Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Tetua Sekte Aliran Hitam


__ADS_3

"aku dari Kingsan, saat ini hanya berkelana" ucap Chuan sambil menunjukkan tanda pengenalnya.


"ohh, kenapa beberapa bulan ini banyak pemuda kota yang kemari" guman orang tua tersebut, meskipun pelan masih didengar oleh Chuan.


"namaku Chuan" ucap Chuan memperkenalkan diri.


"aku Juan, pemilik penginapan tua ini" balasnya.


"tarip semalam berapa, paman" tanya chuan.


"lima keping perak, dapat makan malam dan arak" ucapnya.


"baiklah" ucap chuan sambil memberi 1koin emas. Terlihat Paman Juan sedikit bingung menerima koin dari Chuan


"ini terlalu banyak" ucapnya.


"paman simpan dulu sebab suatu hari aku mampir kesini dengan banyak teman" ucap Chuan.


"adakah pemuda kota yang kedesa ini paman" tanya chuan.


"ada, dan jumlah pastinya tidak tahu, namun mereka sering minum dikedai arak tak jauh dari sini" jawabnya sambil menunjukkan gambaran tempat itu.


Bahkan juga memberitahukan letak rumah yang ditinggali mereka.


"biarkan saja, mungkin sedang ada bisnis disini" ucap Chuan santai seakan mengabaikan keberadaan mereka.


"iya ya, ngapain mikirin mereka" balasnya.


"mana kamar untukku" lanjut Chuan.


"oh, sampai lupa" ucap Juan lalu mengajak Chuan menuju kamarnya.


"aku terlalu lelah, mohon jangan ganggu tidurku" ucap chuan setelah sampai dikamarnya.

__ADS_1


"baiklah, nanti makan malamnya diruang depan" balasnya.


"terimakasih" ucap chuan lalu menutup pintu dan menguncinya.


Melihat situasi dalam kamar, hanya lewat atap yang menurutnya aman untuk menyelinap. Setelah berpikir sejenak, dengan hati hati dia lalu menyelinap keluar. Melesat menuju rumah yang diberitahukan pemilik penginapan.


Meskipun malam belumlah larut dengan ilmu bayangan, dengan mudah dia menyembunyikan keberadaannya. Terlihat sepi diluar namun saat diatap rumah sederhana yang cukup luas, chuan melihat banyak orang yang sedang bersantai.


Dua orang pendekar bumi yang lain tahap mahir dan menengah, terlihat tahapan mereka oleh Chuan.


"sudah sebulan kita disini, tapi tak ada kabar dari tetua" "bukan kabarnya, tapi dana kita hampir habis"


"tunggu saja nanti malam atau besok pasti ada kiriman lagi"


"seharusnya malam ini" terdengar obrolan mereka.


"Chuan coba kau pergi ke arah Kingsan" ucap Patriak Lion. Dengan hati hati chuan melesat dari atap rumah tersebut.


"ada apa" tanya pendekar bumi satunya.


"makanya jangan mabuk saja, sepertinya ada yang mematai kita" ucapnya kesal karena kehilangan jejak.


"hampir saja kau membuat kekacauan" ucap Patriak Lion. "pakai penutup wajahmu" lanjutnya.


"maaf lupa guru" jawabnya sambil terus melesat.


Terdengar kuda dipacu dikejauhan, sepertinya masih jauh diluar desa.


"langsung lumpuhkan dan lepaskan kudanya" ucap patriak lion.


"baik guru" ucap Chuan semakin cepat dia melesat.


Saat hampir dekat dengan dua penunggang kuda yang berpakaian murid sekte utama, Chuan menyerangnya tanpa peringatan.

__ADS_1


"bugk" keduanya jatuh setelah totokan Chuan mendarat ditubuh mereka.


"siapa kau, berani menyerang murid tetua dua dari sekte utama" geram salah satu pemuda tersebut.


Chuan hanya mengacuhkan pertanyaan itu. Dia terus menggeledah keduanya, dan menemukan empat kantong penyimpanan. Terdapat ratusan koin emas ditiap kantong dan dua cincin dimensi disalah satu kantong tersebut.


"apa ini" ucap Chuan sambil menunjukkan cincin dimensi itu.


"itu hadiah buat dua tetua didesa siagon"


"kalau tidak dikembalikan, kau pasti akan dikejar mereka" ucap mereka.


"segel dentian mereka dengan ilmu memecah ombak" ucap Patriak Lion.


"aku pendekar hitam, pulanglah keorang tua kalian dan jadilah anak yang baik" ucap Chuan.


"awas kau bang***" teriak pemuda yang lebih besar.


"desh, desh" terdengar dua pukulan mendarat disekitar pusar mereka. Rasa sakit yang tak tertahan membuat mereka menegang dalam ketakutan.


"ampuni nyawa kami pendekar" ucap pemuda lainnya ketakutan.


"apa tujuan kalian ke siagon" tanya Chuan.


"itu jatah buat teman kami, dan cincin itu untuk dua tetua" jawabnya.


"siapa dua tetua itu" tanya Chuan.


"dari sekte aliran hitam tapi kami tidak tahu namanya" ucapnya sambil ketakutan.


Chuan menyuruh keduanya naik kuda masing masing.


"pergilah, jika bertemu kalian lagi, aku 'pendekar hitam' tak segan untuk membunuh" ucap chuan sambil menepuk kedua kuda itu.

__ADS_1


__ADS_2