkan bukti bukti untuk melumpuhkan Riani.


Kian mendapati Riani memasuki sebuah hotel. Saat masuk di lobi hotel, nampak seorang pria menyambut kedatangan Riani. Mereka saling berpelukan juga berciuman mesra. Yang Kian tahu Riani belum menikah. Lalu siapakah laki-laki itu?


Jika sedang tidak dalam misi menyelamatkan hubungannya dengan Nadine, Kian tidak berminat untuk mengetahui siapa laki-laki yang bersama Riani. Ini berlaku untuk siapa saja yang berada di luar lingkaran tanggung jawabnya. Ia tak ingin ikut campur urusan pribadi orang lain. Ia menghargai privasi orang lain. Kecuali jika memang orang tersebut meminta saran, atau bantuannya, barulah Kian akan melibatkan diri.


Kian mengamati wajah dari si pria. Ia merasa pernah berjumpa dengan laki-laki.


"Tapi dimana, ya?" Kian mengajukan tanya untuk dirinya sendiri.


Ia kembali mengingat-ingat. Dan binggo, ia pernah bertemu dengan laki-laki itu di tempat mereka akan melakukan perjanjian politik tersebut.


"Ah iya, dia ketua DPC partai yang diikuti Riani"

__ADS_1


Beruntung, saat ini, begitu mudahnya mendapatkan informasi yang diinginkan. Semudah membalikkan telapak tangan, Kian jadi tahu bahwa ketua DPC tersebut sudah berkeluarga.


"Ini skandal" kata Kian. Ia tersenyum lebar. Ini bisa ia jadikan bahan untuk melumpuhkan Riani.


Ia merasa semesta benar-benar mendukungnya. Ia benar-benar merasa dimudahkan mewujudkan strategi. Meskipun ia bergerak sendirian.


Bagaimana dengan Heru? Bukannya Kian meminta bantuan pada laki-laki itu? Ya, memang Kian meminta bantuan. Namun, mulai hari ini, Kian memantapkan hati untuk melakukan aksinya sendiri. Ia sudah tak berminat meminta bantuan temannya itu.


Hari ini, Kian mencukupkan aktivitasnya mengumpulkan bukti dan bahan untuk melemahkan Riani. Ia memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya di hotel yang sama dengan tempat Riani menginap. Ia memutuskan untuk mensinkronkan bukti juga bahan yang sudah berhasil ia kumpulkan.


Rencananya, setelah semua bukti dan bahan sinkron, ia akan membawanya pada Riani lalu melumpuhkan gadis itu. Sesudah itu, barulah Kian akan melanjutkan strategi berikutnya untuk melumpuhkan orang yang menginginkan kehancuran pernikahannya dengan Nadine. Ialah akhir sasaran Kian.


Sebelum memejamkan mata, Kian mencoba menghubungi Nadine.


To: Nadine


Mas Rindu.


Sangat merinduimu.


Jangan pergi kemana-mana.


Jangan mencari pelarian.


Mas akan segera datang membawamu kembali ke dalam pelukan mas, Sayang.

__ADS_1


Kian meletakkan ponselnya di nakas. Pesan yang ia kirimkan sudah berubah tanda menjadi centang 2 berwarna biru. Nadine sudah membacanya. Kian tak perlu menunggu pesannya berbalas. Karena Nadine tidak akan membalas. Bagi Kian, itu tak masalah. Yang terpenting baginya, Nadine tetap di sana, tak pergi kemana-mana, tidak menghilang, tidak mencari pelarian. Karena dengan Nadine tidak melakukan hal ini, Kian yakin, perasaan Nadine padanya tidak akan berubah sedikitpun.


Kian menyalakan alarm ponselnya. Ia berencana bangun sekitar jam 3 an, sebelum subuh. Kian akan melanjutkan mengamati gerak-gerik Riani.


***


Pagi sudah, Kian kembali mengikuti Riani. Kian pikir, mungkin Riani akan beraksi lagi. Namun, ternyata Riani memilih pulang ke rumahnya. Kian memutuskan untuk meninggalkan Riani. Cukup sudah, baginya.


Selanjutnya, ia mengarahkan mobilnya menuju kos Nadine. Kian mengecek GPS yang ia pasang di jam tangan pemberiannya untuk Nadine. Informasi data GPS menunjukkan Nadine berada di kosnya. Ia kesana bukan untuk menemui Nadine. Melainkan mengecek apakah masih ada orang yang membuntuti Nadine.


Ya, beberapa kali Kian mendapati ada yang membuntuti Nadine. Sayangnya, saat ia ingin menangkap pelaku, Kian selalu gagal.


Kian tiba di kos Nadine. Ia amati sekitar lokasi. Ia bersyukur, hanya dia sekarang yang mengamati kos Nadine. Kian berpikir, mungkin karena ia dan Nadine sudah berpisah, maka dari itu si penguntit berhenti melaksanakan tugasnya. Kian lega. Ia pun memutuskan untuk tinggal di depan kos Nadine sambil menunggu Nadine keluar. Biasanya, dalam sehari, Nadine pasti beraktivitas di luar. Seingat Kian begitu.


Sayang beribu sayang, menjelang sore, yang diharap kemunculannya tak kunjung ada. Kian menaruh curiga, Nadine tak berada di kosnya.


Untuk memastikan kebenarannya, ia bertanya pada salah satu penghuni kos yang kebetulan keluar dari kos tersebut. Dan benar saja, info dari penghuni kos itu, mengatakan Nadine tidak berada di kos selama kurang lebih 2 hari ini. Penghuni kos itu juga mengatakan ia tidak tahu keberadaan Nadine.


Kian pun memutuskan untuk melajukan kendaraannya ke rumah orangtua Nadine. Ia ingin memastikan apakah Nadine berada di sana.


Sebelum sampai di dekat rumah mantan mertuanya itu, Kian singgah sebentar membeli minuman di indoapril. Tak disangka ia bertemu dengan adik Nadine, Dika. Dari Dika, Kian tahu bahwa Nadine berada di rumah orangtuanya. Dari Dika juga, Kian tahu bahwa Nadine baru saja jatuh sakit. Kian juga jadi tahu, bahwa nafsu makan Nadine tengah menjadi-jadi dan dengan selera makan yang aneh dan unik pula.


"Bakso, soto, siomay, jadi satu? Gimana rasanya? Dasar aneh, tapi bikin rindu" gumam Kian sembari melepas kepergian Dika.


Sore itu, Kian memutuskan untuk tidak pulang ke rumahnya. Ia ingin menginap di rumah orangtuanya saja. Ia lelah. Amat lelah. Ia ingin istirahat untuk menyiapkan tenaga guna menjalankan strategi selanjutnya.

__ADS_1


***


__ADS_2