Pelarian

Pelarian
Buket Bunga


__ADS_3

Nadine tiba di sebuah kos yang amat asri. Ada banyak tanaman hias di sana. Bahkan yang sedang tren saat ini, si aglonema juga ada. Ada juga sebuah pohon mangga dengan ukuran yang cukup besar berfungsi sebagai kanopi alam. Beberapa burung terlihat bertengger di dahan-dahan pohon. Nadine merasa sejuk di sini.


Kosnya bersih sekali. Dimana-mana ditempeli peringatan tidak boleh membawa tamu pria ke dalam kos. Di pintu depan juga ada petugas keamanannya. Kos ini terletak di tengah kota. Jaraknya cukup jauh dari rumah Kian juga rumahnya sendiri.


Nadine sengaja memilih kos di tengah kota demi untuk memudahkan mobilitasnya. Mengingat kliennya rata-rata berasal dari kota.


Tentu dengan banyak keunggulan begitu, Nadine harus membayar banyak. Ia tak masalah dengan hal itu, yang terpenting dia merasa nyaman tinggal di sana. Toh, juga Nadine masih punya tabungan, hasil kerjanya sejak awal motret tidak pernah ia pakai, jumlahnya cukup banyak. Syukur-syukur jika tinggal di kos ini bisa membantunya melupakan rasanya pada Kian.


Ah iya, Kian. Laki-laki itu, sejak Nadine pergi, Kian juga pergi, pergi membuntuti Nadine. Ia tak ingin kehilangan jejak Nadine.


Di tengah jalan, Kian mendapati sebuah mobil yang juga nampak mengikuti Nadine. Kian seperti mengenal mobil tersebut. Plat nomornya tak asing. Ia seakan pernah melihat plat itu.


Kian mengingat-ingat plat nomor tersebut. Namun, nihil, ia tidak bisa mengingat dimana ia pernah melihat plat mobil itu.


Saat tiba di depan gang kecil, mobil itu berhenti sebentar. Lalu kemudian berjalan kembali. Kian memutuskan untuk berhenti mengikuti mobil tersebut. Ia meminta supir taksi untuk mengikuti Nadine lagi.


"Maaf, Mas, nggak bisa" kata bapak sopir taksi.


"Nggak bisa? Kenapa, Pak?"


"Mobil nggak bisa masuk" jawab si bapak supir.


Kian menghela nafas. Ia kehilangan jejak istrinya. Tapi tak apa, besok ia berencana akan mencari tempat tinggal istrinya itu. Lalu, Kian pun meminta pak supir untuk putar arah kembali ke rumah.


***


Keesokan harinya, Nadine pergi ke pengadilan agama ditemani dengan seorang pengacara teman Heru. Nadine ingat dia melarang Kian datang untuk mempercepat proses perceraian. Benar saja, Kian tak datang.


Sebenarnya, Nadine ingin sekali bertemu dengan suaminya itu. Ia rindu. Ini pertama kali Nadine merindukan suaminya.

__ADS_1


Solusi dari rindu adalah bertemu atau minimal mendengar suara si pembuat Rindu. Tapi Nadine tidak melakukan itu. Karena baginya, jika ia melakukan itu, menghubungi Kian, lalu mengatakan rindu, tentu proses perceraian ini bisa jadi batal. Nadine tidak ingin hal itu terjadi.


Nadine kembali pulang ke kosnya. Tadi, pengacaranya sempat mengatakan kemungkinan proses perceraiannya berlangsung cepat dan tidak akan sampai berbulan-bulan.


"Baiklah, semakin cepat semakin baik" gumam Nadine.


Lalu bagaimana dengan rasa rindunya pada Kian? Nadine mencoba menguburkan rasa itu dengan cara menyibukkan diri lagi. Ia adalah tipe orang yang tidak ingin tenggelam atau meresapi haru biru perasaan sedih.


Ia mendiskon tarif menggunakan jasanya. Jadi banyak pekerjaan yang datang karena tertarik dengan hal itu. Nadine juga menerima kembali tawaran-tawaran menjadi narasumber soal fotografi. Dengan melakukan ini, ia berharap, ruang pikirnya yang belakangan dipenuhi Kian bisa terganti oleh aktivitasnya.


Sebelum tiba di rumah, Nadine menyempatkan diri singgah ke kos sahabatnya, Windi. Nadine diberikan undangan wisuda yang nantinya diberikan kepada salah satu atau dua anggota keluarga. Nadine melupakan wisudanya yang ternyata akan dilaksanakan beberapa hari lagi. Beruntung ia tadi menuruti inginnya bertemu dengan Windi.


