Pelarian

Pelarian
Nempel


__ADS_3

Nempel


Hari ini adalah waktunya Nadine mengisi materi tentang fotografi di kampus tempat Kian mengajar. Ia begitu antusias berbagi sedikit ilmu fotografi yang ia punya.


Sebelum berangkat Nadine mengecek kembali perlengkapan yang akan ia bawa ke acara tersebut. Seperti materi berupa power point juga sedikit properti foto dan tak lupa membawa kamera yang diberikan Kian.


"Mas, ayo kita berangkat" ajak Nadine.


"Acara masih 1 jam lagi, Sayang" kata Kian.


"Mas juga belum mandi, nih" imbuh Kian sembari mencium ketiaknya kanan dan kiri.


"Aku pengin datang lebih cepat, Mas, aku mau mengecek cahaya di sana"


"Cahaya untuk apa?" Kian mengerutkan alisnya. Ia nampak keheranan.


"Udah deh, nanti ikut aja, biar tahu pentingnya cahaya di dunia fotografi" jelas Nadine.


"Ya udah Mas mandi dulu bentar, ya"


"Jangan lama-lama, Mas" Nadine mengingatkan.


"Ada caranya biar Mas cepat selesai mandi, kamu mau tahu, nggak?" Kata Kian sembari tersenyum jahil.


"Apa?"


"Kamu mandiin Mas" Kian nyengir.


"Ya ampuunnn ni oraaanggg, ayo cepet" perintah Nadine yang mulai nampak kesal dengan tingkah Kian yang jahil. Kian segera menghentikan cengirannya lalu bergegas ke kamar mandi.


10 menit berlalu. Kian muncul di depan Nadine dengan memakai kemeja berwarna biru muda dan blue jeans. Tak lupa ia mengenakan sepatu pantofel. Kian senang, karena jadwalnya hari ini hanya mengajar 1 SKS di semester 1. Setelah itu ia bisa menemani Nadine.


"Ayo berangkat, Sayang" Ajak Kian. Tangannya mendarat di puncak kepala Nadine, mengacak sebentar rambut Nadine. Puas mengacak-acak, Kian mengambil ransel Nadine yang berisi sebagian properti yang biasa ia gunakan untuk fotografi. Kian memasukkannya ke dalam bagasi mobil.


Sementara itu, Nadine menuju mobil lalu segera mendaratkan tubuhnya di jok mobil, kemudian memasang seatbelt. Ia lalu merapikan rambutnya yang tadi sempat diacak-acak Kian. Saat merasa sudah rapi, Nadine lalu membuka handphonenya.


"Sabuk pengamannya, sudah?" Tanya Kian. Nadine mengangguk.

__ADS_1


Kian menyalakan mesin mobil. Saat mobil hendak melaju, Kian menyempatkan tangannya untuk mengacak-acak rambut Nadine lagi. Nadine melotot. Ia pun kembali merapikan rambutnya. Kian tersenyum sumringah. Entah dimulai sejak kapan, menjahili istri, jadi hobinya. Besok-besok, kalau ada yang menanyakan hobinya, Kian akan menjawab, menjahili istri.


Tiba di lokasi. Kian mengantarkan Nadine ke ruangan tempat Nadine berbagi ilmunya tentang fotografi. Sementara Nadine mencari cahaya, Kian mempersiapkan slide presentasi, LCD dan proyektor.


Satu persatu peserta datang. Beberapa peserta menyapa Nadine dan ada juga yang mengajak Nadine mengobrol. Kian senang mengamati tingkah istrinya yang nampak girang.


Sebagian besar peserta Kelas Wirausaha untuk Mahasiswa sudah memadati ruangan. Seorang moderator memulai acara tersebut. Dimulai dari menyapa para peserta kemudian mengenalkan Nadine sebagai pengisi materi. Setelah itu, moderator menyerahkan kelas pada Nadine. Nadine pun mengambil alih kelas.


Sementara itu, Kian duduk di bagian belakang kelas. Ia berniat untuk mengikuti kelas Nadine. Tujuannya tentu saja untuk mengenal dunia yang disukai istrinya serta untuk memandangi istrinya yang begitu berbinar-binar saat menyampaikan materi.


"Mas-mas, maaf, agak minggir dikit, saya nggak kelihatan, nih." Pinta Kian pada peserta yang duduk didepannya. Sayang, permintaan Kian tak terpenuhi. Karena peserta itu tak hendak menggeser tempat duduknya sedikitpun. Kian mendengus kesal. Ia hanya bisa berharap semoga peserta yang duduk didepannya dan menghalangi pandangannya menatap Nadine mendapatkan hidayah.


Sebenarnya, sebelum acara dimulai, Kian sudah mengambil posisi paling depan. Sengaja, biar ia puas memandangi Nadine. Sayangnya, Kian diminta pindah oleh panitia untuk duduk di belakang karena acara dikhususkan untuk mahasiswa, bukan dosen.


"Nah, sekarang saya masuk ke materi khusus, yakni Food Photography" kata Nadine.


"Ada dua jenis Food Photography. Pertama, Editorial Food Photography dan Advertorial Food Photography"


"Kita bahas satu-satu, ya, pertama Editorial Food Photography, ini lebih ke food photography suka-suka kita, misalnya untuk kita posting di sosmed, atau blog kita. Ini sifatnya bebas dan lebih natural."


"Yang kedua, Advertorial Food Photography, ini lebih ke Food Photography untuk keperluan iklan yang sifatnya komersial" lanjut Nadine.


