
"Sekalian mau minta izin nih ,Tante, saya mau mengajak Nadine ke rumah"
Deg
Nadine terkesima dengan ucapan Kian.
"Jangan jangan, jangan bertemu mama" batin Nadine. Ia amat berharap, Kian mengajaknya bukan untuk menemui mamanya. Entah kenapa sejak mengobrol dengan mama saat acara lamaran tersebut, Nadine menaruh rasa sungkan pada mama Kian.
"Mama ingin ketemu kamu, Nad" ungkap Kian.
'duh Mateng aku' kata Nadine
Nadine bergeming sejenak. Ia memikirkan betul ajakan dari Kian. Satu sisi, dia begitu malas dengan segala hal yang terkait dengan prosesi menuju pernikahan yang tidak diinginkannya ini. Di sisi lain, ia sungkan, ia menaruh rasa hormat pada Mama Kian.
"Maaf aku nggak bisa" akhirnya Nadine memutuskan untuk menolak ajakan Kian. Tanpa menunggu respon dari Kian atau menunggu komentar dari ibunya sendiri, Nadine bergegas pamit lalu melajukan motornya menuju alun alun kota untuk menemui teman-teman komunitas sosialnya.
"Maafin Nadine ya, Nak Kian" kata Ibu. Ia kecewa pada Nadine yang sudah bertingkah seenak jidatnya tanpa memikirkan perasaan orangtuanya, akibatnya, dampaknya.
"Iya Tante, nggak apa-apa, ya sudah Kian balik dulu ya, Tante" pamit Kian. Ia pun menaruh rasa kecewa pada Nadine. Ia melajukan mobilnya sembari memikirkan alasan apa yang ia katakan pada mamanya soal Nadine yang menolak keinginan mamanya.
Saat tiba di lokasi, Nadine disambut teman-temannya yang sudah menunggunya agak lama. Mereka pun bersegera membahas perihal kebutuhan pertunjukan seni anak-anak kaum marjinal. Kerja keras mereka selama beberapa hari sudah menunjukkan hasil fantastis. Karena dalam hitungan hari, persiapan mereka sudah sampai 85 %.
Setelah selesai pembicaraan, Nadine memilih duduk di bawah pohon besar alun-alun kota sembari memperhatikan anak-anak yang sedang berlatih untuk pertunjukan seni. Senyum lebar terbingkai diwajahnya. Nadine optimis, pertunjukan seni ini akan berbuah manis alias banyak menghasilkan duit. Semoga, semoga saja, karena dengan begitu program-program komunitas akan berjalan lancar dan membawa dampak positif bagi mereka, anak-anak kaum marjinal.
"Woi, calon manten masih di sini aja, nggak dipingit Lo?" Tanya Windi sembari menyodorkan air mineral kemasan pada Nadine. Ya Windi memang sahabat Nadine yang paling nempel dengannya. Hampir, dimana pun ada Nadine disitu ada Windi.
"Nggak, nggak pakek pingit-pingitan, la wong nikah aja gue males" respon Nadine.
"Nggak boleh gitu ah, Nad, nggak baik" Windi mengingatkan. Nadine tak merespon. Ia meneguk air mineral banyak-banyak.
"Tadi, Bang Kian ngajak gue ke rumahnya, katanya Mama ingin ketemu gue" cerita Nadine.
"Trus, koq elo di sini sekarang?" Tanya Windi.
Nadine menunduk. Ia menggerak-gerakkan botol air mineral kemasan.
"Gue..." Nadine menggantungkan ucapannya.
"Saran gue, elo harus ke sana, Nad, elo boleh jutek sama Bang Kian, tapi elo nggak boleh jutek sama orangtuanya, dosa elo double double" kata Windi dengan ekspresi menggebu-gebu.
Memang, di lubuk hati Nadine, tersimpan keinginan untuk menerima ajakan Kian. Tapi buru-buru Nadine hempaskan keinginan itu dan memilih menuruti egonya. Namun, ucapan windi, berhasil mematahkan ego Nadine. Ia mengambil gawainya lalu menghubungi Kian.
