
Pagi tiba, Kian sedang bersiap-siap menuju rumahnya. Hari ini ia harus sudah standby di rumah. Karena besok adalah hari pernikahannya dengan Nadine.
'Ah iya' gumam Kian.
Senyum sumringah terlukis di wajahnya. Ia selalu merasa diserbu rasa bahagia setiap kali mengingat bahwa ia akan menikah dengan gadis yang amat ia cintai. Ya, gadis itu adalah Nadine.
Kian teringat saat pertama kali menyadari bahwa ia memiliki rasa pada Nadine. Berkali-kali ia menyangkalnya, dan mencoba untuk mengubur rasa itu, namun sebanyak kali itu juga, Kian kembali disadarkan akan rasa cinta yang ia miliki pada gadis itu.
Sejak saat itu, Kian memilih untuk berdamai dengan rasa cintanya pada Nadine, tidak berusaha menghilangkan juga tidak berusaha memupuk, mengalir saja. Meskipun ia sudah berdamai namun tak lantas ia menunjukkan cintanya melainkan ia memilih menyimpan rapi rasa cintanya pada Nadine. Cukup hanya dia dan Penciptanya yang tahu. Ya, Kian memilih untuk memendam rasa cintanya sendiri. Ia tak ingin ada orang yang tahu bahkan 1 orang sekalipun. Ia tidak mau menghancurkan hubungan Nadine dengan kekasihnya, Heru.
Kalaupun, pada akhirnya, ia berjodoh dengan Nadine, Kian ingin mengawalinya dengan cara baik-baik, bukan karena mengganggu, menikung, atau merebut. Kian memilih menaruh harap pada Maha Pembolak-balikkan Hati.
'Jika Engkau Ridho, jadikan kami berjodoh. Jika tidak, permudahkan aku memudarkan rasa padanya' itulah sekilas do'a yang dulu, selama 4 tahun, Kian lantunkan, tiap kali melihat Nadine dengan kekasihnya atau tiap kali ia ingat Nadine.
Tidak ia sangka, kini, harapan berjodoh dengan Nadine yang ia pasrahkan pada Sang Maha Cinta, terwujud sudah. Besok, ia akan menikahi gadis yang selalu ia gaungkan namanya di setiap harapnya.
Setelah mengunci pintu pagar rumahnya, Kian lalu melajukan mobilnya. Tak butuh waktu lama, Kian sampai di rumahnya. Ia disambut oleh Mamanya yang nampak berjalan tergopoh-gopoh. Ekspresi cemas tersirat di wajahnya.
"Yan, Mama minta tolong ya, cek ballroom di hotel Sangrilla tempat resepsi kamu, WO nya sih bilang persiapan sudah 85% sampai 90% tapi Mama nggak yakin kalau nggak mastiin sendiri. Kamu aja yang mastiin ya, entar fotoin atau kamu video call, Mama masih ngurus printilan nih, ada yang masih kurang" terang Mama Kian panjang lebar.
"Oke, Ma" Kian mengiyakan.
"Ada lagi yang perlu Kian bantu?" Tawar Kian lagi.
__ADS_1
"Oya ada ada, sebentar Mama ambilkan" Mama Kian masuk ke dalam rumahnya. Beberapa menit kemudian, Mama kian datang membawa sebuah kotak kue di tangannya.
"Tolong bawakan ini ke Ibu Mertuamu ya, titip salam dari Mama" kata Mama Kian.
"Baik, Ma. Kian berangkat dulu ya" pamit Kian. Ia lalu melajukan mobilnya. Awalnya, ia menuju ke lokasi resepsi pernikahannya. Kian menemui bagian WO lalu menanyakan yang perlu ditanyakan. Ia pun mengecek secara detail dan memastikan apa yang sudah dikatakan oleh WO. Tak lupa ia melakukan video call dengan Mamanya. Dirasa Fix, Kian lalu menuju ke rumah Nadine.
Kian lalu melajukan mobilnya. Tiba di sana, Kian segera masuk ke halaman rumah Nadine. Saat akan masuk ke dalam rumah, Kian mendengar percakapan Nadine dengan ayahnya.
