
"Kalau begitu, apa jawabanmu atas lamaranku padamu?" Kian menatap Nadine. Nadine balik menatap Kian. Mereka saling menatap. Bedanya, detak jantung Nadine tak sekencang Kian.
"Nadine menolak lamaran kamu, Bang Kian, baik sekarang ataupun nanti"
"Oh.." respon Kian singkat. Ia lalu memalingkan wajahnya kepada pelayan yang mengantarkan makanan pesanan mereka.
"Terima kasih, Mbak" ujar Kian kepada pelayan tersebut yang direspon oleh pelayan tersebut dengan senyuman dan anggukan kepala.
"Setelah ini, Nadine tidak akan meminta bantuan lagi ke Bang Kian, Nadine mau menghentikan kedekatan kita meskipun hanya sebagai teman, Nadine harap Bang Kian paham dengan keinginan Nadine ini" jelas Nadine. Ia memberanikan diri menatap Kian yang memang tengah menatapnya sedari tadi. Nadine mendapati raut yang nampak sedih di wajah Kian.
"Baiklah..." Jawab Kian.
Kemudian hening menjelma di antara mereka berdua hingga Windi tiba. Kian dan Nadine tak saling berbicara. Mereka berdua lebih sering menanggapi ucapan-ucapan Windi.
Setelah Kian kekeh membayar makanan mereka, Kian pun memohon maaf pada Windi dan Nadine, tentunya tanpa melihat ke arah Nadine, karena tidak bisa mengantarkan mereka pulang.
__ADS_1
"Yaaahhh, koq nggak jadi nganter sih, Bang Kian?" Tanya Windi. Ia kecewa karena ia berharap Kian mengantarkannya dan Nadine sampai ke kos.
"Iya, aku ada rapat di kantor organisasi, tadinya mau aku wakilkan tapi setelah aku pikir-pikir, nggak enak rasanya kalau aku nggak ikut rapat, maaf ya. Ya sudah kalian hati-hati, aku pergi duluan" pamit Kian, tanpa menunggu jawaban dan tanpa menoleh ke arah Windi maupun Nadine.
"Bang Kian aneh deh ya, Nad. Kamu ngerasa nggak? Kayaknya dingin gitu padahal tadinya hangat, apa colokannya udah dicabut yak?" ujar Windi yang heran melihat perubahan sikap Kian. Kian yang biasanya hangat berubah jadi dingin. Bahkan pada Nadine sekalipun. Biasanya, Kian selalu berusaha menatap Nadine. Namun hal ini tidak terjadi. Kian membuang tatapannya jauh-jauh. Itu anggapan Windi.
"Lo kata Bang Kian nasi rice cooker? Colokan cabut, nasi jadi adem, hadehhh, ada-ada aja Lo Win"
"La habisnya, jadi aneh gitu" ulang Windi.
Sepanjang jalan menuju pulang, Windi memilih untuk tidur. Karena Windi merasa Nadine tidak merespon cerita-ceritanya dengan baik. Windi merasa pikiran Nadine tengah kemana-mana.
Sebenarnya ia ingin menanyakan hal itu, namun ia urung melakukannya karena Nadine pun sepertinya tidak mau menjawabnya. Nadine tipe orang yang tertutup. Ada hal-hal yang ia bagi kepada teman-temannya, namun ada juga hal-hal yang ia simpan sendiri. Ia akan bercerita sendiri, manakala itu merupakan cerita yang ingin bagi. Kalau tidak, ya Nadine tidak akan bercerita meski dipaksa sekalipun.
Faktanya, memang benar pemikiran Windi bahwa Nadine memang tengah memikirkan sesuatu. Nadine memikirkan soal ia yang menolak lamaran Kian.
__ADS_1
"Kayaknya aku tadi kejam banget sama Bang Kian, padahal dia sudah baik banget ke aku" gumam Windi dalam hati. Ia mulai bermonolog.
"Tapi, biarlah, biar saja kejam begitu, agar Bang Kian menjauh, benar-benar berhenti mendekatiku" lanjut Nadine.
Ya, Nadine bersikap seperti itu memang karena ia ingin Kian berhenti mendekatinya dan mengharapkannya. Karena, selama berhubungan dengan Kian, perasaan Nadine tak condong sedikitpun pada Kian. Ia tak punya rasa sama sekali.
Nadine tidak menemukan karakter Kian yang memenuhi kriteria calon pendamping hidupnya. Tidak, Nadine tidak menjumpai itu. Jika seperti itu, lantas memberikan keyakinan pada Nadine bahwa ia tidak akan jatuh cinta pada Kian baik sekarang atau bahkan nanti-nanti. Jadi daripada menunggu lama, pikir Nadine, kalau bisa untuk memberikan jawaban penolakan pada Kian secepatnya ya sudah secepatnya saja.
Akhirnya, Nadine dan Windi, tiba di kos mereka. Rasanya mereka ingin segera menenggelamkan diri di kasur kapuk kamar mereka untuk menghilangkan rasa lelah setelah wara Wiri seharian naik transportasi umum.
Lalu demi mewujudkan keinginan tersebut, Nadine dan Windi mempercepat langkah mereka. Namun, saat hampir mendekati kos, langkah kaki Nadine dan Windi terhenti oleh seseorang.
"Hai," sapa Kian.
***
__ADS_1