"Gue nitip motor ya, Win, elo bawa ke kos aja, entar gue ambil di sana" pinta Nadine. Ia menyerahkan kunci motornya pada Windi.
__ADS_1
"Gue pakai muter-muter bentar boleh? Suntuk nih gue dikosan terus."
"Boleh, jangan lupa ganti bensinnya"
"Ish, pelit Lo, Nad"
"Ter...se...raaaaahhhh" kata Nadine lalu ia tertawa lebar. Windi pun sontak menoyor Nadine. Tak terima, Nadine menoyor balik Windi. Windi menoyor lagi. Nadine membalas. Mereka jadi toyor-toyoran. Adegan ini berhenti saat Kian sudah dihadapan Nadine.
"Ayo berangkat" ajak Kian sambil mengulurkan tangannya pada Nadine guna membantu Nadine berdiri dari tempat duduknya. Namun, uluran tangan Kian tak disambut Nadine. Windi yang melihat tingkah sahabatnya itu, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Gue pergi dulu ya, Win, tolong bilangin ke temen-temen, trus kalau ada apa-apa kabari gue" pinta Nadine. Ia lalu berjalan mengikuti langkah kaki Kian.
Sepanjang perjalanan, hanya alunan musik yang terdengar. Sengaja, kali ini, Kian tak mengajak Nadine bicara. Namun, sesaat sebelum tiba di rumah, Kian mengatakan sesuatu pada Nadine.
"Makasih ya, Nad, sudah bersedia mewujudkan keinginan Mama" kata Kian. Nadine diam saja.
Setibanya di rumah, Nadine disambut Dini, adik Kian. Dini langsung mengajak Nadine ke kamarnya lewat pintu samping rumahnya. Area pintu depan sudah penuh ibu-ibu pengajian. Sementara Kian bergabung dengan petugas parkir dan keamanan juga bapak-bapak setempat yang turut membantu melancarkan kegiatan pengajian yang diadakan ibu.
"Mbak, mau mandi dulu atau langsung ganti baju, Dini udah siapin baju muslim buat mbak, mbak pilih yang mana terserah mbak" kata Dini.
"Mbak mandi bentar kalau gitu ya, Din. Gerah nih" ucap Nadine.
"Oke, Mbak. 15 menit lagi Dini ke sini ya." Kemudian Dini berlalu dari kamarnya.
Ceklek
"Mbak Nadine sudah selesai?" Tanya Dini.
"Sudah, ayok" ajak Nadine.
"Eit tunggu dulu, makeup dikit donk Mbak, pakai punya dini tuuu" Dini menunjukkan peralatan makeup yang terletak di meja riasnya.
"Boleh?" Tanya Nadine.
"Bolehlah mbak, sini, Dini make up in, biar Bang Kian makin tersepona" kata Dini. Ia menarik tangan Nadine dan mengantarkannya di depan meja riasnya. Dini pun mulai beraksi.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara ketukan di pintu kamar Dini. Tanpa menunggu jawaban, si pengetuk lalu membuka pintu kamar.
"Nad, kita ditunggu Mama sama ibu-ibu pengajian, ayo" ajak Kian. Ya si pengetuk itu ternyata Kian.
"Bentar, Bang, kurang dikit lagi nih" jawab Dini.
"Nah, udah selesai, ayo mbak" kata Dini. Nadine bergegas untuk berdiri lalu berjalan menghampiri Kian yang menunggunya di luar kamar Dini.
__ADS_1
"Ayo" ajak Nadine.
Namun sayang, ajakan Nadine tak terjawab, Kian tengah sibuk, sibuk memandangi Nadine.
"Woy bang, woy" Dini menggerak gerakkan tangannya di depan wajah Kian. Mendapati tangan Dini, Kian mengerjap ngerjapkan matanya.
"Ciyeee yang terpesona" goda Dini.
"Hahaha...." Kian tertawa. Sedangkan Nadine menyunggingkan senyum menyaksikan tingkah dua bersaudara ini.
