
"Maaf, aku tidak mau membatalkan pertunangan ini," tolak Kian. Matanya lurus menatap pemandangan didepannya.
"Aku tidak menyukaimu, kamu tahu itu bukan?" tanya Nadine. Kian mengangguk.
"Bahkan aku membencimu," Nadine memperjelas.
"Aku tahu,"
"Baguslah kalau seperti itu, lalu kenapa kamu masih melamarku, dan tidak mau membatalkan pertunangan?"
"Aku cinta sama kamu, Nad" Kian mengungkapkan isi hatinya yang ternyata hanya dianggap angin lalu oleh Nadine. Nadine malah tersenyum sinis.
"Cinta? Huh" Nadine mendengus.
"Berpikirlah realistis, pernikahan tanpa rasa saling cinta tidak akan membawa bahagia bahtera rumah tangga, yang ada malah sama-sama menyakiti diri sendiri," kata Nadine.
"Aku akan membuatmu bahagia, Nad, aku tidak akan membuatmu tersakiti," kata Kian.
"Yang kamu lakukan ini sudah menyakitiku," jawab Nadine ketus. Kian mengusap wajahnya. Ia lalu menghela nafas. Ia mencoba mengatur emosinya yang mulai terpancing dengan ucapan-ucapan Nadine. Kian memilih untuk pergi meninggalkan Nadine.
Kian memang sudah menduga, bahwa Nadine pasti akan menolaknya. Namun yang tidak ia sangka, penolakan Nadine begitu frontal.
__ADS_1
Kian masih ingat, saat ayah Nadine menelfonnya. Ya, kebiasaan Kian yang sering mengunjungi orangtua Nadine tanpa sepengetahuan Nadine, membuatnya menjadi dekat dengan orangtua dan adik Nadine. Saat itu, Beliau menanyakan keseriusannya pada Nadine. Tentu, Kian dengan yakin menjawab bahwa ia serius dengan Nadine dan ingin menikahi gadis itu. Tak disangka, ayah Nadine meminta Kian untuk membuktikan keseriusannya dengan cara melamar Nadine di esok pagi. Ayah Nadine mengatakan, Jika tidak melamar besok, maka ayah Nadine akan menjodohkan Nadine pada orang lain.
Deg.
Kian tidak menghendaki hal itu terjadi. Maka ia pun mengiyakan keinginan ayah Nadine. Ia tidak memikirkan lagi bagaimana perasaan Nadine terhadapnya. Ia paham resiko melamar hingga menikahi gadis yang tidak mencintainya. Ia berjanji, setelah ijab qobul, setelah kata sah terdengar, ia akan berusaha sekuat tenaga untuk membuat Nadine mencintainya.
Kian bersyukur dikelilingi oleh keluarga yang begitu mendukung apapun keputusannya. Tanpa banyak bicara, keluarga Kian segera mempersiapkan kebutuhan lamaran secepat kilat. Berkat keluarganya, acara lamaran pun akhirnya terlaksana dengan baik.
Kian memilih duduk diantara keluarga Nadine dan keluarganya. Mereka saling bertukar cerita. Suasana tersebut menunjukkan keakraban dua keluarga. Kian senang mendapati hal ini. Melihat suasana hangat ini, hati Kian berdesir. Ia senang sekali melihat dua keluarga nampak bahagia. Ia pun seketika lupa akan permintaan Nadine yang ingin membatalkan pertunangan mereka.
Sementara itu, Nadine masih duduk di tempatnya semula. Ia memikirkan pernikahan macam apa yang akan ia jalani kelak. Pernikahan yang dilingkupi rasa tidak suka pada suami, akankah berbuah bahagia? Atau hanya membuatnya sengsara?
"Boleh tante, sini" ujar Nadine. Mama Kian duduk di sebelah Nadine.
"Besok kamu luangkan waktu ya, kita akan fitting baju pernikahan kamu dan Kian" ungkap mama Kian. Semburat rasa terkejut nampak di wajah Nadine.
'Secepat itu" Batin Nadine.
"Kian jemput kamu besok ya, kita cicil keperluan nikah kalian, biar acaranya nanti berjalan lancar tanpa kurang suatu apapun" lanjut Mama Kian. Nadine mengangguk.
"Tante senang, karena kamu menerima lamaran Kian. Kamu tahu? Dari kemarin dia sudah nervous banget lho, dia nggak sabar ketemu kamu, kangen katanya" Mama Kian tersenyum ramah. Begitu juga dengan Nadine. Senyuman mama Kian menular padanya.
__ADS_1
"Kian sayang banget sama kamu, dia sering cerita tentang kamu, dia bangga karena suka dengan wanita yang berhati baik, yang suka berbagi sama anak jalanan, sama anak anak yatim piatu" mama Kian menggamit tangan Nadine. Lalu menepuk-nepuknya pelan.
"Bagi Tante, kebahagiaan Kian segalanya, dia sudah banyak berkorban untuk keluarga, sejak remaja ia sudah mengambil alih tugas papanya yang meninggal karena kecelakaan kerja untuk menafkahi keluarga, ia bekerja keras banting tulang sambil sekolah."
"Nak, Tante tahu, kamu..." Mama Kian menggantungkan kalimatnya. Ia menghela nafas, sebentar. Sekali, dua kali jelas nafas.
"Tante tahu kamu tidak cinta dengan Kian, tapi Tante harap kamu mau membuka hatimu untuk Kian"
***
Hai Readers juga Authors,
terima kasih banyak sudah berkunjung ke karyaku yang masih jauh dari kata sempurna ini.
Mohon berikan like dan komen kalian yak, beri rate juga boleh, apalagi beri vote, beuugghh, makin senang sekali pastinya.
Atas bantuannya, aku ucapkan terima kasih banyak untuk teman-teman Readers juga Authors .
Love love
dari Novel PELARIAN 😊
__ADS_1