"Nggak bisa, Yah, Nadine harus ke sana, Nadine ketua panitianya, Yah" seru Nadine sembari tersedu. Menangis merupakan usaha Nadine yang terakhir untuk membuat ayahnya mengizinkannya pergi ke lokasi acara pertunjukan. Ya, hari ini adalah hari H pertunjukan seni anak-anak kaum marjinal yang diadakan komunitasnya. Ia memegang tanggung jawab sebagai ketua panitia acara tersebut. Tak mungkin baginya untuk tidak menghadiri acara tersebut. Ini sama dengan lari dari tanggung jawab. Nadine tidak mau seperti itu.
"Ayah bilang nggak ya nggak" ujar ayah Nadine tak kalah seru. Ini puncak kesabaran ayah Nadine. Kemarin, ia masih memaklumi Nadine beraktivitas di luar rumah. Namun, besok adalah hari pernikahan mereka, maka dari itu ayah melarang Nadine keluar meskipun ia tahu anaknya memegang tanggung jawab penting. Selain itu, larangan ini juga ditujukan agar Nadine belajar, tidak asal membuat keputusan. Ayahnya berharap setelah ini, Nadine akan lebih bijak dalam mengambil keputusan, tidak asal.
"Tapi, Yah."
"Assalamu'alaikum, Yah" sapa Kian. Lalu menggamit tangan ayah. Ayah memberikan tangannya untuk dicium Kian.
"Ibu ada di dalam, ayah keluar dulu" ujar Ayah tanpa basa basi.
"Baik, Yah" jawab Kian. Ayah lalu keluar rumah mengendarai motor.
Kian lalu menuju pintu masuk. Namun ia kembali memundurkan langkahnya.
"Minggir" kata Nadine ketus. Kian memiringkan tubuhnya. Ia bergeming. Sengaja, ia ingin mencuri dengar pembicaraan Nadine di telfon.
__ADS_1
"Win, gue nggak dibolehin keluar rumah sama bokap, Lo tolong ambil alih tanggung jawab gue ya" pinta Nadine. Ia mengusap air mata yang masih tersisa di sudut matanya.
"Please, Win, gue nggak tahu minta tolong ke siapa lagi, Win, Win, Halo, Halo..." Nadine berusaha menghubungi kembali. Namun panggilannya ditolak oleh lawan bicaranya. Berkali-kali, ditolak lagi dan lagi. Nadine tetap mencoba, tak menyerah. Air matanya kembali menetes. Ia membayangkan kekecewaan yang tergambar di wajah teman-temannya. Bisa jadi, setelah ini, mereka tidak akan mau menerima Nadine lagi. Sedangkan Nadine tidak ingin hal itu terjadi. Bagi Nadine, komunitas sosial yang ia ikuti ini adalah bagian hidupnya yang teramat penting. Banyak pelajaran hidup yang Nadine dapatkan saat bergabung dalam komunitas tersebut. Tidak, Nadine tidak mau diasingkan atau bahkan dikeluarkan dari komunitas. Ia kembali memencet-mencet smartphone-nya.
"Nad, ada apa?" Tanya Kian.
"Ini semua gara-gara kamu, Bang Kian, andai kamu nggak ngelamar aku, aku nggak bakal mencari PELARIAN dengan menyibukkan diri menjadi ketua di pertunjukan seni, aku nggak bakal membuat kecewa teman-temanku, sekarang bisa jadi aku akan dikeluarkan, semua gara-gara kamu, Bang Kian, puas kamu merusak hidup aku, hah?" Caci Nadine penuh emosi. Ia lalu meninggalkan Kian yang tertegun mendengar perkataan Nadine.
Sadar dari rasa tertegunnya pada ucapan Nadine, Kian lalu mengejar Nadine. Sayang, pintu kamar Nadine sudah tertutup dan sepertinya amat sangat rapat. Kian lalu menuju dapur. Ia mendapati ekspresi muram di wajah calon mertuanya itu.
"Bu, ada titipan dari Mama buat Ibu"
"Eh Nak Kian, sudah dari tadi?" Tanya ibu Nadine yang nampak sedikit terkejut dengan kehadiran Kian. Beliau tengah menumis jamur tiram.
"Nggak, Bu, baru aja, titipan mama saya letakkan di sini ya, Bu"
"Walah, mamamu repot-repot aja, ibu titip salam terima kasih ya ke Mama kamu"
"Baik, Bu, ya sudah Kian pamit ya, Bu"
"Loh, koq cepet?"
"Iya, saya ada urusan sebentar, pamit, Bu. Assalamu'alaikum." pamit Kian.
__ADS_1