Nadine juga Kian memasuki area pengajian. Puluhan mata nampak memandangi mereka. Mereka menghampiri Mama Kian.
"Sini, Nak" ajak Mama Kian kepada Nadine. Nadine menurut.
"Eit, kamu di sini, Yan, bukan di sana" kata Mama Kian. Kian juga menuruti kemauan mamanya. Agak berat, sih. Entah bagaimana, Kian merasa ingin nempel terus pada Nadine. Bucin detected. Hahay
Saat mereka di sana, acara sudah masuk di bagian penyampaian sambutan oleh tuan rumah yang tak lain adalah Mama Kian. Mama pun mulai menyampaikan rasa terima kasih atas kerelaan ibu-ibu menerima undangan Mama dalam rangka pengajian sekaligus syukuran lamaran Kian diterima Nadine. Mama begitu lancar menyampaikan kalimat demi kalimat. Mama mulai terbata saat menceritakan sedikit tentang Kian, putranya.
"Kian adalah anak yang amat baik, pintar juga manis. Ia yang paling dekat dengan papanya. Ia yang paling semangat menyambut kepulangan papanya dari bekerja di luar kota. Ia yang paling antusias menghabiskan waktu bersama papanya. Dan ia yang paling sedih saat papanya berpulang ke Rahmatullah." Mama kian mengambil jeda. Ia nampak menghela nafas. Berat.
"Kian, juga yang paling pertama bangkit dari sedihnya kehilangan. Seharusnya saya yang lebih dulu bangkit, bukan? Tapi malah dia, dia, anak yang masih SMA kelas 3 kala itu, yang menopang saya juga Dini, adiknya. Dia yang mengambil alih tongkat estafet tanggung jawab keluarga dari tangan saya. Dia begitu giat bekerja, apapun, semampunya, demi saya juga Dini. Ia juga tetap giat belajar agar mendapat nilai akademik yang baik. Dengan begini, ia bisa mendapatkan beasiswa sehingga ia tidak perlu membayar biaya sekolah" Mama kembali menghela nafas, juga menghapus buliran air mata yang menderas begitu saja.
"Makasih ya, Nak, terima kasih banyak atas kerja keras, juga perjuanganmu untuk Mama dan Dini. Mama juga Dini, senantiasa berdo'a agar hidup kamu penuh berkah dan bahagia bersama istri pilihan kamu, Nadine." Ucap Mama sembari memeluk Kian. Kian menunduk haru. Ia pun nampak menghapus air di sudut matanya, berkali-kali.
"Untuk Nak Nadine, Mama titip Kian ya, Mama yakin, Kian pasti bahagia bersama Nak Nadine. La wong belakangan ini saja, enggg...seingat Mama, sejak dia melamar kamu, dia sering senyam senyum sendiri, sumringah, ya kan, Nak?" Goda Mama. Kian tersenyum lebar. Sementara Nadine, menatap lekat Mama Kian.
"Wajar sih begitu, kan ngejar Nadine dari 4 tahun lalu, pasti merasa senang sekali begitu berhasil dapetin Nadine, ya kan, Nak?" Ungkap Mama Kian sembari memandangi anaknya yang kali ini tertawa lebar. Pun juga demikian pada Nadine. Ia menatap Kian, baru kali ini.
"Mama juga Dini, dan keluarga besar, merestui kalian berdua, Kian juga Nadine. Semoga acara pernikahan kalian berjalan lancar ya, dan nantinya menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah langgeng saklawase" kata Mama Kian yang diaminkan oleh para undangan.
Hari itu, acara pengajian di rumah Kian, berjalan lancar.
***
Hai hai Readers, juga authors.
Maaf baru update yak.
Harap maklum, karena saya baru bisa mengumpulkan serpihan semangat untuk tetap lanjut menulis lagi di sini. 😅
Seperti biasa, jangan lupa tinggalkan jejak juga klik gambar love serta bintang 5nya yak, biar saya makin semangat update dan menyelesaikan cerita ini. Ngasih vote juga boleh, boleh bangeeetttt.
salam,
__ADS_1
author PELARIAN 😊.