Pelarian

Pelarian
Cari Pahala yang Terasa Enak dan Menyenangkan


__ADS_3

"Mas cuci piring dulu, kamu bersiaplah, setelah ini mas akan meminta kamu memenuhi syarat yang Mas ajukan"


Berkali-kali kalimat itu terngiang di telinga Nadine. Bagaimana bisa keinginannya untuk pergi malah berujung pada keharusan melakukan hubungan suami istri dengan Kian.


"Gimana ini?" Kata Nadine.


Ia bingung bukan kepalang. Bagaimana caranya agar ia bisa tetap pergi tanpa harus melakukan hubungan suami istri terlebih dahulu dengan Kian.


Memang Nadine ingin pergi dari pernikahannya, mertuanya, dan juga keluarganya. Ia begitu ingin keluar dari kehidupannya saat ini. Ia ingin bebas sebebas bebasnya bebas tanpa ada yang memaksakan kehendak lagi kepadanya seperti yang dilakukan ayahnya. Ia ingin hidup bahagia tanpa dilingkupi oleh pria yang tidak ia cinta. Dan Ia ingin terlepas dari rasa bersalah terhadap mertuanya. Nadine lelah dan ingin berlari saja.


Masalah-masalah yang ia hadapi kali ini, baginya, tak lagi cukup hanya dengan mencari pelarian. Solusi satu-satunya, menurut Nadine, adalah dengan berlari sejauh mungkin. Tapi ini tidak bisa dilakukan, karena Nadine sadar, Kian sudah paham bahwa ia ingin lari dari pernikahannya.


"Duh..." Nadine menggigit bibirnya. Haruskah ia menuruti persyaratan Kian agar bisa pergi.


"Melakukan hubungan suami istri dengan orang yang tidak aku cintai? Gimana? Nggak bisa, aku nggak bisa" batin Nadine.


Nadine mulai panik, saat mendengar derap langkah yang semakin terdengar jelas saja ditelinganya. Buru-buru ia mematikan lampu kamar, dan memakai selimut sampai ke area kepalanya. Ia memilih untuk pura-pura tidur.


Kian menyunggingkan senyum saat matanya menangkap cahaya lampu kamar yang padam. Kian menganggap itu sebagai sinyal dari Nadine yang tidak ingin membicarakan perihal syarat yang harus ia penuhi sebelum pergi. Sedikit lega di hati Kian, karena paling tidak, Nadine tidak akan jadi pergi sampai berhari-hari. Dengan begini Kian bisa melancarkan misinya untuk membuat Nadine jatuh cinta padanya.


Perlahan, Kian membuka pintu kamar. Ia kondisikan kamar yang tadinya gelap gulita menjadi sendu temaran. Kian lalu merebahkan tubuhnya. Tak ada guling yang menjadi batas teritorial mereka.


"Ya ampun lupa bikin batas" batin Nadine.


"Gimana kalau Mas Kian merapat" pikir Nadine.


"Ah kalau tu orang tiba-tiba merapat atau peluk-peluk aku, aku mau pura-pura nendang dia, atau dorong dia, gitu ajalah" lanjut Nadine. Ia gugup bukan main. Gugup campur takut kalau Kian benar-benar mengajaknya berhubungan suami istri. Ia benar-benar tidak ingin melakukan hal tersebut dengan Kian. Nadine ingin melakukannya dengan orang yang ia cintai dan mencintainya. Tiba-tiba Nadine menjadi psikis saat memikirkan hal itu. Ia merasa harus menunggu bercerai dulu dengan Kian, mungkin baru ada peluang baginya untuk bisa merasakan apa yang ia inginkan.


"Tapi tapi, bukannya...." Nadine memejamkan matanya kuat-kuat saat ia mengingat kalau ia pernah terbangun dengan memeluk Kian begitu erat. Kian sempat mengatakan kalau Nadine yang berinisiatif memeluk Kian. Mengingat itu, Nadine rasanya malu campur khawatir juga. Khawatir Kian berpikir gini, "sok-sok an jaim padahal beringas juga" Nadine bermonolog.

__ADS_1


Tiba-tiba, Nadine merasakan gerakan di tempat tidur. Kemudian ia mendengar suara langkah kaki dan terakhir suara pintu kamar tertutup. Nadine menoleh ke sisi kirinya. Kosong. Kian keluar kamar. Seketika Nadine lega. Kian tak jadi meminta jatah dan dia juga tidak perlu menahan diri untuk tidak bertingkah saat tidur. Bebas. Mau pakai gaya tidur kayang, balet, atau absurd, bebas.