"Oke, sebelum kita mulai jeprat jepret makanan, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan. Pertama, kita harus menentukan Konsep Foto yang kita inginkan. Misal, Kita mau mengambil gambar street Food nih, ya, atau gambar masakan yg setting nya di dapur atau meja makan cafe dan semacamnya. Sebisa mungkin properti atau setting tempat, kita usahakan mendukung foto yang akan kita buat. Contohnya, kita mau foto kopi ala ala seperti di cafe saat foto di rumah, maka properti yang mendukung agar seperti tampak di cafe adalah cangkir kopi, pot tanaman kecil, majalah dan sebagainya dengan background dan alas foto yang kita buat agar tampak seperti di cafe." Jelas Nadine.


"Kedua, lighting atau pencahayaan" ucap Nadine. Mendengar kata pencahayaan, Kian mempertajam pendengarannya.


"Lighting untuk Food Photography sedikit berbeda dengan fotografi model. Food photography menggunakan sumber cahaya dari belakang dan dari samping saja. Jika sumber cahaya berasal dari depan, maka makanan akan terlihat flat dan tidak berdimensi" Nadine menunjukkan di slide contoh hasil foto-foto makanan seperti yang ia jelaskan.


"Cahaya dari depan juga dapat menghilangkan tekstur makanan, padahal justru teksturlah yang ingin dimunculkan agar makanan terlihat lezat dan menggiurkan. Dalam membuat foto makanan atau minuman pencahayaan/lighting terbaik yaitu pencahayaan yang berasal dari matahari atau cahaya natural" jelas Nadine lagi. Ia menghela nafas sebentar, lalu mengambil air minum.


"Maaf, saya izin minum dulu, ya"


"Oke, kita lanjut, yak. Nah, pencahayaan alami dari matahari sangat berpengaruh dari waktu atau timing sehingga hasil fotonya dapat berbeda-beda. Jadi perhatikan timing, ya. Untuk ini, kita nanti bisa praktek sama sama, ya"


Kian mengangguk-angguk paham. Pantas saja, waktu awal pindah Nadine memperhatikan setiap jendela di rumah, ternyata ia tengah mengecek pendaran cahaya di setiap jendela.


Kian melihat jam tangannya. Rupanya sudah tiba waktunya mengajar. Kian mempercepat langkahnya, agar perkuliahan segera dimulai dan bisa berakhir tepat pada waktunya. Karena di hari biasanya, Kian bisa lebih dari jam mengajarnya, apalagi kalau ada mahasiswa yang mengajaknya diskusi. Dia senang sekali. Kian senang kalau mahasiswanya komunikatif, berani menyampaikan pendapat, kritis dan berpikiran terbuka.

__ADS_1


Perkuliahan selesai. Kian bergegas menuju ke ruangan dimana Nadine berada. Begitu tiba, Kian mendapati ruangan kosong melompong. Hanya ada beberapa orang yang merupakan panitia pelaksana. Informasi yang Kian dapatkan dari hasil tanya-tanyanya, Nadine mengajak peserta untuk mempraktekkan apa yang sudah Nadine sampaikan di lapangan kampus. Kian meluncur ke sana.


Di halaman kampus, Kian seger bisa menemukan Nadine. Gadis bertubuh tipis itu berada di tengah sekelompok peserta. Ya sepertinya Nadine membagi para peserta ke dalam beberapa kelompok.


Kian lalu menghampiri Nadine. Ia berhasil membuat peserta bergeser dan ia pun berada tepat di dekat Nadine. Hal ini Kian lakukan di setiap kelompok yang dihampiri Nadine. Nadine sadar akan keberadaan Kian. Namun dia memilih fokus pada peserta.


Kelas Nadine pun selesai. Diakhiri dengan sesi foto bersama. Tanpa diminta, tanpa peduli tatapan sewot orang-orang, lagi-lagi, Kian memposisikan dirinya di samping Nadine.


"Ayo, bilang KuKis semuanyaaaaa"


Panitian bagian dokumentasi memberi aba-aba dan diikuti oleh semua modelnya.


Kian dan Nadine sudah berada di mobil. Aura bahagia masih terpancar di wajah Nadine.


"Eh kita pulang atau singgah makan dulu?" Tanya Kian membuka pembicaraan.


"Pulang aja, Mas, aku pengin mandi, gerah dari tadi ada yang nempel aku terus" kata Nadine sembari melirik Kian.


"Hehe...kirain, kamu nggak tahu" Kian nyengir.


"Lihat kamu bahagia, bersemangat gitu, bikin Mas pengin deket-deket kamu"


"Tapi jangan gitu juga, Mas, aku kan malu" Nadine mencebik.


"Kalau kita lagi berdua an, berarti kamu nggak malu kalau mas dekat-dekat kamu?" Kian memanfaatkan peluang sebaik mungkin untuk menggoda Nadine. Syukur-syukur jika umpannya membuahkan hasil.


"Enggg..." Nadine seketika dilanda kebingungan mencari jawaban Kian.


"Gini, nanti malam, kita coba ya" usul Kian. Nadine bergeming. Bagi Kian, diamnya Nadine pertanda setuju. Lalu, senyum Kian terukir begitu lebar menunjukkan kemenangan.


Kian lalu melajukan mobilnya. Kali ini dengan kecepatan di atas standart. Kian tak sabar ingin mewujudkan usul yang ia ajukan ke Nadine tadi.


Tanp mereka tahu, ada sepasang mata yang menatap mereka penuh kebencian. Pemilik mata itu berjanji akan membuat mereka merasakan apa yang ia rasakan.


***


Hai, Gaes.

__ADS_1


Happy reading, happy week end, and always happy for all of you, Gaes. aamiin. 😊


__ADS_2