Puas bercakap dengan Windi, Nadine pulang. Tidak, ia tidak bercakap tentang perceraiannya. Yang tahu ia akan bercerai adalah suaminya, mertuanya, dan Heru. Nadine belum siap mengabarkan berita perceraiannya ini pada kedua orangtuanya.


***


Hari H wisuda. Senyum tak lepas di wajah Nadine karena silih berganti teman-temannya dari komunitas sosial, anak-anak jalanan, orang-orang panti asuhan, beberapa kliennya, beberapa pemilik UMKM yang pernah Nadine buatkan foto-foto untuk produk mereka tanpa dikenakan biaya, juga orang-orang yang pernah menjadikannya sebagai narasumber di acara mereka, ikut datang untuk mengucapkan selamat pada Nadine.


Ayah mencuri dengar percakapan Nadine dengan teman-temannya. Ada rasa bangga menyeruak di dadanya saat ia mendengar ternyata anaknya itu sudah menjadi sosok fotografer yang sukses. Ia cukup populer. Terbukti dari banyaknya orang yang memberikan selamat padanya.


Ayah Nadine juga bangga saat mendengar samar-samar beberapa orang mengucapkan terima kasih atas kebaikan yang dilakukan Nadine. Mulai dari berterima kasih karena Nadine suka berbagi sedikit rejekinya di panti asuhan, sampai Nadine yang suka menggratiskan jasa fotonya untuk membantu UMKM.


Secepat hadirnya rasa bangga, dan secepat itu juga hadir rasa bersalah. Ya, ayah Nadine merasa bersalah karena pernah memaksa Nadine untuk bekerja di kantornya. Merasa bersalah karena tidak tahu karakter anaknya sendiri.


"Permisi, mbak Nadine" seorang penjual bunga menghampiri Nadine. Lalu memberikan sebuah buket bunga padanya.


"Saya diminta seseorang mengantarkan ini ke mbak Nadine" kata penjual bunga tersebut.


"Siapa?"

__ADS_1


"Orang itu tidak menyebutkan nama"


"Oooo...kalau bertemu lagi, sampaikan ucapan terima kasih saya untuk orang itu, eh tunggu tunggu, sebentar" pinta Nadine.


Lalu Nadine mengambil setangkai mawar putih yang dijual oleh penjual bunga. Nadine menanyakan harganya kemudian membayarnya.


"Juga berikan mawar putih ini ya, mbak, terima kasih" kata Nadine. Penjual bunga itu mengangguk kemudian beranjak pergi setelah berpamitan.


"Dari siapa, Nad?" Tanya ibunya.


"Nggak tahu, Bu"


"Oiya, dari tadi ibu nunggu Kian, mana ya?"


"Masa istri sendiri wisuda nggak datang" lanjut ibu Nadine.


"Mas Kian banyak kerjaan, Bu, dan nggak bisa ditinggal" jawab Nadine.


"Ya tapi kan bisa meluangkan waktu sebentar saja, setelah itu silakan kalau mau bekerja lagi" kali ini ayah ikut berkomentar.


"Seharusnya suamimu itu bisa bersikap lebih bijak" sambung ayahnya.


Nadine menggigit bibir bawahnya. Ya, Nadine belum mengatakan yang sebenarnya pada kedua orangtuanya.


Tak ingin membicarakan Kian lebih lanjut, Nadine memilih beranjak menghampiri Windi dan keluarganya yang kebetulan juga tengah berkumpul tak jauh dari tempat Nadine dan orangtuanya.


Saat Nadine menghampiri Windi, matanya menangkap sosok penjual bunga tadi. Nadine mengikuti pergerakan si penjual bunga. Ia ingin tahu siapa yang memberikan bunga padanya.


Lalu penjual bunga itu berhenti, ia menyerahkan setangkai bunga mawar putih pada orang itu. Seketika Nadine menutup mulutnya yang hampir saja mengeluarkan sebuah nama dari sosok itu. Ya, Nadine mengenal orang itu. Mengenalnya dengan baik, bahkan amat sangat baik. Bagaimana tidak kenal kalau orang itu adalah suaminya sendiri, Kian.

__ADS_1


***


Hai, Manteman. Mohon maaf baru bisa update. Lagi nyari inspirasi. Happy reading, ya.


__ADS_2