Kian menuju dapur, lalu membuat kopi hitam favoritnya. Kemudian ia membawa kopi yang sudah jadi tersebut ke ruang kerja. Ia nyalakan laptop kemudian mengambil buku di rak buku. Beberapa menit kemudian, Kian sudah tenggelam ke dalam aktivitasnya.


***


Subuh tiba, Nadine melaksanakan ibadah, ngaji sebentar, lalu kembali tidur. Tadi malam, setelah memastikan Kian tidak kembali lagi ke kamar, Nadine malah tidak bisa tidur alias kancilen. Ia pun memilih untuk menonton drama korea. Walhasil saat sudah beribadah, ia diserang kantuk luar biasa.


Sementara itu, Kian yang tidur di ruang kerja, baru mengerjapkan matanya. Ia perlahan, hendak masuk ke kamar, namun ia urung lakukan. Ia memilih menuju kamar mandi luar saja. Kemudian ia melakukan ritual sebagaimana biasa, mandi, biar segar katanya. Ibadah subuh ia laksanakan. Setelah itu, Kian melakukan olahraga ringan.


Selesai berolahraga, Kian menuju area dapur. Perutnya yang mulai lapar, membuatnya bersemangat untuk membuat sarapan untuk dirinya juga istrinya.


Ah iya, Kian sempat lupa kalau ia sudah memiliki istri dan sekarang tengah berada di kamarnya. Sontak hati Kian menghangat saat menyadari fakta ini.


Kian bergegas membuat mie goreng Jawa untuk sarapan. Ia tambah kuah, biar jadi mie goreng jawa nyemek. Kian mencium bau piring yang sudah berisi mie goreng, seketika bau harum menggugah selera merangsek masuk ke Indra penciumannya.


Ia letakkan menu sarapan di atas meja mini bar. Lalu ia beranjak menuju kamar untuk membangunkan istrinya tersayang.


Tak ada respon dari Nadine. Kian beralih cara lain membangunkan Nadine yakni dengan menggelitik telapak kakinya. Berhasil. Nadine bangun.


"Ayo sarapan dulu, mas bikin makanan favorit kamu, ayo, mas tunggu ya" Kian lalu meninggalkan Nadine yang masih mengumpulkan nyawa.


Setelah kesadaran terkumpul, Nadine merapikan rambutnya. Lalu ia keluar kamar menghampiri Kian.


Di sana, di meja mini bar, hanya terdengar suara denting piring dan sendok yang beradu. Diam-diam sembari mengunyah, Kian menatap Nadine. Seutas senyum terbingkai diwajahnya setiap selesai menatap Nadine. Hatinya membuncah rasa syukur pada-Nya. Karena sudah mewujudkan harapnya untuk menikah dengan wanita yang amat ia cinta.


"Oh ya, Sayang, gimana? kamu jadi pergi selama 2 Minggu itu?" Tanya Kian yang sontak membuat Nadine menjatuhkan piring yang sedang ia cuci. Untungnya hanya jatuh di westafel, bukan di lantai.


"Nggak jadi, aku nggak ambil" jawab Nadine ketus.

__ADS_1


"Ambil ajalah, sayang, trus nanti malam kita bisa 'cari pahala'" kata Kian penuh tekanan di kata-kata Cari Pahala.


"Apa an, sih, Mas" respon Nadine dengan ekspresi wajah cemberut. Melihat itu, Kian tertawa lebar. Segitu takutnya Nadine diajak ibadah menyenangkan.


"Oke, oke, kalau gitu gimana kalau kamu ngisi materi fotografi di kelas wirausaha mahasiswa di tempat mas ngajar, kamu mau nggak?" Tanya Kian setelah selesai makan dan menunggui Nadine mencuci piring.


"Kapan?"


"Besok ya"


"Ya" jawab Nadine singkat.


"Ya sudah, mas berangkat kerja dulu ya, Honey, baik-baik di rumah, kalau mau keluar rumah dan lama, kasih tahu Mas, ya" pinta Kian. Nadine mengangguk.


***


Hai, Readers.


Makasih banyak sudah berkunjung ke sini. Mohon bantuan like, komen, dan rate-nya yak. Kalau berkenan, nge-vote juga boleh, senang sekali.


Buat Authors,


makasih juga kunjungannya yak.


please, tinggalkan jejak agar aku bisa mengunjungimu kembali.


salam terlove,


dari aku.

__ADS_1


😊


__ADS_2